Pages

Friday, June 26, 2015

22.00 - 3.00

Kamis, 25 Juni 2015, pukul 22.00, kamar apartemen.

Kedua mataku semakin memberat. Mungkin efek 2 tablet flu yang kuminum setelah makan malem. Maklum, aku paling terganggu sama hidung yang berair. Inginnya cepat-cepat bugar dan bisa beraktivitas dengan lancar.

Pelan-pelan kupejamkan mata. Mencoba merilekskan pikiran dan badan. Cukup susah, mengingat pukul 6 pagi aku harus meninggalkan rumah. Kalau tidak, bisa ketinggalan bis ke Canberra. Ya, weekend ini aku akan menghabiskan waktu di ibukota Australia tersebut. Menemui pakde dan bude sebelum mereka mudik ke Indonesia. Sekaligus jalan-jalan dan 'istirahat' dari kota Sydney yang buzzing.

Drrrrtt....drrrtt..... Suara fan dari heater menemani detik-detik sebelum aku terlelap. Badanku menghangat. Aku gelisah. Masa harus mandi lagi sih, tanyaku pada diri sendiri. Kuturunkan selimut dari leher ke pinggang, sehingga bahu dan dada bisa merasakan angin dingin. Tok, tok, tok...! "Kiza!". Tok, tok, tok...! "Kiza!". Tiba-tiba seseorang mengetok pintu kamar dan memanggil namaku dari luar. Suaranya cukup familiar. Kedengarannya seperti Audrey.

Kuputuskan untuk membuka mata. Aneh, aku belum juga se-ngantuk itu. Aku pun beranjak dari tempat tidur, menarik jaket dari kursi meja belajar, lalu kupakai cepat-cepat. Jeglek! Kubuka pintu kamarku. Ternyata Laura, housemateku dari negara China, sudah berdiri didepan dengan sebuah mangkuk kecil. "Oh, sorry, you're already sleeping!" katanya sambil terkejut ketika melihat lampu kamarku yang remang-remang. "No, no, it's okay. Yeah, I just took a medicine." jawabku sambil nyengir. "Here, I made a dessert for you. You can eat it when it's cooler," dia menyerahkan mangkuk yang berisi manisan bewarna kuning dan rumput laut itu. "Oh, wow. Thank you so much, Laura!" kuterima mangkuk itu dan Laura berbalik menuju kamarnya.

Jeglek! Kututup pintu kamar. Soswit sekali sih housemate-housemateku ini. Sukanya share makanan. Bisa dibilang enak lagi. Ah, beruntungnya aku tinggal di rumah ini, batinku. Kuletakkan mangkuk hangat itu di pinggir meja belajar dan bersiap untuk tidur lagi. Sayup-sayup terdengar suara Nehan, teman kami yang tinggal di sebelah apartemen, dan riuh suara piring dan sendok dari bawah. Mungkin mereka lagi late dinner dan bersiap akan nonton film malem ini. Kuambil hapeku, kubuka group chat Facebook dan minta maaf kalo nggak bisa gabung. Kubilang aku harus tidur lebih awal, berangkat pagi keesokan harinya, dan film pilihan mereka, "Let's Be Cops", itu hilarious.

Kuletakkan hapeku lagi di sebelah bantal. Aku harap suara alarm bisa terdengar lebih nyaring. Sebelum benar-benar memejamkan mata, kusugesti terus diri ini supaya besok bisa bangun pagi. Kalau tidak, mungkin aku akan "bablas" sampe jam 8 pagi. Kutarik lagi selimutku sampai ke pinggang. Tubuh ini masih hangat. Ah, ya sudahlah. Yang penting sekarang harus tidur. Tidur dan tidur....

Jumat, 26 Juni 2015, pukul 03.00, kamar apartemen.

Mendadak kubuka mata. Ah, masih jam 3 pagi, batinku ketika melihat jam di meja belajar. Kuambil hape dan memastikan alarm masih terpasang. Masih ada 2 jam lagi sebelum kuputuskan benar-benar bangun. Tidur lagi aja deh. Aku taruh hape itu disamping bantal dan membenarkan posisi tidurku. Kupejamkan mata, mencoba terlelap lagi. Semakin susah. Aku semakin gelisah. Takut tidak bisa bangun pagi.


Kubuka lagi mataku dan kuputuskan untuk bangun. Mungkin sebaiknya sahur aja, kataku sambil melihat kotak kecil yang berisi kue Babka kemarin. Aku berdiri, kupakai jaketku dan meraih kotak tersebut. Dengan lampu yang masih remang-remang, kunikmati dini hari ini dengan manisnya kue Babka yang kubeli dari Shenkin Cafe. Enak sekali. Rasanya pengen setiap hari makan ini.

