Pages

Tuesday, February 12, 2013

Drawing: Khoo


Listening to: Suburban Kids With Biblical Names - Funeral Face


Having posted Rhoo, I managed to work on another drawing. The process was still the same, yet this time I did not have to spend much hours for polishing the colors. Previously, I had several errors while coloring my drawing with the computer. I had a problem with the gradation coloring technique and how it failed to fill the entire shape of my drawing. As a result, I needed to fix the "untouched" part and made it perfectly done (in my version, of course).

So, here, let me introduce you my new character. His name is Khoo and he is (still) one of the odd characters I have made for the last two years. Yes, the family is getting bigger! :)

See you on the next post!

Steven Harrington replied my post on Instagram and how I made "Rhoo"

Hi, my name is Rhoo!


Listening to: M├║m - Hullaballabal├║

I once posted a photo on Instagram; showing some pictures of artworks made by Steven Harrington, my favorite illustrator, on IdN Magazine: The Geometric Issue published in 2009. I did it without any specific reason, I just happened to love his artworks and wanted to appreciate it. I also did not expect that he would reply my post when I mentioned his Instagram account. I just wanted to let him know, that was it.

Yet, something surprised me two days later. Steven gave me a reply! He simply wrote "Xo" and appreciated it by liking my post. I was so goddamn happy! *yeah* I know that it might sound silly, but I weirdly felt that someone out there, in L.A, had recognized me and he was Steven Harrington, whose works have always become my inspirations. 

In the era of social media-boom, when you get excited, you will definitely share it to others through Facebook, Twitter, Tumblr, Instagram, or others. Am I right? And I did it all the same. I tweeted about the good news, about Steven replied my post on Instagram, and one of my blog friends, Onny, replied my "shared-happiness tweet". He encouraged me to draw again, which I had been neglecting for months (or years? LOL). I thought about it for a while; thinking that Onny might be true. My desire to draw had almost faded out since I had been focusing my life on studying well, achieving better results in college, and graduating soon these past three years. That time, I realized that I missed my long-lost interest: in drawing; to be clear. 

Therefore I managed to take my sketchbook which I had put on the drawer beneath my bed for a long time and started to draw. At first I was feeling that my fingers were stiffed; for it had been used as my own device to write (or type) an analysis of a novel, poem, or cultural facts which I do it for college rather than to draw. I failed on making great lines with my drawing pens and it was like a disaster to me. Anyone who has known me for years would certainly get it: yes, I am a neat-line freak (do not mind it, that is how I call it. LOL). So, I flipped through a new page and worked on a new drawing, which was much simpler than I used to do.

Having finished drawing, I went to the computer room at my house and got my drawing scanned. The process took me almost three hours to finish the final part; adding color to my drawing. I know that an amateur like me do not have to blurt a confession on such process while the professional ones are totally relaxed and maybe, getting used to it. But me? I do not really care, I just want to share my story.

Finally, I got it worked for me. The final drawing might be simple in the form of artwork but the story behind it was something that I thought was worth to share. How the desire and the will to draw had penetrated every single cells of my body until I could finally made one and gave it a name: "Rhoo". The name actually meant nothing, I just came up with such an idea. If you are the loyal readers of my blog (do I have any? LOL), you will notice that I plan (it is really an old plan and I have not made it yet) to write a story about these odd creatures I have been making as my drawings for years. Maybe someday I will give more "life" and more "touches" to Rain-boo, Father Takana, Pockeeta, Kielv, Joule & Magnoom, Cherrie, Agloma, and Hiberta.

So hopefully my plans will turn out into actions. Thank you for reading and have a nice day! :)


Regards,

Kiza

Saturday, February 2, 2013

Trip: Australia - Sydney, Brisbane, Gold Coast & Melbourne (Desember 2012)

Halo! Saya balik lagi dengan cerita liburan karena saya sedang liburan dan punya banyak waktu saat liburan (banyak yah kata liburannya, hehe).

Lalu, apa kabar liburan kamu? Udah ngapain dan kemana aja? :)

Oke, kalo ngeliat judulnya, it's obvious kalo liburan kali ini saya dan keluarga berkesempatan ke Australia; benua dan negara yang tajir ini. Disana saya mengunjungi 4 kota utama dalam 9 hari, yaitu Sydney, Brisbane, Gold Coast, dan Melbourne. Eh, tapi tunggu deh. Kenapa sih judulnya mesti ada tanda baca aneh-aneh kayak gitu?

