Pages

Tuesday, February 24, 2015

Sydney: Balik lagi!

Listening to: Washed Out - It All Feels Right

Hai! Akhirnya saya sampai juga di Sydney. Rasanya semacem percaya nggak percaya gitu. Tiba-tiba dalam itungan jam, udah ada di negara lain aja. Udah jauh dari rumah dan jauh dari siapa-siapa :p Tapi gak masalah, namanya juga sesuatu yang kudu dijalanin (dan dihadapin!). Jadinyalah saya sekarang berusaha adaptasi lagi, setelah hampir 3 bulan meninggalkan Sydney untuk liburan. Hehe.

Baiklah, ini saya ceritakan yang menarik-menarik dulu ya!

1. 23-24 Feb 2015: Dapet capek di bandara dan lancar saat penerbangan

Mungkin karena doa dari keluarga dan temen-temen ya, apalagi doa Eyang Mami saya yang katanya beliau sampe terlambat tidur karena berdoa terus :'), penerbangan dari Surabaya-Denpasar-Sydney terasa lancar. Walaupun saya harus menunggu agak lama di Denpasar, tapi itu justru berkesan buat saya. Nongkrong di cafe dengan order Croissant dan Milkshake cokelat seharga 80ribu (oh tidak), mengantri di bagian Imigrasi dan mendengar beberapa turis asing mengkritik petugas Indonesia, dan salah informasi tentang nomor Gate - yang mengharuskan saya jalan dari Gate 1 ke Gate 9 (jauh juga, lumayan deh rasanya apalagi sambil menenteng ransel yang isinya laptop, chargernya, dan kamera DSLR. Cukup berat untuk orang pendek kayak saya, hehe).

Pukul 22.00, saya boarding dan memasuki pesawat Garuda Indonesia dengan penerbangan GA714. Saya duduk di seat 29D; sengaja request duduk di dekat aisle demi kemudahan menunaikan 'panggilan alam', yang nyatanya tidak muncul selama perjalanan. Lucunya, di seberang saya adalah orang yang sama saat penerbangan dari Surabaya ke Denpasar. Saya jadi heran gitu, kok bisa ya kebetulan gitu. Tapi dia-nya terlihat biasa aja sih, malah cenderung cuek dan sepanjang perjalanan dia tidur dengan pulas. Haha ya udah nggak penting kok.

Di sebelah saya, duduklah sekawanan cowok muda dari Jepang. Orang yang duduk sebelah saya banget nih rupanya sangattt sopan. Dari tampang sih doi bisa dibilang terlihat cukup nerd, tapi begitu ngomong, doi sopan banget. Waktu itu pas saya udah duduk, doi dateng menghampiri dan saya spontan langsung bilang "Oh, seat 29 ya?". Pake Bahasa Indonesia, karena mengira doi orang Indonesia berketurunan Tionghoa. Terus dia bales dengan nada pelan namun pasti, "Yes, twenty nine." Saya jadi malu dan segera berdiri dari tempat duduk, memberikan space untuknya. Ditengah-tengah perjalanan, doi selalu sopan banget membalas servis dari pramugari. Misalnya ketika ditawari minum, doi selalu mengucapkan kata "please" di bagian akhir sambil malu-malu. Ketika minumannya sudah jadi, doi menerimanya sambil sedikit membungkukkan kepala dan berkata "Thank you very much". Sangat SOPAN! Saya jadi ikut sungkan sendiri. Langsung deh saya berpikir kalau everyone deserves a respectful treat from other person. Kalau nggak mau dikasarin orang, ya jangan kasar sama orang. Jadilah orang yang sopan agar orang juga bisa menghargai kita. Attitude emang bukan nomer 1, tapi at least itu yang bikin orang inget sama kita. Eh, kok jadi ceramah gini :))

Alright, seperti biasa, saya nggak bisa tidur nyenyak di pesawat. Sudah saya coba sih dengan memundurkan kursi; harapannya kepala bisa lebih rileks dan cepet ngantuk. Tapi ternyata tetep susah tidur karena dalam posisi duduk dan pantat terasa panas. Akhirnya saya menikmati entertainment service saja dengan menonton The Judge. Itung-itung juga hiburan mata karena ngeliat Robert Downey Jr. yang ganteng dan dewasa. Ehek.

Waktu pun menunjukkan pukul 7.30 pagi, saya langsung mengeset layar ke mode tinjauan penerbangan. Disitu tertulis kalau harapannya kami sampai Sydney pukul 7.50 pagi. "Wah, sebentar lagi! Nggak kerasa!," begitu rasanya. Saya segera berpikir apa yang harus saya lakukan begitu keluar dari bandara. Pastinya sih check-in ke apartemen saya, Sydney University Village (SUV). Tapi naik apa ya? Orang tua saya sebenernya lebih prefer saya naik train. Saya pun sempet setuju, karena itung-itung pengalaman baru. Mumpung di Sydney 'kan. Akan tetapi, realita berkata lain. Saat itu kondisi badan saya kurang enak, karena merasa masuk angin dan harus segera menunaikan 'panggilan alam' besar. Jadi pengen cepet-cepet sampai di SUV, mandi dan istirahat.

Sekeluarnya dari pesawat, saya langsung menuju Toilet untuk pipis dan 'menata' wajah serta rambut. Ya ampun kucel sekali saya karena seharian nggak enak tidurnya! Haha penting ya. Ya udah deh, saya lanjutin menuju bagian Imigrasi dan... YA AMPUN antrinya :O Mungkin ada 45 menit ya kami ngantri, eh entah 45 menit atau 1 jam, nggak tau lah pokoknya waktu itu saya berdoa terus semoga semuanya dilancarkan. Ternyata bener, proses imigrasi berjalan tanpa halangan, termasuk saat di bagian Declaration barang. Oh ya, waktu itu saya berniat untuk meng-declare kopi dan Almond Crispy yang saya bawa; mengingat ada kandungan telur. Ketika sampai di bagian tersebut, koper dan tas saya diendus-endus anjing petugas. Saya nggak takut sih, karena saya percaya itu bukan barang aneh-aneh. Bener lagi deh, barang-barang saya lolos dari pengecekan dan saya langsung keluar sambil mendorong troli.

Saya pun langsung mencari bangku, duduk manis, dan mengganti SIM card hape. Dari nomor Simpati, saya beralih ke nomor YES OPTUS yang merupakan nomor khusus saat tinggal di Australia. Untungnya, proses beli pulsa bisa dilakukan lewat aplikasi khusus yang terinstall di hape saya. Jadinya saya nggak perlu repot-repot mencari bakul pulsanya (yang memang ada di bandara sih). Saya cukup memilih paket data yang diinginkan, lalu membayarnya dengan memasukkan data Debit Card saya. Nanti pihak YES OPTUS nya akan otomatis memotong nominal tabungan di kartu tersebut. Sangat mudah ya?

Gak sampe semenit, saya sudah bisa menggunakan jaringan tersebut untuk menghubungi keluarga. Saya langsung bilang ke Grup BBM khusus keluarga kalau sudah sampai di Sydney. Papa saya langsung bales, trus bilang "Alhamdulillah kalo sudah sampai" dan menyampaikan kalo disana masih pagi banget. Hehe iya ding, di Surabaya masih jam 5an pagi, sedangkan di Sydney sudah mau jam 9. Ya, memang Ortu saya selalu bangun pagi untuk sholat Subuh. Kelar mengabari keluarga, saya memutuskan untuk naik taksi saja ke apartemen. Saya pun menuju bagian servis taksi di sebelah kiri pintu keluar Terminal 1. Ternyata RAME dong. Banyak juga yang rela antri dan membayar AUD 40-50an untuk sebuah servis taksi. Mungkin mereka mempertimbangkan kenyamanannya ya. He-eh, sama juga kayak saya. Saya yang udah nggak enak badan gini dan merasa masuk angin tentu pengen yang cepet. Lucunya, di tengah-tengah antri itu saya sempet kentut. BAU lagi. Saya langsung malu dan pura-pura nggak ngerti; walaupun diem-diem saya merasa bapak-bapak di belakang kayak curiga gitu sama saya. Hahaha, yaudah lah biarin. Namanya juga masuk angin.