Nyam, nyam, nyam. Kutelan rempahan kue terakhir itu. Ah, rasanya masih kurang. Aku butuh banyak tenaga besok. Kalau tidak, rencanaku jalan kaki mengitari kota Canberra bisa gagal. Kuputuskan turun untuk mengambil potongan donat dan buah lemon dibawah. Aku harus mulai rajin minum honey lemon lagi. Tanpa diundang, tiba-tiba niat itu datang ketika aku akan membuka pintu. Yuk, mari kita sahur....

 

Tuesday, June 23, 2015

June 22, 2015: On being neat, a student, sushi eater and karaoke singer

1. "Your room is so neat!"

Sore itu aku lagi baca berita di The Jakarta Post online saat Peter dan Vanessa masuk ke kamarku. "I wonder how your room could be so neat. It's so minimalist," kata Vanessa sambil memandangi kamarku. "I've got a lot of things in my room. I can't be this neat," lanjutnya. Denger dia ngomong gitu, aku memutar kursiku dan menatapnya dengan bingung. "Well, I don't know. I think it's just... you know, like my father always asks me to clean my room." "Like you always throw things out if you don't need it anymore?" tanya Vanessa. "Hm, not really," jawabku. Aku makin bingung mau jelasin kayak gimana, soalnya kedua orang tuaku emang concern banget sama kerapian dan kebersihan. Sejak kecil, aku selalu disuruh bersihin kamar sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga. Saking kebiasaan apa-apa sendiri, aku suka heran kalo liat temen yang dibantu 'asisten'nya pas bersihin kamar.

Pas udah gede gini, aku nyadar kalo aku makin jadi "neat-freak" layaknya Jerry Seinfeld yang selalu nata rapih cereal box-nya di laci. Aku suka gemes sendiri kalo liat sesuatu yang 'melenceng' dari tempatnya, out of order, ataupun nggak sejajar dengan barang di sebelahnya. Contoh kecilnya adalah merapikan letak botol toiletries di kamar mandi apartemen. Karena kamar mandi ini dipake sama 4 orang sekaligus, otomatis botol-botol kami nggak muat ditaruh di rak kecil yang udah disediain sama manajemen. Kami cuma bisa naruh 'gitu aja' di lantai shower box. Anehnya, aku suka merasa 'tergelitik' kalo misal botol-botolnya nggak berbaris rapi gitu. Langsung deh aku tata lagi letaknya sampe terlihat sejajar satu sama lain.

Same thing happens saat aku ngeliat dapur apartemen yang 'rentan' berantakan. Namanya orang yah, kadang males gitu 'kan naruh piring-piring yang abis dicuci di tempatnya lagi. Apalagi kalo lagi sibuk (ato sengaja sibuk?), pasti nggak sempet lah ambil piring satu, ngelap sisa-sisa basuhannya, buka laci, terus make sure supaya piringnya nggak 'tabrakan' sama sebelahnya. Gara-gara suka nggak tahan liat tumpukan peralatan makan yang udah kayak gunung, aku suka voluntarily ngerapihin itu. Saat housemateku noticed itu, mereka bilang, "Thanks for doing that." Lucu ya kalo dipikir. Sebegitu suka rapinya sampe-sampe temen di Indonesia nyebut aku "Kiza anak simetris".......

2. "Wait, you had 12 subjects in one semester?"

Sambil nunggu jarum jam nunjukin pukul 18.30, aku ngobrol sama Peter yang lagi tengkurep santai di kamarku. Dia lagi ngecek nilai mata kuliahnya di hape dan tanya, "Were you doing good in your bachelor's degree?". Aku muter mata. "Hm....yeah, I could say that." "Did you get mostly A?" tanya Peter lagi. "Well, yeah... but I got B too. You know, it wasn't that hard," kataku setelah bikin perbandingan super kilat antara bobot kuliah S1 dan S2-ku. Air muka Peter mulai berubah, dia jadi penasaran. "How many subjects did you take in one semester?" tanyanya. "Twelve...?" aku segera menambahkan sebelum Peter loncat terkaget-kaget. "It's because one subject equals to two credits and I had to take at least 24 credits in one semester. So, yeah, I had twelve subjects."