Well, disitulah inti cerita saya. Judul "[(h)Aus]tralia!" saya pilih karena liburan kali ini literally and figuratively, bikin saya haus melulu. Entah haus yang emang bener-bener pengen minum (literally meaning), ato figuratively, 'haus'... klasik sih, pengalaman. Haus pengen jalan ke sini, ke situ, pengen belanja ini, pengen belanja itu, pengen ketemu ini, itu.. macem-macem lah! Rakus yah? Hehe, namanya juga liburan. Apa yang kita liat, apa yang kita rasain, seakan-akan jadi hal baru buat panca indera kita. Semuanya mendadak jadi 'kinclong' dan 'menggelitik'. Ya, saya mau itu!

***

Selama berkunjung ke Australia, inilah 10 hal yang paling memorable menurut saya. Selamat membaca dan sampe ketemu di postingan selanjutnya! :)

#1. "GIMANA KALO KE AUSTRALIA?"
Ide untuk liburan ke Australia sebenernya cukup spontan. Saya sendiri sejujurnya gak expect kalo bakal berlibur ke luar negeri, karena sebagai anak, saya ya sungkan dong minta-minta liburan dengan harga yang gak murah. Saya pun memutuskan buat santai aja menjelang liburan (lagian waktu itu juga lagi on fire ngerjain UAS, jadinya gak terlalu mikirin deh. Cieh). Sampai di suatu malem Papa nyeletuk, "Liburan ke Aussie yok." Wow, saya cukup kaget. Di pikiran saya, Papa nggak berencana ngajakin keluarganya liburan ke luar negeri dalam waktu dekat (setaun) setelah pergi umroh kemaren. But, it happened. Beliau bilang kalo kelak saya mau sekolah di Australia, saya udah tau keadaan negara itu gimana. Oh, saya jadi terharu. Langsung deh diskusi kecil antar anggota dalam keluarga dilaksanakan dan keputusannya, ya, kami akan pergi ke Australia untuk liburan! *Wohooo*

#2. JADI BERANGKAT ATO ENGGAK SIH?
Untuk liburan kali ini, saya dan keluarga memutuskan untuk bergabung dengan agen tur. Otomatis ada plus minusnya dong. Plusnya, udah jelas kalo kami gak perlu ribet-ribet lagi buat akomodasinya. Semua udah dipersiapkan oleh agen tur, mulai dari itinerary, tempat nginep, transportasi, konsumsi, sampe urus-urusan visa. Kalo minusnya, kita sebagai anggota tour kelihatannya berposisi sebagai pihak yang pasif; dimana kita tinggal menerima hasil 'jadi' dari agen tour. Tapi, kemarin saya dan Papa sempat uring-uringan karena si agen tour ini tiba-tiba doyan menebar janji manis. Misalnya, waktu itu Papa saya minta dikirimkan list dokumen yang diperlukan untuk keperluan pembuatan visa. Si agen bilang, "Oke, Pak. Besok saya kirimkan ke e-mail mbak Felkiza." Pas besoknya, saya tunggu-tunggu di e-mail saya kok belum masuk. Saya coba bersabar sampai nunggu besok, besoknya lagi, akhirnya beberapa hari kemudian saya e-mail tapi tidak direspon. Wah ada yang salah nih! Akhirnya Papa saya juga mulai ilang kesabaran dan ditelpon lah si agen tour tersebut untuk menagih janji. Setelah ini-itu, akhirnya si pihak agen tour meminta maaf dan bersedia mengirimkan list secepatnya. Kejadian tersebut gak cuma sekali, tetapi di kemudian hari ternyata kami harus 'cawil-cawil' si agen tersebut buat menerima proses yang cepat.