2. 24 Feb 2015: Apartemen baru, kamar baru dan roommate baru. Semuanya baru!

Kelar membayar taksi yang ternyata memakan biaya AUD 45.00, saya langsung menuju Reception di Bligh Building, Sydney University Village. Yang menyambut saya kali itu adalah Grace; sepertinya dia karyawan baru disitu. Tapi dia sangat ramah dan terlihat paham akan kerjaannya, karena geraknya cepet dan tetep friendly. Hehe. Ternyata proses check-in untuk returning resident berjalan cepat. Saya hanya perlu menunjukkan kartu pelajar Sydney University dan membayar tagihan kebersihan untuk kamar lama dulu. Lalu Grace memberikan kunci kamar baru saya, yaitu di tipe 5 bedroom apartment dan berada di gedung paling akhir, yaitu gedung nomor 9 :).

Perasaan saya campur aduk begitu sampai didepan pintu apartemen. Antara seneng-excited-capek-nggak percaya semuanya berjalan begitu cepat-sedih-dan-gak sabar pengen mandi. Panjang amat ya. Ketika masuk, saya langsung naik ke lantai 2 dan bertemu dengan Peter, teman baik saya selama di SUV semester lalu. Saya pun langsung menanyainya macam-macam, termasuk perihal roommate kami lainnya yaitu Shaun, Laura dan Audrey. Kalau Audrey saya sudah kenal baik, karena doi juga tinggal satu lantai dengan saya dulu saat masih berada di kamar studio. Kami pun juga pernah jalan bareng ke Surry Hills Festival dan menikmati musik bersama. Doi orangnya asik deh intinya. Kalau Shaun dan Laura ini adalah teman baru yang bener-bener saya belum kenal. Kata Peter, mereka cukup pendiam dan kami harus berinisiatif mengajak mereka ngobrol. Baiklah, saya sih nggak masalah. Asalkan kehidupan bertetangga tetep nyaman aja. Hehe.

Jadi di lantai 2 itu terdapat 5 kamar, 4 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Empat kamar ini diletakkan saling berhadapan. Kamar Peter berhadapan dengan kamar Laura, dan kamar saya akan berhadapan dengan kamar Audrey. Hm, menyenangkan sekali kini punya temen di satu apartemen! Nggak seperti dulu di kamar studio, saya selalu merasa kesepian dan sering homesick. Haha. Nggak salah deh pindah ke tipe kamar shared begini. Walopun ortu sempet kuatir akan kenyamanan saya sih. Tapi kemauan saya kuat, saya cuma pengen dapet pengalaman baru dari hidup di luar negeri. Saya pengen bisa berinteraksi dengan orang baru, memahami budaya mereka dan having fun juga dengan mereka. Gimanapun kami sama-sama 'hidup sendiri', ya minimal gitu lah buat mereka-mereka yang single, at least kami punya temen untuk berbagi 'kan :)

Setelah ngobrol sedikit, Peter ijin untuk belajar di kamarnya. Yup, doi lagi mengikuti program Summer School yang diselenggarakan kampus. Peter memang anak yang rajin. Dia tergila-gila dengan Sciences dan pengen jadi perawat. He's such a lovely and sweet guy! Saya dan Audrey sudah menganggap dia seperti adik laki-laki kami deh. Senengnya lagi, Peter memberikan saya gift boneka anjing yang lucu sekali. Audrey pun juga dia kasih, tapi nanti setelah Audrey datang ke SUV dari Singapore. Wah, saya nggak nyangka banget akan ada orang 'baru' sebaik dia. Istilahnya kami kan baru kenal beberapa bulan, tapi dia sudah percaya, perhatian, dan BAIK banget dengan memberi boneka itu. Dia juga mengucapkan terima kasih banyak saat saya memberikan gift pencil case bermotif Batik. I'm a happy neighbor!

Lalu saya memasuki kamar. Wah, kamar saya masih kosong oblong! Kasurnya pun masih literally 'kasur', belum ditutupi apa-apa. Untungnya, furniturnya masih bagus dan keadaan kamar tidak begitu menyedihkan saat saya pertama kali masuk di kamar yang dulu. At least kali ini kamarnya tidak berdebu banget; saya hanya butuh tisu basah untuk membersihkan debu-debu kecil yang menempel. Asiknya lagi, my room got plenty of sunlight. Pemandangan depan kamar pun cukup menyenangkan karena tidak banyak gedung, yang berarti saya nggak perlu kuatir untuk masalah privasi. Kalau di kamar studio dulu, saya JARANG banget ngebuka tirai jendela karena malu kalo orang tahu kegiatan saya. Saya sih nggak pernah aneh-aneh di kamar, tapi tetep aja kurang nyaman rasanya. Jadinya saya bersyukur banget dan cepet ngerasa settled sama kamar baru ini.

Suasana kamar baru saya sebelum dipenuhi barang-barang

Yang waktu itu saya pikir ketika selesai menaruh barang ialah: bagaimana saya tidur nanti?. Mengingat barang-barang kos sedang saya titipkan di Storage King Alexandria dan baru bisa saya ambil esok hari (hari ini). Sempet gitu kepikiran nginep di rumah Karina, tapi jauh. Udah gitu saya nggak yakin bisa tepat waktu ke Storage King, karena akan susah bangun pagi haha. Untungnya ada kain Bali serba guna yang ada di koper. Thanks to Mama juga yang selalu ngingetin, ternyata kain Bali-nya nyaman banget untuk dibuat sprei dadakan. Juga baju-baju bawaan yang saya jadiin bantal *eaa*. Hehe.

Menjelang malem, saya mengunjungi apartemen tetangga kami dimana Owen, Nehan dan Trupti tinggal. Mereka adalah teman-teman baik saya juga selama di SUV. Mereka selalu mengundang kalau ada acara khusus; sekaligus mengenalkan saya, Audrey, dan Peter, trio kamar Studio, dengan penghuni-penghuni SUV lainnya. Saya baru tau kalo Yas sudah pindah dari SUV, karena menyusul pacarnya yang berada di Melbourne. Untuk mengisi kekosongan kamarnya, apartemen mereka kedatangan cowok dari Canada bernama Ash. I heard from Owen that he's taking a Juris Doctor in Law. Peter pun langsung berdecak kagum dan bolak-balik bilang, "Oh, I'm living with smart guys."

Beberapa menit kemudian, salah satu teman baik kami juga yang jago ngelukis, Leah datang ke apartemen Owen dengan setelan Summer dress, sandal gladiator, dan tas crossbody bermodel Fringe-nya. Artsy lah, hehe. Kami pun having short chit-chat dan memutuskan keluar mencari makan serta belanja di supermarket. Waktu itu jam 9 malam, saya, Owen, Peter dan Leah berjalan melewati kampus untuk menuju kawasan Broadway. Kampus tampak gelap dan sepi. Namun saya tetap terkagum-kagum begitu melewati The Quadrangle, gedung kebanggaan kampus yang terlihat seperti Hogwarts. Disitu telah dipenuhi stall-stall untuk kepentingan Orientation Week beberapa hari kedepan. New students are all excited, pastinya. Saya jadi inget saya dulu pas jadi maba. Ehehe jadi gaya ah.