Peter makin penasaran. "Twelve subjects! You seemed to make it pretty easy. Oh, I shouldn't have been whining about my results." katanya sambil mendengus lemes. Aku ketawa dan menjelaskan kalo hal itu normal terjadi di Indonesia. Nggak sebanding sama anak-anak S1 sini yang ambil 4 mata kuliah dengan bobot 6 sks setiap subject. "But how could you make it fair?" Peter terlihat masih bingung. "Okay, so you guys are taking four subjects in a semester. One subject equals to 6 credits. For us, 6 credits are like... you're writing a thesis," jelasku. Aku harap Peter ngerti gimana 'overwhelming'nya dapet 4 mata kuliah dimana bobot satu matkul itu udah kayak skripsi. "Oh, okay. Yeah, yeah." Peter mengangguk mengerti. Aku jelasin lagi kalo murid-murid di Indonesia itu kayaknya kebanyakan ambil (atau harus ambil) subjects pas sekolah, yang akibatnya bikin kita kurang fokus. Peter pun lanjut mengangguk dan aku pamit pergi ke City.

3. 14 plates of sushi dan karaoke lagu "Surti Tejo" di Sydney!

Aku sampai di mall The Galeries jam 7 malem. Limabelas menit lebih awal dari waktu janjianku, Anty dan Karina. Yup, malem itu aku akan mentraktir mereka makan sebagai perayaan ulang tahunku. Pilihan kami jatuh di Sushi Hotaru yang terletak di Level 1. Sesampai disana, kami masuk dalam Waiting List karena banyaknya orang yang mau dinner disitu. Setelah nunggu belasan menit, aku, Anty dan Karina masuk dan duduk di meja sempit yang dilengkapi dengan iPad. Aku sempet berdecak kagum ala "ndeso" gitu pas liat. I mean, sebegitu "bondo"-nya restoran ini sampe naruh iPad di setiap meja sebagai alat penampil menu, pemesan makanan/minuman, dan pemanggil waiter. Maklum nggak pernah liat begituan di Surabaya. Apa udah mulai ada yah sekarang? Entahlah.

Layaknya orang abis puasa, semua piring yang berjejer di sushi bar itu terlihat menarik. Bolak balik aku menggumam, "Hm, ini enak. Eh, tapi yang itu keliatan lebih enak. Eh, yang mana yah?" Bingung sendiri deh. Tapi akhirnya kami bertiga ambil aja yang menarik mata semacem sashimi dan sushi-sushi yang mengandung ikan-ikanan, ayam dan keju. Kami juga memesan wagyu beef omelette yang enak banget. Sampe-sampe nggak kerasa kami udah abis 14 piring aja. Sangat kenyaaaang. Terus Anty nyeletuk, "Eh, ini masih kalah sama yang waktu itu kita makan bareng Audrey. 18 piring buat tiga orang." Aku ketawa mengingat ke'kalap'an kami pas di Sushi Rio. Kami menghabiskan sushi 18 piring, yang berarti 1 orang rata-rata makan 6 piring. Mungkin nggak ada apa-apanya sih ya kalo emang ada yang bisa sampe 10 piring dalam sehari. But still, we ate a lot that time.

Itu lho iPadnya.... *salahfokus*
(Foto: Karina)
Siap makan!
(Foto: Karina)
oops.

"Gimana kalo abis ini kita karaoke?" tiba-tiba Karina mengerlingkan matanya ke arah aku dan Anty. Kami segera menyambut ajakannya dengan antusias. Kelar membayar bill, kami bertiga jalan kaki menuju Bathurst Street dan masuk kedalam sebuah bangunan, yang ternyata adalah Big Echo Karaoke Box. Terlihat sepi dan nggak ada siapa-siapa didalam. Aku sempet nggak percaya itu tempat karaoke sih, abisnya dari luar terlihat strange...hm gimana yah, susah mendeskripsikannya. Remang-remang dan ditemani suara dari TV besar yang nampilin music video seorang Korean pop singer. Kami jalan lurus melewati koridor dan mataku 'menangkap' sebuah floor lamp berbentuk anjing hitam unik di sisi kanan. "Lucu sekali!" batinku. Aku langsung membayangkan gimana kalo rumahku nanti punya begituan.

Ketika sampai di meja resepsionis, kami disambut oleh banyaknya poster bertuliskan informasi dalam bahasa Mandarin. Disitu pun juga terdapat free magazines dengan cover wanita muda Asia yang berkulit putih kinclong, mata kecil, rambut diwarnai cokelat kemerahan plus senyum lebarnya. Aku jadi inget suatu majalah di Surabaya yang punya cover seperti itu. Sambil memandangi keadaan sekitar, aku nggak sadar kalo ada orang yang berdiri dibelakang rak majalah. Sepertinya doi security gitu, karena pake baju bernuansa kuning neon dan raut mukanya serius. Dia bilang yang in-charge akan datang sebentar lagi. Kami pun mengangguk dan melenggang awkward di sekitar situ.