Oya, nggak hanya ini aja, ternyata setelah visa kami keluar dari kedutaan, kami dihadapkan dengan masalah baru. Tiba-tiba agen tour bilang kami gak bisa berangkat! Oh, tidak. Ada apa lagi nih? Ternyata jumlah peserta tour tidak mencukupi untuk keberangkatan. Si agen tour bilang kalo visa salah satu peserta ditolak karena ada masalah dalam status keluarganya. Saya pun akhirnya pasrah, Papa pun yang gusar juga mau gimana lagi. Pokoknya kalo digambarkan kondisi saat itu, kami bener-bener terima apa adanya deh. Udah capek sama agen tour satu ini yang kudu 'diroyok' dulu sebelum kasih servis. Tapi akhirnya keadaan berkata lain, si agen tour berbaik hati dengan mentransferkan kami ke agen tour lain, yang akan berangkat ke Australia. Kami pun setuju setelah proses komunikasi yang cukup melelahkan dan.... here we are, kami bisa berangkat!

#3. TIBA DI SYDNEY DENGAN 'KUMUS-KUMUS'.
Saya dan keluarga berangkat di hari Natal, 25 Desember 2012 sore hari, dan menempuh perjalanan udara dengan sekali transit di Denpasar untuk menuju ke Sydney. Keberangkatan kali ini gak terlalu melelahkan seperti saat ke Arab Saudi, dimana saya sempet gak enak badan didalem pesawat dan harus berlama-lama diatas langit. Namun, kali ini saya harus menahan 'gerah' karena ternyata agen tour tidak menyediakan waktu untuk bersih-bersih ketika kami tiba di Sydney besok harinya. Untungnya, suhu udara di Sydney saat itu cukup dingin walopun lagi musim panas, jadi kami nggak perlu keringetan dan tambah bau. Hehe.

#4. OMA-OMA YANG SEMANGAT.
Ada yang menarik dari profil anggota tour kali ini, yaitu kehadiran empat oma independen berusia 60-70 tahun. Tanpa ditemani keluarga dekat; walopun beberapa dari mereka mengaku masih ada hubungan saudara. Ngelihat fakta ini, para anggota tour lainnya tentu terkagum-kagum; khususnya saya dan Papa. Rasanya seneng melihat mereka berempat ini sangat semangat, walopun itinerary kami bisa dibilang cukup padat. Bisa saya bilang mereka nggak pernah mengeluh capek didepan tour leader. Mereka selalu menyetujui apa yang direncanakan si tour leader dan mengikutinya dengan baik.

Papa berasumsi bahwa sewaktu muda, para oma tersebut bekerja sangat giat, mengumpulkan uang, lalu ketika tua, mereka pergi berlibur dengan uang yang telah dikumpulkan bertahun-tahun tersebut. Menurut saya itu masuk akal juga dilihat dari status pekerjaan mereka. Ada yang pensiunan guru di sekolah swasta, ada juga yang merupakan pengusaha tissue yang tidak menikah. Menarik ya?

#5. TUMBLR BOYS/GIRLS DETECTED!
Saya jadi punya keasyikan sendiri saat di Australia, yaitu mendeteksi keberadaan para Tumblr boys/girls dengan segala ciri khasnya (menurut pengamatan saya). Untuk yang cewek, rambut ombre yang (kelihatannya) diwarnai dengan pastel chalk, eyeliner hitam tebal, piercing, tato, dress bergaya vintage, crop top dengan gambar salib ato tengkorak, short pants, tas sling bag berukuran mini, dan sepatu Converse hi-top ato Vans authentic hitam. Untuk yang cowok biasanya dengan kaos junkies, celana skinny, sepatu Converse/Vans (kebanyakan Vans sih), dan kacamata frame tebal. Jadi pengen ngefoto mereka deh (tapi nggak punya nyali. haha).

#5. JANGAN TAKUT GENDONG KOALA!
Fakta menarik lainnya adalah tentang koala yang (ternyata) 'perasa'. Jangan merasa takut atau ragu-ragu saat akan menggendong koala, karena binatang imut ini bisa merasakannya dan menolak untuk digendong setelah itu. Saya melihat kebenaran ini saat berada di Dreamworld, sebuah theme park yang berlokasi di Gold Coast, lebih tepatnya di bagian Australian Wildlife Experience. Saat itu para anggota tour diberi kesempatan berfoto dengan koala dengan biaya sebesar $ 27,95 sampai $ 59,95 (currency dollar Australia). Disana saya melihat salah satu pengunjung yang 'ditolak' koala karena merasa ragu-ragu saat akan memegangnya. Oh well, lucu sekali ya binatang ini!