Malam itu kami memutuskan untuk makan di Pappa Rich, sebuah restoran Malaysia yang terkenal. Saya order Roti Canai Kaya dan Organic Soy Milk. Wah rasanya lezat sekali, plus senang karena dikelilingi teman-teman saat kedatangan saya di Sydney. Alhamdulillah. Setelah kenyang, kami bergegas menuju Broadway Shopping Center, mall terdekat dari kampus yang memiliki toko-toko besar seperti Coles, Target, dan KMart. Owen pengen grocery shopping, katanya. Ya udah deh, kami belanja apa yang dibutuhkan dapur di Coles. Karena belum berkeinginan untuk memasak dan masih overwhelmed, saya cuma beli susu putih 1 liter. Nggak terasa tiba-tiba udah jam setengah 11 malem, kami langsung pulang menuju SUV sambil menenteng belanjaan masing-masing. Selama perjalanan, Leah sibuk bercerita dan menanyakan saya trivial questions seperti "Would you rather own an elephant or a giraffe as your pet?" atau "Would you rather have a jet or a ferry?". Saya menjawab yang langsung ada di pikiran aja, yaitu lebih memilih jerapah dan jet. Malam yang menghibur, memang.

Sesampai di kamar, saya menyiapkan tempat tidur seadanya dengan kain bali dan setumpuk pakaian. Saya tersenyum kecil, karena selalu saja ada hal-hal yang mengejutkan selama di Sydney. Namun tiba-tiba perasaan homesick itu datang. Nggak diundang nggak diapain, tiba-tiba saya jadi melankolis sekali *waduh*. Saya inget kalo sekarang saya udah sendiri, nggak akan denger suara Mama atau adek saya lagi di siang hari selama 5 bulan kedepan, nggak makan siang lagi dulu di hari Minggu sama keluarga, nggak ketemu Ammar dan teman-teman dekat, dan yang paling penting lagi, I'm currently not dating anyone. Sepi memang rasanya. Tapi saya selalu ngingetin diri sendiri kalo ini adalah jalan terbaik. Ini keinginan saya juga untuk kuliah di luar negeri; untuk belajar hidup mandiri dan struggling agar jadi orang lebih baik lagi :p

3. 25 Feb 2015: Menjemput barang di Storage King Alexandria 

Pukul 7.00 pagi saya terbangun dan merasa 'gopoh'. Awalnya, saya merencanakan berangkat dari jam 7.15 pagi agar bisa sampai di tempatnya sebelum jam 9.00 sesuai perjanjian. Dengan mandi cepat dan berdandan seadanya, saya segera menuju King Street dan mencari Bus Stop yang menyediakan layanan bis jurusan 370 - Coogee via Newtown Service. Perjalanan menuju kawasan Alexandria dari Newtown ternyata memakan waktu setengah jam, walaupun saya berganti bis 2x yaitu dari 370 ke 309 hingga ke bus stop terdekat. Saya jadi lega karena bisa tepat waktu dan lebih awal dari perjanjian. At least saya bisa nunjukin kalau orang Indonesia ada yang nggak 'lelet'-an, huehehe. Mumpung di negeri orang. Harus bisa mempelajari dan mempraktekkan hal positif dari budaya setempat, salah satunya tentang ketepatan waktu.

Saya pun memasukin ruang frontliner di perusahaan besar itu. Disana saya melihat dua orang familiar saat pertama kesana, yaitu Ian sang manajer dan Ondrej, asistennya. Proses "termination"-nya berjalan cepat dan 'tek-tek'. Saya hanya cukup mengisi formulir, tanda tangan, dan membayar kekurangan biaya sebesar AUD 9-an. Karena saya datang lebih awal, removalist-nya atau orang yang akan membantu saya memindahkan/mengantarkan barang belum datang. Saya pun diantarkan Ondrej ke ruang televisi sambil menunggu removalistnya. Selang beberapa menit, Ondrej menghampiri dan bilang, "Feliz (dia salah spelling nama saya, seperti kebanyakan orang hehe), the removalist has come." dan lucunya, removalisnya langsung menyapa saya dengan ceria, "HALO!" begitu katanya. Beliau berpakaian santai dan tampak seumuran dengan Papa saya, kayaknya lebih berumur lagi.

Bapak removalist tersebut pun membantu saya mengeluarkan barang dari kotak penyimpanan dan memasukkannya kedalam mobil. Saya pun ikut dengannya menuju SUV. Di perjalanan, kami bercerita banyak hal. Ternyata beliau berasal dari New Zealand bagian utara. Beliau bilang tempat tinggalnya sangat menyenangkan dan indah. Saya pun menanggapi kalau saya pengen banget kesana, tapi cuma belom punya kesempatan aja. "You should go there, it's lovely." gitu kata beliau. Intinya, di perjalanan kami banyak mengobrol tentang hidup di negeri orang. Bagaimana kami akan merasa sangat lonely dan miserable, karena nggak bisa kenalan sama orang (ini cerita dia sih waktu 'terlantar' di Los Angeles). So he thinks that "home is home", nggak ada yang bisa ngalahin rumah sendiri seindah apapun negeri orang yang lagi kita tinggalin. Setuju banget!

Ternyata jarak antara SUV ke Storage King Alexandria tidak sejauh itu apabila ditempuh dengan mobil. Cuma 10 menit deh kayaknya. Bentar kok. Sampe-sampe kami 'keblablasan' sehingga harus putar balik di jalan dekat Wentworth Building. Saya jadi sungkan sama bapak removalistnya dan bilang "Sorry" beberapa kali. Dia bilang nggak masalah. Hehe untunglah. Sesampai di SUV, saya langsung menunjukkan letak apartemen dan beliau mengantarkan barang saya satu persatu. Sebelumnya saya sempet kuatir kalo barang saya kebanyakan bagi satu orang seperti dia, but then he said "Nah, it's nothing". Dia cerita kalo biasanya dia malah bawa truk, dimana orang-orang bener pindah satu rumah ke rumah lain. Jadi wajar kalo dia menganggap barang-barang saya nggak ada apa-apanya. Haha.

Untungnya lagi, Shaun berbaik hati mengangkat barang-barang saya dari lantai 1 ke lantai 2. Wah saya bersyukur banget dan jadi sungkan sekali sama dia. Padahal barang-barang saya ini ada yang berat banget, khususnya box berisi buku dan majalah tebal-tebal. Saya lihat Shaun sampe keringetan deres. Semoga doi nggak kapok jadi roommate saya, hehe. Thank you very much, Shaun! Bantuan kamu mengurangi beban saya :')

4. 25 Feb 2015: Unpacking dan re-decorating the room

Dari dulu, packing selalu jadi hal yang paling membingungkan sekaligus yang saya anggep enteng. Tapi ternyata 'un'-packing ini lebih susah, karena saya harus menata kembali kamar baru dengan barang-barang yang tetap jumlahnya. Intinya, barang-barang yang terbiasa di volume kamar Studio ini harus disesuaikan di single room dalam shared apartment. Untungnya, barang-barang saya tidak sebanyak itu jumlahnya. Hanya kali ini saya tidak bisa menempatkan keranjang baju begitu saja di lantai, karena tidak cukup. Akhirnya setelah menata sana-sini dalam beberapa jam, saya putuskan untuk meletakkan keranjang baju kotor di rak yang tersedia. Aslinya saya kurang sreg sih, soalnya terlihat 'njebubug' dan penuh gitu rak-nya. Kurang simetris aja hahaha (teman-teman saya pasti ketawa nih). Tapi yaudah deh, yang penting ada tempatnya. Nggak kayak koper gigantic saya ini yang kekurangan tempat. Awalnya pengen saya masukin di kolong khusus di lantai 1, tapi kok kasian kopernya ya. Takutnya berjamur dan kotor gitu. Saya pun memutuskan untuk meletakkannya begitu saja disebelah meja belajar dengan ditutupi kain Bali, yang bekas sprei dadakan itu. Walaupun bulky, tapi bisa keliatan cantik deh. Halah-halah :')


Sudah diberi sprei dan diisi meja belajarnya :)

Barisan buku-buku dan mainan Mars Attacks yang saya beli dari festival setempat :)

Liat kan keranjang baju dan koper yang ditutupi kain Bali di pojokan itu?
Boneka yang diberi Peter! Ternyata Audrey juga dapet, tapi Teddy Bear. How cute!