Beberapa menit kemudian, seorang lelaki berparas Chinese datang. Keliatannya dia abis serving drinks ke guests yang ada di tempat karaoke itu. Karina tanya masih ada room yang available nggak. Dia bilang masih. Oke kami keluarin duit AUD 12 dari dompet dan membayar room fee-nya. Laki-laki itu pun bergerak keluar dari bilik mejanya dan memberi aba-aba semacam "Follow me". Dia juga mengisyaratkan kalo kita dapet free drink dari vending machine disana. Setelah memilih minuman, aku, Anty dan Karina menuju ruangan yang ditunjuk mas-mas tadi, yaitu ruangan bernomor 20. Pas dibuka, kami takjub ngeliat how big the room was. Terlalu besar untuk kami yang cuma bertiga. Kayaknya muat sampe belasan orang deh, batinku begitu.

It's been a while sejak terakhir aku pergi karaoke. Kayaknya terakhir taun 2009 deh pas sama temen-temen les bahasa Inggris. Astaga hampir 6 taun lalu! Lama juga yah. Selain karena sadar diri gara-gara suara ini tipenya "penyet", aku juga bukan tipe orang yang doyan nyanyi, even di dalam kamar mandi. Aku lebih jadi yang dengerin, mencermati liriknya, terus syukur-syukur kalo bisa mainin itu di piano. Itupun kalo lagi mood dan niat banget. Anyway, so here we are. Di sebuah ruangan karaoke gelap yang menyediakan 2 wireless mic dan 2 mic berkabel. Satu TV besar dan satu screen navigasi. How I miss being in a karaoke room! Kayaknya hal yang sama juga dirasain Anty dan Karina deh. Karina langsung semangat gitu milih-milih lagunya di pojokan ruangan.

Aku lupa lagu pertama kami apa saat itu. Yang jelas aku surprised ketika mereka punya stok lagu Indonesia, contohnya punya Jamrud, Sheila On 7, Dewa, Project Pop, Ada Band, Maliq and D'Essentials sampe Tulus dan Raisa. Yang lebih hilariousnya lagi, mereka nyisipin video binatang-binatang lalu lalang di Taman Safari saat lagu "Pupus" nya Dewa yang haru biru itu! Sumpah deh, saat itu bikin ngakak banget. Mana sempet ada scene dimana muka unta di close up banget pas lirik lagi 'dalem-dalem'nya. Ngajak becanda banget pokoknya.

Karya Karina! :))))
#eaaaa
Kusadari cintaku pada..... unta?
Jauh-jauh ke negeri seberang cuma buat nyanyi "Surti Tejo", haha. Anyway, foto ini juga udah aku upload di Path dengan caption yang sama.
Nggak kerasa tiba-tiba udah jam 12 malem. Lagu "F For You" dari Disclosure ft. Mary J Blige masih mengalun. "I've been infected with restless whispers and cheats / That manifested in words and lies in your speak...". Begitu terus sampe layar karaoke dinonaktifkan. Kami tersenyum puas dan segera bersiap untuk pulang. Ah, malam yang menyegarkan!

Cewek nggak bisa liat kaca toilet nganggur :p
(Foto: Karina)

Doodle yang aku buat saat nggak bisa tidur. Waktu itu lagi dengerin Björk yang album Volta. Tepatnya pas lagu "The Dull Flame of Desire".

Monday, June 22, 2015

Free Days in Sydney: Week 1

Mulai tanggal 13 Juni 2015, bisa dibilang aku udah 'free' dari kegiatan kampus. Ya, tugas-tugas akhir sudah aku kumpulkan dan kini tinggal menanti hasil. Jadinya lah aku punya waktu untuk kembali menulis blog, entah hanya sekedar menceritakan pengalamanku atau mencurahkan pikiran-pikiran yang cenderung reflektif. Hehe. Okay, inilah rekapitulasi minggu pertama!

Senin, 15 Juni 2015 

1. Ke Light Show di Museum of Contemporary Art, Australia

Sebenernya udah dari dulu aku sama Anty pengen ke pameran ini, tapi kemaren emang baru sempet gitu. Dengan berbekal duit AUD 20, kami siap mengantri didepan counter tiket bersama rombongan ibu muda, para bayinya dan dua kakek lokal. Sambil menunggu, sesekali aku curi pandang ke para ibu ini dan bayi-bayinya yang di stroller. How cute, batinku. Cute dalam arti mereka sama-sama bawa anak dan ke pameran seni. I mean, aku jarang ngeliat hal itu di kota asalku, dimana setauku mama-mama muda kalo ngumpul ya di mall sambil makan bareng gitu, ato mungkin belanja (?). Tapi disini, mereka memilih ke gallery yang bisa dibilang di pucuk Sydney CBD dan menikmati karya-karya hebat disana.