#6. GAK BERANI....
Dasar penakut. Selama mengunjungi dua theme park yang sangat awesome, yaitu Warner Bros Movie World dan Dreamworld, saya memutuskan nggak naik wahana menegangkan karena takut. Padahal waktu itu adek saya yang masih kelas 4 SD berani lho nyobain roller coaster yang curam. Tapi gimana, saya udah mikir yang enggak-enggak dulu; seperti "Gimana kalo saya jantungan terus pingsan? Gimana kalo saya muntah-muntah?". Hahaha nggak banget ya. Akhirnya sesampe di Indonesia saya jadi nyesel, pengalaman nggak dateng 2 kali dan saya harus mencobanya di lain waktu!

#7. GIMANA NIH KALO MAU PUP?
Salah satu yang bikin repot ketika harus berkunjung ke luar negeri adalah menyesuaikan dengan sistem negeri tersebut. Misalnya, sistem kebersihan di dalam toilet. Dasar orang Indonesia yang dimanjakan oleh keberadaan air, selama 9 hari saya harus bersabar dan terbiasa menggunakan tissue untuk kebersihan badan setelah pipis maupun pup. Ngerasa jijik sih, tapi gimana lagi. Toh ketidakberadaan air ini ternyata jadi sesuatu yang positif juga, seperti toilet yang bersih, kering, nyaman, dan wangi. Gak seperti yang biasa kita temuin di tempat publik di Indonesia. Tau sendiri lah kayak gimana. Kadang kita harus bersabar dengan 'jejak-jejak' orang lain yang tertinggal di permukaan kloset ataupun tumpukan tissue kotor (kadang bewarna putih, kadang... yes, "merah". ih!) di tempat sampah. Okay....

#8. ALL THOSE GIRLS IN TANK TOP/MINI DRESS IN COLD WEATHER LIKE THIS.. #shitIndonesiansays #itsactuallysummer
Culture shock gak berenti-berentinya 'menggelitik' saya sebagai turis di Australia. Usai beradaptasi dengan seberapa pentingnya tissue didalam toilet, saya harus terbiasa dengan suhu 20an derajat celcius yang dirasa udah cukup 'anget' disana. Saya cukup tertegun ngeliat para bule dengan nyamannya memakai tank top, tube dress, celana pendek, mini dress di udara yang dingin seperti itu. Ya iyalah, namanya juga lagi musim panas. Saatnya pake baju-baju dengan bahan tipis atau potongan minimalis kan? In contrast, disana saya sering menggigil dan menyesal kenapa gak bawa jaket yang lebih tebel. Duh, jadi kangen panasnya Surabaya nih.

#9. BELANJA APA YA?
Nggak dipungkiri lagi kalo belanja itu udah jadi kebutuhan. Kalo tiba-tiba telor abis, langsung belanja ke pasar buat ngisi stok baru. Kalo tiba-tiba kopi abis, langsung aja cari toko ato supermarket terdekat. Lha kalo baju abis? Haha nggak mungkin. Yang ada baju kurang, baik yang bener-bener kurang maupun yang dikurang-kurangin. Seperti pengalaman kemaren nih, kebetulan di itinerary tur, para anggota tour diberi kesempatan shopping beberapa kali di tempat berbeda. Misalnya di Paddy's Market (Sydney), Queen Victoria Building Mall (Sydney), dan Harbour Town Factory Outlet (Brisbane). Di kala para anggota tour lain sibuk menabur uang di tenant-tenant merek fashion terkenal macem GAP, GUESS, COACH, dan sebagainya, saya dan keluarga memilih untuk lebih fokus cari souvenir Australia. Selain berhemat, dimana lagi coba belinya kalo nggak di Australia sendiri? Tapii.. bukan berarti kalo udah libur ke luar negeri, belanja barang fesyen dengan merk terkenal (yang kadang udah ada di negeri sendiri) itu gak perlu. Saya dan keluarga juga sempet kok beli-beli disana karena 'tergoda' dengan keindahan barangnya *cie*. Kapan lagi gitu 'kan.