Ya udah deh segitu dulu cerita panjangnya. Yang jelas kamar saya sekarang sudah dipenuhi barang-barang; hanya saja belum completely selesai, karena masih ada 1 koper dan 1 box yang saya titipkan di rumah Karina. Ga masalah, yang penting malem ini saya bersyukur bisa tidur dengan sprei dan bantal yang real! Hehe. Alhamdulillah. Oya, besok saya juga harus cari kipas angin nih. Ternyata kamar baru saya ini tidak dilengkapi kipas angin. Mana mungkin juga kan jendelanya saya buka terus. Kalo hujan gimana :p

Sampe ketemu lagi di postingan selanjutnya!


Cheers,

Kiza

Sunday, February 22, 2015

Di Bandara Ngurah Rai, Denpasar

Selamat malam! Saya lagi di Bandara Internasional Ngurah Rai nih. Jam 16.25 tadi, pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi terbang on time dari Surabaya. Perjalanan yang hanya memakan waktu 42 menit itu terbilang cukup nyaman. Saya duduk di seat 26C bersama perempuan seumuran saya (tapi kayaknya doi lebih muda deh) yang membawa boneka Teddy Bear dan seorang bapak-bapak. Selama perjalanan, mereka asik mengobrol tentang apa saja. Tidak bermaksud menguping, tapi omongan mereka ya kedengeran gitu sampe telinga saya. Saya sih cuek aja, karena merasa bukan urusan saya. Akhirnya saya coba tidur dan tetap saja tidak bisa. Saya emang nggak cocok tidur di pesawat, selalu nggak pernah sampe tidur nyenyak. Hehe.

Pukul 18.25 waktu Denpasar, pesawat saya mendarat dengan on time. Saya pun langsung menuju ke bagian Transfer Pesawat dan menanyakan kelanjutan penerbangan saya. Ternyata memang masih lama sih berangkatnya pesawat lanjutan itu. Masih nanti jam 22.30. Wah, saya jadi bingung mau ngapain ya. Mata saya sibuk mengamati keadaan airport yang dipenuhi turis-turis asing berpakaian santai. Enaknya saya nongkrong dulu di kafe atau langsung check-in ya? Akhirnya saya memutuskan untuk check-in terlebih dahulu. Setelah sampai di konter, untungnya sudah bisa check-in, tapi belum bisa diberitahukan gate berapa. Ya sudahlah, yang penting saya bisa request tempat duduk. Dan inilah saya sekarang. Sedang duduk di The Coffee Club. Memesan Milkshake cokelat dingin dan croissant yang hangat. Aslinya pengen cari makanan berat sih, tapi kok nggak seberapa laper juga. Ya udah lah yang penting bisa dapet tempat duduk dan colokan untuk laptop. Karena saya harus ngapa-ngapain dengan waktu yang masih tersedia banyak ini :)

***

Saya nggak nyangka karena tiba-tiba saja saya udah mau balik ke Sydney. Rasanya kayak baru kemarin saya merasa excited untuk pulang ke Surabaya. Bertemu keluarga dan orang-orang terdekat. Bertemu Ammar! Ya Ammar, keponakan kecil saya yang jadi primadona keluarga (haha aduh metaforanya kok nggak masuk sekali). Sekarang, hari ini tanggal 22 Februari 2015, saya sudah harus berangkat lagi ke Negeri Kangguru. Menyelesaikan studi S2 saya yang tinggal satu semester. Harapannya, bulan Juni nanti saya sudah menyelesaikan kuliah yang hanya setahun ini. Nggak ‘jangkep’ setahun malah. Efektifnya cuma 9 bulan kali ya.

Wah, bener-bener nggak kerasa. Nanti di Sydney saya akan ketemu teman-teman baru saya lagi. Bertemu Karina, Anti, Kikin, Fiye, teman-teman Indonesia saya disitu lainnya. Bertemu Pakde Amrih, Bude Inez, Mbak Anggi. Bertemu Audrey, Peter, Nehan, Owen, Benny, teman-teman lainnya yang tinggal di Sydney University Village. Bertemu apa dan siapa saja yang pernah saya kenal di Sydney. Rasanya jadi nggak sabar untuk mendapatkan cerita-cerita baru dari mereka. Apa saja ya yang saya lewatkan selama meninggalkan Sydney?

Oya, balik lagi tentang kegiatan kampus. Menurut kalender akademik kampus, kegiatan kuliah saya akan berakhir di bulan Juni 2015, which means perkuliahan S2 saya juga bakal selesai bulan itu. Setelah itu, saya bakal lulus dan diberi gelar MMedPrac, atau Master of Media Practice. Bismillah, semoga semuanya lancar dan saya bisa dapet pengalaman berharga, plus lulus dengan nilai yang memuaskan. Amin!

Sebelum pulang ini, saya nggak merasa sedih sih. Cuma kayak udah terlanjur keenakan di Surabaya, kayak merasa berat gitu harus mengurus diri sendiri (lagi). Hehe becanda. Nggak kok, saya tetep bersyukur banget bisa kembali ke Sydney. Saya nggak sabar untuk ngelanjutin 'petualangan' saya lagi di negeri orang. Hidup sendiri dengan orang-orang baru, budaya baru, dan pastinya, pemahaman yang baru. Kelak saya akan bikin postingan bagaimana hidup di luar negeri itu bisa merubah cara pandang kita. Semoga yang baca juga bisa mengerti bahwa hidup di luar negeri itu nggak selamanya enak, pasti ada nggak enaknya juga. Tapi sewaktu disana, saya selalu berusaha bersyukur kalo lagi ketemu yang nggak enak. Saya selalu mikir bahwa masih untung dikasih yang ‘begini’, kalo lebih buruk? Wah, jangan sampe. Saya juga selalu ngingetin diri sendiri kalo ini adalah kesempatan terbaik buat saya. Orang tua udah memercayakan saya untuk ini. Tuhan juga ‘kan berarti? Ya sudah, berarti kewajiban saya adalah menyelesaikannya dan melakukannya dengan senang hati dan ikhlas! Ini nih yang masih harus saya praktekan bener-bener. Hehe.

Pokoknya, saya mau manfaatin sisa waktu saya di Sydney sebaik dan seberguna mungkin deh. Apalagi sekarang saya kembali ke Sydney dengan keadaan yang ‘baru’. Nggak usah saya jelasin detil lah ya disini. Intinya, saya habis mengalami sesuatu yang nggak enak, yang kadang bikin saya nyesel-sedih-putus asa-seneng-bersyukur at the same time; tapi untunglah, karena dukungan orang-orang terdekat, pelan-pelan saya bisa nge-ikhlasin apa yang terjadi kemaren. Hari demi hari saya makin merasa lebih baik. Makin merasa santai dan kuat. Terima kasih banget deh buat mereka yang perhatian dan sayang sama saya *ehe jadi melankolis*.