Pandanganku pun beralih ke dua kakek yang mengantri di sebelah aku dan Anty. Hal yang sama kurasakan saat ngeliat ibu-ibu tadi. Maksudku, di kota maju seperti Sydney ini, aku bisa ngerasain kalau karya seni itu dinikmati oleh masyarakat dari seluruh umur. Nggak kayak di Surabaya yang kalo pameran macem gini ini mungkin akan banyak dinikmati anak muda. Intinya, di Sydney aku sering merasa kalo kegiatan seni berbudaya itu nggak cuma banyak dilakukan sama mereka yang in their twenties, tapi juga sama para elderly yang 'kakung' banget ato anak-anak SD. Bahkan pameran yang "kvlt" macem Zine Fair aja nyisipin activities yang bisa diikuti anak-anak. Jadi aku semacem surprised aja dan semacem salut sama budaya disini.

Setelah ibu-ibu itu kelar bertransaksi, aku dan Anty maju ke counter dan disambut ramah oleh staff MCA. Seperti biasa mereka menyapa, "Hi, how's it going?". Udah hapal sama custom tersebut, kami jawab, "Good. Thanks." Kami bilang kalo pengen ke Light Show dan staff tersebut mengiyakan. Tiba-tiba Anty nyeletuk dan tanya kita bisa nggak masuk pake harga Concession, bukan harga Adult. Ternyata bisa. So, instead of paying AUD 20, aku dan Anty beli tiket ke Light Show dengan harga AUD 15 per orang. Lumayan lebih murah AUD 5, bisa dibuat beli kopi satu hehe (kembali beberapa cents malah). 

Tiket ke Light Show yang aku foto beberapa hari selanjutnya. Hehe.

Sesampe di area pameran, kami berdua menyusuri karya 17 seniman internasional yang sebelumnya ditampilkan di Hayward Gallery, London. Para seniman ini ialah James Turrell, David Batchelor, Jim Campbell, Carlos Cruz-Diez, Bill Culbert, Dan Flavin, Ceal Floyer, Jenny Holzer, Ann Veronica Janssens, Brigitte Kowanz, Anthony McCall, François Morellet, Iván Navarro, Katie Paterson, Leo Villareal, Conrad Shawcross dan Cerith Wyn Evans. Kebetulan favoritku adalah karya dari seniman dengan nama awalan C, yaitu Carlos Cruz-Diez dengan "Chromosaturation" (2008), Cerith Wyn Evans dengan "S=U=P=E=R=S=T=R=U=C=T=U=R=E (‘Trace me back to some loud, shallow, chill, underlying motive’s overspill…’)" (2010) dan Conrad Shawcross dengan "Slow Arc Inside a Cube IV" (2009). Karya mereka ini sukses bikin aku melongo-longo karena lovely banget kalo diliat dan 'dirasakan'.

Sayangnya, para pengunjung nggak dibolehin foto-foto karena lampu flash dari kamera bisa "interfere" sama artworksnya dan ganggu "experience" orang lain. Tapi yang namanya orang-orang era socmed yah, maunya tetep foto diem-diem biar hasilnya bisa ditunjukin ke publik. Alhasil kalo kita search "#mcalightshow" di Instagram, kita bakalan liat seratusan foto saat orang mengunjungi pameran ini. Kalo kata Anty, mungkin kita nggak dibolehin foto karena ini pameran yang memungut biaya. Hm, make sense juga sih.

Ini BUKAN karya yang terdapat di Light Show, melainkan karya di salah satu ruang pamer Museum of Contemporary Art. Abisnya boleh difoto sih :p

2. Jalan kaki menyusuri Sydney Harbour Bridge

Kelar liat Light Show, aku dan Anty buka Google Maps buat liat arah menuju Sydney Harbour Bridge. Anty nyuruh aku buat inget-inget lagi jalan kesananya gimana. Oh my, urusan inget jalan ini emang kelemahanku. Dulu sih aku udah pernah kesana pas ikutan day trip kampus bareng international students lain, tapi entah kenapa aku lupa jalan menuju sana. Abisnya waktu itu kami dipandu sih, bukan cari sendiri. Akhirnya setelah coba rute sana-sini, aku dan Anty nyampe juga di jembatannya. Pemandangan awal yang kami liat ialah rentetan orang yang lagi jogging. Aku langsung, "Waduh kayaknya aku salah pake sepatu deh," sambil liat sepatu Docmart ku yang notabene lumayan berat. Trus Anty bilang, "Ya dicoba aja jalan sampe tengah-tengah. Kalo capek, baru kita balik lagi." Merasa seperti 'kalah' kalo misal kayak gitu, aku segera meyakinkan diri kalo the boots won't mess with me, karena emang udah terbiasa pake itu kemana-mana.