#10. OH, SOVEREIGN HILL!
Tempat-tempat yang amazing selama di Australia menurut saya banyak, tetapi saya bener-bener jatuh cinta sama Sovereign Hill, sebuah open-air museum di Gold Point, a suburb of Ballarat, Victoria, Australia, yang menggambarkan kondisi ladang emas setelah 10 tahun penemuan pertamanya (1851) di Ballarat. Ketika masuk pertama kali, rasanya saya pingin loncat (tapi nggak bisa karena berada diatas pasir naik turun nan licin) karena terkesima dengan keunikannya. Didalem Sovereign Hill, semua yang berada disana bener-bener dirancang seperti keadaan di abad 18; mulai dari bangunan sampai para staffnya. Yang paling saya sukai tentunya gaya arsitektur bangunan-bangunannya yang tiba-tiba bikin saya berada di sebuah film koboi. Haha, menarik ya? Pokoknya kalo kalian suka dengan sejarah atopun hal-hal yang berbau klasik atau vintage, harus ke Sovereign Hill deh! Puas-puasin foto dan belanja souvenir disana (*eh*). Oyah, tips dari saya, kalo mau kesana jangan lupa pake pakaian dan alas kaki senyaman mungkin ya. Disana berdebu dan sinar mataharinya sangat terik, jadi siapin juga sun block kalo nggak mau tiba-tiba gosong sesampe di Indonesia. Kesalahan saya waktu itu adalah saya pake dress dengan stocking hitam (karena asumsi saya udaranya bakal dingin) dan sepatu flat. Uaah, rasanya saya gak bisa jalan dengan lincah dan cepat. Lain waktu saya emang harus pake celana pendek/panjang dan sepatu keds deh. Hehehe.

Sydney, 26 Desember 2012
Didepan Sydney Opera House pagi harinya. Keliatan tuh rambut lepek dan muka kumusnya. Hihi.
Sydney, 26 Desember 2012
Burung yang nongkrong di kawasan Sydney Opera House. 
Sydney, 26 Desember 2012
Patung lilin Marie Tussaud, pendiri Madame Tussauds.
Sydney, 26 Desember 2012
Patung lilin Lady Gaga keliatan nyata!

Katoomba, 27 Desember 2012
Di kawasan Katoomba Scenic World.
Katoomba, 27 Desember 2012
Three Sisters dilihat dari Echo Point.
Brisbane, 28 Desember 2012
The Wheel of Brisbane.

Brisbane, 28 Desember 2012
Gereja (...eng lupa namanya, maafkan >_<) dengan gaya arsitektur mengesankan.

Gold Coast, 29 Desember 2012
Kereta Joker saat parade karakter Warner Bros di Warner Bros. Movie World.

Gold Coast, 29 Desember 2012
Keadaan permukaan laut saat mengendarai Quack'rDuck, kendaraan amphibi yang dapat bergerak di darat maupun di laut.

Gold Coast, 30 Desember 2012
Akhirnya bisa ketemu Koala di kawasan Australian Wildlife Experience, Dreamworld.

Gold Coast, 30 Desember 2012
...dan juga Kangguru, hewan lucu yang ragu-ragu saya dekati karena takut ditendang (eh) tapi ternyata sangat 'anteng' ketika difoto!

Gold Coast, 30 Desember 2012
Rambu yang menarik!
Melbourne, 31 Desember 2012
The gorgeous Hotel Windsor.
Melbourne, 31 Desember 2012
Saya di kawasan St. Patrick's Cathedral.

Melbourne, 31 Desember 2012
Foto terfavorit saya selama berada di Australia.

Melbourne, 31 Desember 2012
Salah satu jenis bunga yang saya temui di Cook's Cottage, sebuah tourist attraction di kawasan Fitzroy Gardens.

Melbourne, 31 Desember 2012
Dua orang ini lagi nonton persiapan tahun baru di depan kawasan Southbank.

Melbourne, 31 Desember 2012
HAPPY NEW YEAR!

Ballarat, 1 Januari 2013
Seorang perempuan berjalan dengan enggrang di kawasan Sovereign Hill, sebuah open-air museum yang menggambarkan kondisi ladang emas jaman dulu di Ballarat.

Ballarat, 1 Januari 2013
Salah satu pemandangan yang ada di Sovereign Hill.

Ballarat, 1 Januari 2013
Seorang kasir toko souvenir yang saya temui di Sovereign Hill.

Ballarat, 1 Januari 2013
Kertas-kertas pengumuman yang terpajang di area bowling Sovereign Hill.