Okay, sampai disini dulu ya. Nanti saya akan blogging lagi begitu nyampe Sydney! :)

Friday, February 20, 2015

Mimpi saat tidur

Percaya nggak percaya, ide untuk membuat postingan ini lahir ketika saya lagi berada di sebuah klinik kecantikan. Ya, tadi jam 10.45 saya pergi untuk mengambil baju di laundry dan membeli obat di klinik tersebut. Selagi menunggu nama saya dipanggil, saya duduk diatas sofa dan mengambil buku yang saya beli kemarin. Judulnya adalah "ri.sa.ra", karangan Sara Wijayanto dan Risa Saraswati. Saya pun langsung asik membaca buku bersampul hitam itu.

Mereka yang mengenal Risa Saraswati, baik melalui vokal "beautifully hunting"-nya saat masih di Homogenic ataupun sekarang dengan Sarasvati, pasti sudah tahu buku itu tentang apa. Memang benar, kali ini buku tersebut menceritakan persahabatannya dengan Sara Wijayanto yang juga bisa melihat mahluk halus. Di tengah-tengah cerita yang saya baca, tiba-tiba saja terceletuk pikiran untuk membuat postingan tentang mimpi sewaktu tidur. Lucu rasanya, mengingat banyak orang yang berpikir kalau mimpi hanyalah bunga tidur. But I tell you now, I secretly believe that dreams are symbols. Saya percaya kalau mimpi sewaktu tidur itu bukanlah bunga tidur, melainkan sesuatu yang memiliki maksud tertentu.

***

Berawal dari suatu hari ketika Mama menanggapi kebiasaan saya bercerita secara runtut. Kata beliau, sejak kecil saya sering bercerita tentang mimpi semalam. "Seru sekali kalo Kiza lagi cerita. Bisa hafal gitu jalan ceritanya," begitu kata Mama. Saya pun cuma mesem. "Masa iya sih, Ma?" saya tanya balik. "Iya, pokoknya Kiza kalau habis mimpi itu selalu cerita ke Mama. Urut; dari cerita awal sampai akhirnya tuh kamu hafal lho." jelas Mama sambil tersenyum. Saya pun mesem lagi. Antara GR dan juga nggak percaya kalo dari kecil saya selalu mengingat mimpi semalam.

Memang benar sih. Sampai sekarang pun, saya sering bisa mengingat jalan cerita mimpi semalam. Dari yang trivial sampe yang berkesan banget. Terus lucunya lagi, MIMPI SAYA ITU SELALU ANEH-ANEH. Aneh-aneh dalam arti emang aneh dan kadang sampe konyol. Sering deh, saya ini mimpiin sahabat-sahabat saya. Ceritanya pun nggak ada yang manis, so sweet ala persahabatan-persahabatan di TV, tapi malah sedikit konyol. Sahabat-sahabat saya itupun mengakuinya setiap saya paparkan mimpi itu di grup Whatsapp kami. Mereka selalu bilang begini dalam logat Suroboyo-an, "Sut, Sut (nama panggilan saya Kisut), mimpimu lak mesti uaneh-uaneh." Saking seringnya saya cerita tentang mimpi yang non sense itu, mereka sampai cuma menanggapi dengan "Hahahahaha, Kijut, Kijut (nama panggilan saya lainnya)." dengan berbagai macam emoji.

Jendela kamar yang selalu saya lihat begitu bangun tidur.

Salah satu mimpi dengan sahabat-sahabat saya yang berkesan ialah saat empat dari kami berkumpul di ruang kelas. Saya inget, ruangan tersebut adalah ruang kelas X-5 di SMA saya dulu. Kami duduk di pojokan ruangan dengan model bangku 2 kursi x 1 meja. Teman saya satunya yang bernama Echa, tiba-tiba datang dari depan. Ceritanya dia habis ngajar gitu. Ya, memang, di kehidupan nyata dia adalah seorang guru. Nah akhirnya dia menghampiri saya, Putri, dan Marsha yang sudah duduk duluan di suatu bangku. Konyolnya, waktu itu kami sedang asik makan gorengan dan ceritanya Echa mengambil jatah gorengan Marsha. Kami pun ketawa kecil-kecil sambil memperhatikan reaksi Marsha yang sewot dan Echa yang cuek saat itu. BLES! Mimpi saya pun tiba-tiba selesai.

Begitulah contoh mimpi saya yang (mungkin) sedikit aneh. Apa coba maksudnya mimpi makan gorengan sama temen-temen, 'kan? Tapi dasar, saya memang selalu penasaran sama arti mimpi tersebut. Mungkin gorengan emang nggak signifikan, tapi saya coba mengingat-ingat simbol-simbol yang ada saat itu. Yup, the room where the action is taken. Ruang kelas sekolah saya dulu. Saya pun langsung menerka-nerka mengapa ya saya bermimpi tentang ruang kelas itu? Padahal ya di kehidupan sekarang ini saya biasa-biasa aja lho sama masa SMA. Malah bisa dibilang saya nggak terlalu kangen sama masa SMA. Ya udah deh, akhirnya saya melakukan kebiasaan ini: mengecek arti mimpi di Internet! :p Situs yang biasa saya gunakan adalah www.dreammoods.com dan saya tinggal mengetik suatu simbol di kolom "Search" atau menurut mereka, adalah kolom "Interpret my dream symbol".

Halaman depan www.dreammoods.com

Contoh tafsiran "ruang kelas" sebagai setting tempat saat mimpi itu terjadi :p

Saya lupa sih waktu itu saya googling langsung arti mimpinya nggak ya. Tapi anehnya, kebanyakan simbol-simbol yang muncul di mimpi saya itu berkaitan banget sama apa yang dipaparkan di situs itu (atau situs lainnya yang saya gunakan). Misalnya, saat itu saya mimpi tentang kucing. Yang padahal di kehidupan nyata itu saya nggak abis main sama kucing atau mikirin kucing sama sekali. Lhah kok ini tiba-tiba dimimpiin kucing. Karena percaya dan penasaran, saya lanjutkan kebiasaan aneh saya itu. Googling arti mimpi kucing! Hehe. Menurut Dream Moods, melihat kucing di dalam mimpi itu menyimbolkan "independent spirit, feminine sexuality, creativity and power". Setelah saya pikir-pikir, ternyata ya memang cocok dengan keadaan saya. Saat itu saya emang lagi suka mikir gimana caranya bisa hidup independen setelah saya selesai kuliah. Saya kepikiran banyak hal; mulai dari bekerja (pastinya) dan mempunyai bisnis kreatif sendiri. Intinya, sesuatu yang berkenaan dengan kreativitas saya deh. Ya mungkin bagi beberapa orang, mimpi itu apa sih, cuma bunga tidur dan nggak ada artinya. But, sekali lagi buat saya, mimpi itu adalah simbol. Mimpi itu mengartikan sesuatu. Saya bisa ngomong gini bukan karena ikut-ikutan atau gimana, tapi karena saya mengalaminya sendiri.