Salah satu bangunan di kawasan The Rocks yang menarik perhatianku. Bisa matching gitu yah warna tanemannya sama garasinya :)

Menurut website resmi Pemerintah Australia, Sydney Harbour Bridge mulai dibangun tahun 1924 dan dibuka pada tahun 1932. Saat pengerjaannya, 16 pekerja kehilangan nyawanya dan rumah 800 keluarga dihancurkan tanpa kompensasi. Walopun begitu, jembatan ini menempati urutan ke-6 buat kategori "the longest arch bridge spans" dengan bentangan sepanjang 503 meter ato 1.650 kaki. Sydney Harbour Bridge juga diklaim sebagai "the world's largest steel arch bridge" dengan bagian atas jembatan yang berdiri 134 meter dari permukaan air laut (statistik ini terakhir diapdet bulan Agustus taun 2008).

Untuk para pejalan kaki seperti aku dan Anty, pemerintah Australia nyediain fasilitas footway di bagian timur Sydney Harbour Bridge yang dikenal juga dengan sebutan "The Coathanger". Terakhir pas aku kesana sih footway-nya udah dikasih tanda dua arah sepanjang jalan, jadi ngga ada ceritanya orang jalan ditengah-tengah dan ganggu arus. Ini termasuk salah satu topik pembicaraanku sama Anty pas jalan. Aku semacem menggumam, "Wah, mau jalan di jembatan aja ada aturannya ya." Anty nge-respon, "Iya, hal-hal kecil begini aja diatur. Emang sih kalo mau bikin Indonesia jadi lebih baik, ya harus mulai dari culture orang-orangnya dulu." Aku mangut-mangut tanda setuju. Terus Anty bilang, "Ini kalo di Indonesia udah ada orang-orang yang jualan di pinggir jalan." Kami langsung ketawa-ketiwi ngebayangin bedanya suasana jembatan di Sydney dan di kota-kota Indonesia. Tapi didalem ati mungkin kami merasa miris, karena disini aja orang mau diatur sampe ke masalah jalan kaki di jembatan. Selama pengamatanku, orang-orang sini ya nurut aja gitu sama aturan yang berlaku. Mereka yang dateng dari arah The Rocks ya jalan di samping kiri, yang dateng dari arah North Sydney jalan di sebelah kanan. Menarik ya. Coba kalo di Indonesia, mungkin kita-kita ini udah menyebar dan sibuk ber-selfie/wefie ria sepanjang jembatan. Sampe orang yang mau jalan mungkin ikutan nengok atopun harus 'menggak-menggok' demi menghindari orang lain.

Sydney Harbour Bridge, 15 Juni 2015.

Terus aku mikir lagi ketika melihat security guards yang berjaga di sepanjang jembatan. Aku tanya ke Anty, "Eh itu security buat apa ya ditaruh disini? Kan udah ada CCTV gitu." Anty bergidik nggak tau dan becanda kalo Australia kebanyakan duit, jadi mampu naruh staff buat jagain jembatan. Aku ikut ketawa, tapi masih terheran-heran juga karena hal semacem gini nggak ada di Indonesia. Masa ada gitu 'kan satpam yang tiba-tiba ditaruh di tengah jembatan. Yang ada malah tadi tuh, penjual asongan ataupun (maaf banget) pengemis. Nah di Sydney Harbour Bridge ini, aku  ngeliat dua penjaga yang terlihat hanya berdiri memantau keadaan setempat. Sesekali aku liat mereka jalan beberapa langkah juga sih, tapi aku nggak tau mau ke arah mana. Pas aku nulis postingan ini, aku jadi penasaran dan nyoba browse kenapa ada guards yang ditaruh di jembatan tersebut.