Nah, ini contoh nyata yang saya alami ....dan nggak jarang, bikin saya takut. Dari dulu, saya selalu takut kalo mimpi gigi copot. Alasannya, saya percaya kalo gigi copot itu menandakan ada kerabat yang akan meninggal atau saya akan mendengar kabar duka. Wah, bener banget. Saat itu saya memang mimpi gigi saya terlepas sendiri. Keesokan harinya saya mendengar kabar bahwa ada kerabat keluarga saya yang meninggal. Anehnya, kerabat yang meninggal itu juga nggak dekat-dekat banget sama keluarga saya. Justru ketika ada kerabat dekat yang meninggal, seperti almarhum Eyang Papi saya waktu itu, saya tidak diberi mimpi apa-apa. Pernah juga ketika itu saya mimpi gigi copot untuk kesekian kalinya. Mood saya langsung jelek gitu di pagi harinya. Eh, pas baca koran, ternyata ada artis yang meninggal. Saya lupa siapa waktu itu. Pokoknya saya langsung bergidik ngeri lah. Makanya, sampai sekarang saya selalu takut kalau mimpi gigi copot. Saya selalu berharap kalau keluarga sekeliling saya aman-aman saja dan sehat sentosa. Amin!

Ada satu cerita tentang mimpi lagi yang menimbulkan kesan mendalam. Setelah wafatnya eyang kakung saya, atau Eyang Papi, begitu saya menyebutnya; saya merupakan salah satu cucunya yang suka dimimpiin beliau. Senengnya, mimpinya itu selalu bagus-bagus. Yang selalu saya inget betul adalah mimpi saat beliau memeluk saya dan mencium pipi saya. Di dalam mimpi itu, saya lihat Eyang Papi tersenyum tulus dan riang pada saya. Wah rasanya kangen banget sama beliau. Pagi harinya, saya cerita itu ke Mama. Mama pun langsung ikut seneng. Katanya saya disuruh langsung mendoakan Eyang Papi. Begitu Mama cerita ke eyang putri saya, atau Eyang Mami, Eyang Mami langsung bilang, "Oh, Papi bangga itu sama cucunya. Bisa belajar sampai ke luar negeri." DEG! Saya jadi tersipu sekaligus ngeri-seneng-bersyukur gimana gitu. Semoga bener ya, Eyang Papi :)

***

Intinya, lewat postingan ini saya mau ngutarain kepercayaan saya terhadap mimpi dan artinya. Mimpi yang mimpi beneran lho ya, mimpi yang ada saat kita tidur. Bukan mimpi yang diartikan 'harapan'. Bagi saya, mimpi ini bisa membantu saya mengidentifikasi masalah sehari-hari. Kadang 'kan kita nggak sadar gitu ya sehari-hari itu pasti ada sesuatu yang menggelitik. Entah perasaan sedih, senang, kesel, atau apa itu, yang timbul dari suatu permasalahan. Nah, kadang kita nggak mampu buat mengidentifikasi hal itu karena memang bukanlah sesuatu yang keliatan, tapi sesuatu yang kita rasa. Saya rasa, kalo kita percaya, mimpi ini juga bisa bermanfaat kok bagi kita. Mimpi bisa bikin kita waspada dan 'aware' sama keadaan sekitar. 'Aware' sama hal-hal minor yang menurut kita sepele, tapi punya efek besar; seperti kesehatan keluarga atau hubungan dengan siapa pun.

Saya jadi inget juga perkataan seorang sahabat yang percaya juga sama mimpi. Dia bilang kalo mimpi itu pasti signifikan kalo terjadi waktu dini hari. Menurut dia, mimpi di siang bolong itu nggak ada apa-apanya. Saya pribadi sih menganggap semua mimpi itu signifikan, hehehe. Habisnya kebanyakan bener sih antara simbol-simbol yang muncul dan artinya di kehidupan nyata. Ya udah deh, namanya juga tentang kepercayaan :)

Baiklah, segitu aja. Saya mau makan nih. Daritadi belum makan siang! :p

Wednesday, February 4, 2015

Potong rambut itu bikin ketagihan.

Jadi ceritanya beberapa minggu kemaren saya habis potong rambut. Modelnya pendek lagi, seperti yang saya suka. Terus tiba-tiba saya mikir, kira-kira saya udah berapa kali ya potong rambut seumur idup ini? Dan akhirnya saya bikin postingan ini deh dari pertanyaan sesimpel itu. Setelah browse foto-foto lama di komputer, saya nyadar. Ternyata saya sering banget gonta-ganti gaya rambut! Yang belom cuma gundul aja, hehehe jangan sampe deh.

*****

Masa kecil (1994-2002)

Sejak kecil, saya inget banget kalo Mama doyan ngajakin saya ke salon. Bukan buat keperluan beliau, tapi buat saya potong rambut. Yang saya inget nama salonnya adalah Salon Alex. Lokasinya gak jauh dari rumah saya dulu, sekitar 8 menitan lah; walopun saya nggak inget waktu itu naik apa ya hehe. Saya juga nggak inget nama mas yang motong rambut saya itu siapa, tapi kayaknya ya Pak Alex nya sendiri. Pokoknya, yang saya inget betul itu saya dibawa kesana untuk memotong pendekkan rambut.

Lucunya, saya juga nggak pernah tanya ke ortu kenapa rambut saya selalu dipotong pendek. Tapi kalo nggak salah alasannya karena saya cocok berambut pendek. Sampe-sampe dulu orang selalu ngomong saya seperti Yuni Shara kalo rambutnya pendek gini. Padahal waktu itu saya masih kecil lho, kira-kira sekitar SD awal-awal. Karena masih kecil, saya sih nggak punya perasaan apa-apa ketika dibilang kayak Yuni Shara. Yang saya tau adalah doi emang berambut cepak, berponi, dan orang banyak bilang doi imut kalo rambutnya begitu. Positifnya, orang juga jadi banyak yang memuji saya. Mereka bilang saya makin imut dengan rambut pendek itu :p

Little Kiza dengan rambut pendeknya!

Nggak hanya itu kejadian lucunya, ada satu lagi nih yang saya inget jelas. Jadi waktu itu malem hari ya, saya dan keluarga lagi pergi ke suatu tempat. Lokasinya saya lupa dimana, yang jelas waktu itu ceritanya rambut saya cepak dan saya turun dari mobil. Tiba-tiba ada orang ngomong “Nyo, Sinyo” gitu ke saya. Karena masih kecil juga, saya nggak terlalu bereaksi. Saya acuh aja dan jalan terus. Sewaktu besar ini, pas saya inget-inget lagi kok rasanya konyol juga orang manggil saya “Sinyo”. Seperti yang saya tau, “Sinyo” adalah panggilan khusus untuk anak laki-laki keturunan Tionghoa. Nah, saya jadi heran, apa saya kayak anak laki-laki banget waktu itu hanya karena berambut pendek?

Menginjak tahun 1998, tiba-tiba muncul penyanyi cilik Cindy Cenora dengan rambut air mancurnya. Wah itu bagi saya fenomenal sekali karena dia menginspirasi anak SD buat heboh-hebohan kuncir rambut. Sepertinya saat itu saya juga terkena demam Cindy Cenora , tapi untungnya gak seberhasil itu karena rambut saya ikal. Kalau dibuat mancur-mancuran malah jadi aneh. Yep, saat itu saya memang mulai memanjangkan rambut, kalau nggak salah sekitar kelas 4 SD sih. Lucunya, orang tua saya nggak lagi mengajak saya ke Salon Alex begitu rambut saya memanjang. Mungkin mereka paham kalau saya udah mulai ‘gede’ ya, jadinya pengen gaya-gayaan (padahal ya masih SD haha). Ya udah deh, akhirnya saya terus memanjangkan rambut hingga kelas 1 SMP dan merasa lebih feminin :p


Masa SMP (2002-2005)

Masa SMP itu bagi saya adalah masa ‘shuvit’ ato ‘alay’, hahaha. Banyak hal yang menurut saya keren tapi tiba-tiba jadi old fashioned, nggak keren lagi, dan malah jadi malu-maluin karena perubahan jaman. Contohnya adalah model rambut ‘jeprak-jeprak’ yang sempet ngetren sekitar tahun 2002. Seinget saya waktu itu radio lagi sering muter lagu-lagunya Avril Lavigne, Linkin Park, Busted, Simple Plan, P!nk… dimana pasti ada salah satu personelnya yang berambut jabrik (Avril nggak lah ya, tapi ada tuh salah satu cowok di video klip ‘Complicated’). Nah otomatis ABG-ABG pengen punya rambut seperti artis-artis itu, termasuk… ehem, saya :p.

Setelah berlama-lama rambut panjang, akhirnya saya memutuskan untuk potong rambut di tahun 2005. Waktu itu rambut saya sebahu dan langsung saya potong pendek. Kebetulan, saya memang terinspirasi dua temen yang punya rambut lurus cepak, belakangnya jabrik-jabrik dan terlihat keren. Yang satunya temen les-lesan, yang satu temen sekolah. Kepengen ikut keren (biasa lah naluri manusia), saya pun ke salon dan meminta rambut saya dipotong seperti itu.

Abaikan balok hitam yang menutupi mata. Saya malu dengan wajah culun saya, hahahaha.
Pokoknya segitu rambut saya sebelum dipotong pendek.
Transformasi rambut saya dari panjang ke cepak 'jabrik-jabrik'. Ya ampun saya merasa alay sekali....

Kelar potong rambut, saya langsung merasa ‘keren’ karena rambut belakang saya bisa dijabrik-jabrik. Seperti rambut dua teman saya itu. Namun sayang, rambut saya yang emang dari sononya ikal ini nggak mudah untuk di-styling. Beda sama rambut teman saya itu yang emang lurus, jadi lebih muda buat ‘dijabrik-jabrik’. Gak mau nyerah, akhirnya saya beli wax rambut. Karena udah kepanjangan dan emang teksturnya tipis, rambut saya susah banget mau diberdiriin. Sampe-sampe rambut saya terasa cepat lepek karena pake wax berlebihan. Akibatnya, saya pun risih sendiri; apalagi kalo udah waktunya pulang sore. Wah rasanya pengen cepet-cepet nyampe rumah dan keramas! Akhirnya mendekati kelas 3, saya ‘sadar’ bahwa rambut jabrik-jabrik ini ridiculous buat saya. So I grew my hair back…


Masa SMA (2005-2008)

Memasuki tahun 2006-2007, saya lebih bereksperimen sama poni dan membiarkan rambut saya panjang tergerai dibawah bahu. Sempat juga sih seleher, namun ternyata tetep saja saya panjangin. Saya lupa alesannya kenapa, mungkin karena lagi bosen rambut pendek ya. Oya, semasa SMA rambut saya lebih sering dimodel ‘segi’ dan dibuat ‘njebubug’ (atau tebel deh) diatasnya. Kayaknya biar lebih keren deh waktu itu, hahaha entahlah. Mungkin karena saya juga lagi doyan musik emo, alternative dan punk ya. Jadi dibuat se-beda/se-unik mungkin, asal tetep keliatan cewek dan… nggak gundul! Haha.

Model rambut apa ini, saya nggak tau hahahaha *ketawa nyinyir*
Mulai 'normal' di tahun 2008. Oya, waktu ini saya difoto sama sahabat saya, Putri Setyarini.
Doi lagi suka fotografi dan saya jadi model papan tripleknya :p


Masa kuliah (2008-2014)


Tahun 2008 sampai awal tahun 2009, saya benar-benar memanjangkan rambut. Rasanya itu rambut terpanjang yang pernah saya punya deh. Kadang geli gitu kalo diinget-inget lagi, kok bisa ya saya tahan sama rambut sepanjang itu? Lucunya juga, untuk menghindari bosan, saya bereksperimen lagi sama poni. Bosan poni samping, akhirnya saya ambil gunting untuk potong rambut punya Mama. Saya potong poni sendiri dan hasilnya ternyata failed. Wajah saya terlihat makin nerd karena waktu itu lagi pake kacamata minus warna merah. Saya pun merasa seperti Betty La Fea (masih inget?).

Menjelang pertengahan 2009, saya lagi pusing-pusingnya sama perkuliahan dan masalah pribadi. Mungkin karena sumpek, akhirnya saya potong deh rambut panjang itu. Nggak ada penyesalan apa-apa sih setelah potong rambut, malahan saya merasa kepala ini lebih enteng. Diem-diem saya juga merasa lebih keren, karena berani mencoba potongan rambut asimetris. Haha duh malu banget.

Eh ternyata kedepannya rambut pendek itu nagih. Panjang sedikit, saya langsung gerah karena ngeliat potongannya nggak karu-karuan. Apalagi kalo lagi punya rambut berpotongan asimetris. Wah udah kayak orang salah pasang extension lah. Akhirnya saya mutusin buat mencoba potongan ‘bowl cut’ ato gampangnya, ‘rambut mangkok’ di bulan September 2010. Saya selalu terinspirasi dengan rambutnya Karen O, vokalisnya Yeah Yeah Yeahs. Udah gitu, ternyata dulu Mama juga sempat berambut seperti itu. Setelah dicoba, ternyata emang rambut saya nggak bisa sekeren Karen O, karena beda tekstur. Rambut ikal saya pun membentuk bowl cut versi lain, dimana alur rambutnya tidak bisa ‘benar-benar’ bulat seperti mangkok, tapi malah seperti mangkok bergelombang.

Bosan dengan rambut mangkok, saya pun mencoba yang lebih ekstrem ketika rambut saya memanjang. Waktu itu awal tahun 2012 dan lagi ngetren rambut cewek yang dipangkas abis bagian samping dalemya. Kalo temen-temen saya ngomong, itu rambutnya di-‘skin’. Haha mungkin ada hubungannya sama rambut cewek-cewek skinhead ya (entahlah). Yaudah, akhirnya saya beranikan diri buat niru gaya rambut itu tapi gak terlalu berlebihan juga. Hasilnya bisa diliat di foto saya bulan Januari 2012. Saya nggak memangkas bagian samping rambut karena nggak berani. Eh ternyata mbak yang motong rambut saya itu handal, doi bisa ngebentuk rambut saya seperti itu tanpa harus dipangkas habis *yey*. Menurut saya, itu rambut terkeren yang pernah saya punya. Nggak shuvit, tapi emang keren. Haha narsis dah.

Di bulan November 2012, rambut mulai panjang lagi sampai seleher dan poni saya udah ilang. Jadinya saya mau nggak mau ‘membelah tengahkan’ rambut dan merasa nggak memiliki identitas ‘kuat’, karena rambut saya tidak seunik itu lagi. Hahaha segitunya ya. Iya lho. Akhirnya awal tahun 2013, saya mencoba potongan rambut asimetris lagi yang menurut saya paling keren waktu itu, tapi hasilnya tidak seperti yang saya bayangkan. Satu sisi rambut terlalu panjang dan sisi lainnya terlihat seperti habis ‘dipetal’. Padahal waktu itu lagi Lebaran dan ketemu keluarga besar. Yaudah lah saya pasrah aja, yang penting saya nggak gerah lagi.