Tigabelas tahun lalu tepatnya 28 November 2002, salah satu program di ABC Local Radio, The World Today, udah ngebahas masalah keamanan di Sydney Harbour Bridge. Dalam transcript program itu, Paul Willoughby dari the New South Wales' Roads and Traffic Authority bilang, "There are huge numbers of people obviously who cross the bridge on a daily basis. There's more than 100,000 vehicles, there's pedestrians, there's cyclists. There's thousands of people on trains in both directions. It's simply not possible and we don't want to, we're not trying to check those people. But this is a visible presence on the bridge. It's people who are patrolling the bridge and have an ability to provide an alert to police if that's necessary." Dari statement itu, aku menyimpulkan kalo security guards itu ada di jembatan simply buat patroli dan ngebantu ngasih alert ke polisi kalo ada apa-apa. Bukan buat ngecekin barang orang yang keluar-masuk jembatan satu-satu, seperti apa yang didiskusiin presenter dan vox pop pas siaran saat itu.

Ternyata menyusuri Sydney Harbour Bridge juga nggak sejauh itu kok, cuma 1 kilometeran jalan yang berarti sama dengan 1.500-an langkah (ini estimasi dari website sih). Lumayan. Nggak kerasa juga karena disambi ngobrol sama Anty. Kalo sendirian, apa kerasa lebih capek ya? Nggak juga rasanya. Abisnya selama jalan, para pedestrian bisa menikmati pemandangan landscape pelabuhan Sydney yang sibuk. Sydney Opera House yang cantik pun juga terlihat dari atas; bener-bener bikin foto jepretan kita makin "Instagramable" :p. Kalo pengen yang lebih serius, bisa mampir ke Pylon Lookout dimana visitors bisa belajar tentang sejarah dan konstruksi Sydney Harbour Bridge. Aku sama Anty sih pilih jalan terus aja, karena akan ada biaya kalo mengakses site itu secara keseluruhan. Hehe, maklum duitnya udah dibuat nonton Light Show :)))

Pemandangan yang aku potret dari Pylon Lookout.

Pasangan yang jalan didepanku ini soswit lho. Hehe nggak penting. Nggak ada maksud stalking mereka kok, ini cuma kebetulan pada masuk di frame foto aja.
Sesampai di ujung jembatan, aku dan Anty jalan menuju Milsons Point Station untuk tujuan berikutnya, yaitu Sydney CBD. Kami emang berencana window shopping di mall sekitaran sana, terutama The Galeries dimana Muji baru aja buka di Sydney. Aku juga kepikiran mau ke Kinokuniya Bookstore buat ngecek titipan Pucan. Yaudah, akhirnya kita turun di Town Hall Station dan jalan menuju mall itu. Aktivitas kami di sore hari yang mendung itu berakhir di suatu kafe (aduh lupa namanya!) yang nyediain merk kopi favorit Anty. Karena lagi agak flu, aku mesen teh Lemongrass and Ginger. Pas pesenanku dateng, ternyata aku langsung dikasih 1 teapot gede gitu. Sukses dah bikin badan jadi makin enak besoknya.

Selasa, 16 Juni 2015

Late dinner di Lulu and YumYum dan makan dessert di Max Brenner Chocolate Bar

Kelar acara surprise ultahku, aku, Anty dan Karina makan malem di Lulu and YumYum, sebuah dumpling house yang 'keren' dan (ehem) cukup hipster di Newtown. Disana kami memesan 3 menu makanan, salah satunya adalah Flying Seafood Dumpling. Merasa kurang kenyang, kami bertiga mampir ke Max Brenner Chocolate Bar di deket apartemenku untuk sebuah dessert. Disana, Karina memesan hot dark chocolate, sementara aku dan Anty memesan cheesecake karena tergiur dengan tampilannya. Udah ngerasa cukup kenyang, kami sempet mikir mau lanjut ke Sydney CBD buat karaokean. Tapi akhirnya nggak jadi karena merasa udah terlalu malem (padahal ya masih jam 11 sih).

Rabu, 17 Juni 2015

1. Brunch di Cafe Shenkin, Enmore

Sehari setelah ulang taunku, Karina, Anty dan aku jalan kaki dari Newtown ke Enmore untuk brunch bareng. Ya, brunch culture di Australia emang masih hangat dibicarakan. Berbeda dengan New York dimana brunch "comes with benefits" seperti alkohol, brunch di Australia lekat dengan pressed juices dan kopi. Aku sendiri biasanya kalo di Indo nggak pernah brunch, karena emang selalu bangun pagi jadi jatuhnya breakfast. Tapi kalo disini, entah kenapa bangunnya siang melulu kalo nggak ada plan apa-apa. Mungkin karena hawanya yang 'kemul-able' ya, bikin mata pengen lama-lama merem dan menikmati lanjutan mimpi indah semalem. Hayah.