Bulan Oktober 2013, rambut saya mulai nggak karu-karuan. Waktu itu saya lagi skripsi dan mungkin butuh hal-hal baru yang bikin saya nggak suntuk. Salah satunya ya bereksperimen dengan potongan rambut lagi. Seperti yang kemaren, potongan rambut baru saya yang asimetris itu failed banget. Bisa lihat kan di gambar; betapa rambut saya seperti ‘berhenti dipotong di tengah-tengah’ karena tiba-tiba orang yang motongin harus ke toilet. Geez, saya rasa itu potongan rambut teraneh saya selama ini :(


Masa sekarang (2014-2015)


Menjelang awal tahun 2014, saya mulai gerah dengan ‘ketimpangan’ rambut saya dan memutuskan memotong cepak. Ini juga termasuk persiapan wisuda saya sih di bulan Februari 2014. Saya nggak mau rambut saya susah diatur di hari itu, hahaha. Yaudah deh di bulan Desember 2013, saya potong rambut lagi dan hasilnya ternyata memang pendek banget. Rasanya itu pixie cut terpendek yang pernah saya punya. Sempet sih merasa nyesel, tapi orang-orang sekitar saya bilang rambut pendek itu cocok buat saya. Pacar saya pun juga malah makin suka. Doi bilang doi emang tipe cowok yang suka cewek rambut cepak. Aha.

Sejak potong rambut cepak itu rasanya saya nggak balik lagi ke salon sampe saya pindah ke Sydney. Gara-gara suka liat gaya rambut cewek bule yang dicepol atas, saya jadi pengen punya rambut panjang. Akhirnya semasa di Sydney, saya nggak pernah ke salon lagi walopun diem-diem saya gerah juga karena rambut ini nggak jelas bentuknya. Abis gimana, biaya perawatan rambut di Sydney mahal. Sekali potong rambut bisa lebih dari Rp 300.000an. Yaudah, saya sabar-sabarin panjangin rambut sampe tiba waktunya pulang ke Indonesia.

Setibanya di Indonesia bulan Desember awal, saya langsung memotong rambut yang panjangnya sudah seleher itu. Staff salon langganan saya pun bilang kok saya sudah lama nggak kesitu. Saya pun cuma senyum dan bales ngomong kalo saya pengen potong pendek seperti biasanya. Waktu dipotong, saya nggak bawa model rambut apapun. Saya cuma minta hair dresser-nya buat merapikan rambut saya. Akhirnya rambut saya jadi kayak di foto bulan Desember 2014 itu deh.

Karena mulai panjang lagi dan makin nggak jelas; terlebih karena poni yang sudah panjang, saya memutuskan potong rambut lagi. And there it is, rambut saya yang terbaru ada di foto bulan Januari 2015. Saya nggak bawa model rambut lagi ke salon waktu itu. Saya cuma bilang kalo pengen potong pendek, tapi tolong disisakan sedikit rambut di kedua sisi telinga. Atasnya juga tolong dibuat lebih tebal. Akhirnya hair dresser-nya kerja cepat memotong rambut saya. Nggak sampe 10 menit, rambut saya sudah selesai dipotong. Kalo saya liat, modelnya sedikit seperti bowl cut, tapi lebih acak. Ya gitu deh pokoknya.

Perubahan rambut saya dalam 5 tahun :)

Ya gitu deh, akhirnya dari jaman kuliah sampe hari ini saya menulis blog, saya merasa lebih cocok berambut pendek. Mungkin orang tua saya sudah melihatnya daridulu, makanya waktu kecil saya selalu dipotongkan pendek rambutnya. Staff salon pun juga bilang saya cocok berambut pendek dan pacar saya juga malah suka kalo rambut saya begini. Saya sih bersyukur aja, karena kadang ada orang yang menilai cewek ga sepantasnya berambut pendek; dibilangnya kurang feminin, gitu. Itu sih yang menurut saya jadi alesan beberapa cewek juga yang takut potong pendek. Tapi ya sudahlah, bentuk rambut kan pilihan personal. Yang penting menurut saya, rambut pendek itu enak karena praktis, nggak ribet ngurusnya dan ringan di kepala. Haha agak klise sih, tapi bener lho. Coba aja deh :p

*****

Oya, ini saya punya TIPS buat yang pengen bereksperimen sama rambut, tapi bingung mulainya darimana.

1. SPONTAN AJA
Jangan kelamaan mikir, jangan takut juga. Kita nggak akan tau hasil potongan rambutnya kayak gimana kalo nggak dicoba. Tapi kalo failed gimana? Nah, biar nggak ‘hancur-hancur’ amat, kita bisa… (lanjut ke poin 2)

2. Research kecil-kecilan dulu
Cari tau potongan rambut apa yang cocok dengan bentuk muka. Kalo saya sih benernya nggak peduli amat cocok ato enggaknya di muka saya. Yang penting rambut pendek dan saya suka dengan modelnya. Kalopun nggak cocok, ya sudah mau gimana lagi. Tinggal nunggu rambutnya panjang dan nanti dirapikan lagi. Gampang ‘kan? Nah, tapi bagi yang nggak mau kayak gitu, ya mending research dulu sih.

3. Manfaatin Internet (baca: Google Images dan Pinterest)
Yang paling gampang sih kalian googling model rambut yang lagi ngetren saat itu, atau ya langsung aja ketik model rambut yang kalian inginkan di keyword Google Search. Jebrettt, keluar semua kan gambarnya. Kalo merasa kurang spesifik, kalian bisa coba Pinterest. Baru-baru ini saya pake Pinterest buat nge-pin foto-foto orang berambut pendek yang menurut saya keren. Saya seneng sih dengan adanya Board ini, karena saya nggak perlu ribet lagi searching di Google Images dan menemukan gambar-gambar yang nggak saya mau. Cukup Log In di Pinterest, revisiting board khusus gambar-gambar short haircuts, pilih yang saya mau, bawa ke salon deh.

Halaman Pinterest board saya.


4. Kalo emang udah cocok sama satu salon, stick to it
Menurut saya, bikin lebih mudah kalo mau potong rambut. Karena sering kesana, otomatis staff salonnya kan hafal sama kita. Dan pastinya, hair dresser langganan juga udah hafal sama tekstur rambut kita. Jadinya dia lebih paham deh potongan gimana yang cocok sama rambut kita ini.

5. Cocokin sama kepribadian!
Ini mungkin udah sering dimana-mana ya. Ya emang sih, menurut saya akan lebih oke kalo cewek aktif dan banyak gerak itu mendingan berambut pendek. Kalo yang emang doyan dandan, ya go with the long hair. Seperti yang udah saya ceritain diatas, pernah saya pengen rambut ini bisa dicepol layaknya cewek-cewek Aussie. Jadi, saya panjangin deh rambut pendek itu. Eh gak lama, saya gak tahan juga. Padahal panjangnya baru seleher. Saya langsung merasa gerah setiap ngeliat foto saya, karena muka saya kerasa kurang ‘fresh’ dengan rambut yang ‘lari’ kemana-mana. So I learned something. Kalo emang suka (dan cocoknya) dengan suatu model rambut, ya begitu aja. Tinggal eksperimen potongan atas dan sampingnya. Nggak usah maksain juga kan :p

6. Kalo mau stay safe, eksperimen aja sama poni
Kalopun failed, masih ada ribuan bobby pin di luar sana yang bisa kita pake. Plus, aksesori-aksesori rambut lainnya seperti scarf, bando ato topi. Oh, serta produk-produk styling rambut lainnya kayak gel atau wax. Browsing aja deh tutorialnya di YouTube. Banyak kok cewek-cewek luar yang ngasih tips gimana nge-styling pixie cut. Kadang kalo liat langsung terinspirasi gitu. Hehe.