Anyway, malemnya aku sempet browsing kafe apa di Enmore yang enak buat brunch. Salah satu hasil yang keluar ialah Cafe Shenkin yang tersebar di kawasan-kawasan 'hip' Sydney, macem Newtown, Enmore, Erskineville dan Surry Hills. Di malem itu, Karina tertidur dikala aku lagi browsing karena dia abis minum obat flu. Alhasil kami belum bener-bener bikin keputusan akan makan dimana. Jadinyalah di pagi hari itu kami mutusin jalan aja menyusuri Enmore dan pilih tempat makan saat itu juga.

Pas didepan Cafe Shenkin tepatnya di 129 Enmore Road, the three of us were like "Eh, gimana? Disini aja kali ya." Kami pun masuk ke kafe kecil yang bernuansa hangat dan friendly itu. Sayang banget waktu itu aku lupa nama makanan yang kami pesen, yang jelas aku pesen Chai Latte dan Karina sempet nambah Apple Babka, kue ragi manis khas Polandia. Babka yang dipesen Karina ini ENAK banget, bikin aku jadi pingin balik lagi deh kesana. 

2. Mengunjungi graffiti site di Phillip Lane, Enmore

Kenyang makan, kami bertiga semacem bingung mau ngapain lagi. Karina musti cabut jam 1, sementara aku dan Anty berencana ke pameran foto di State Library of New South Wales. Mumpung di Enmore, akhirnya kami jalan ke sebuah gang yang penuh graffiti di Enmore. Tepatnya di sekitar Thurnby Lane, Wilford Street dan Phillip Lane. "Kamu kok bisa tau tempat-tempat ini sih?" tanya Karina saat itu. Aku jelasin kalo waktu itu aku emang jalan kaki aja menyusuri Newtown dan Enmore, liat kanan kiri, masuk ke gang-gang demi ngedokumentasiin graffiti yang aku pake buat tugas kuliah. "Sendirian?" Karina balik tanya. "Iya," jawabku. Sambil jalan memasuki Thurnby Lane, kami pasang mata secara seksama, cari spot yang bagus buat foto-foto. Ehe, biasa cewek gitu loh.

Phillip Lane, Enmore.

Ketika ngeliat mural gambar cewek di pojokan Phillip Lane, kami jadi tertarik mengeksplor gang itu. "Pas aku foto-foto, waktu itu ada artist yang lagi gambar disini gitu. Tadinya mau aku wawancara buat tugas, tapi nggak jadi deh," ceritaku sambil nyengir. Yes, waktu itu aku emang sempet ngeliat ada dua orang lagi pegang spray can dan lagi bikin artwork. Sayangnya, aku malu-malu dan memutuskan ngelewatin mereka yang seharusnya bisa jadi narasumber artikelku. Tapi ternyata bener, aku udah punya cukup banyak narasumber buat artikel 1000 kata itu dan keputusanku nggak wawancara 2 orang itu bisa dibilang cukup wise (?).

Pas masuk Phillip Lane, kami bertiga tercengang gitu karena graffiti disitu bagus-bagus! Aku jadi nyesel karena nggak ngefoto itu dan naruh di artikelku. Tapi yaudahlah, namanya juga dikejar waktu juga. Lagian sang dosen juga kasih nilai yang bikin aku semacem "Yang bener nih, Pak?", hehe Thank God deh. Ngeliat karya apik kanan kiri, lucunya kami bertiga jadi semacem bagi-bagi spot foto. Pilihanku jatuh di sebuah karya bernuansa kuning yang aku pikir cukup mewakili karakterku (ih apaan sih, Kiza. Haha becanda), Anty pilih yang warna biru dan Karina pilih yang di seberang itu, which is nuansa hitam putih. Pokoknya seneng deh disana, karena sepi juga nggak ada orang yang ngeliatin.


Anty yang lagi berpose.


Karina yang lagi bermaksud 'mengerjai' ku saat aku pengen motret graffiti dibelakangnya. Kupikir-pikir lucu juga jadinya :)

3. Lagi-lagi ke Marrickville Metro Shopping Centre buat pinjem toilet

It happened again. Tiba-tiba perut kami bertiga berdesir, minta 'dituntaskan' urusannya. Jadinya kami jalan cepet ke Marrickville Metro Shopping Centre buat pake toiletnya (lagi).

4. Menikmati pameran foto di State Library of New South Wales

Didalam perpustakaan umum ini, aku dan Anty terkesima sama foto-foto yang ditampilkan as part of three exhibitions, yaitu World Press Photo 2015, Amaze, dan Sydney Morning Herald Photos1440. Aku nggak bisa bilang mana favoritku yah, yang jelas karya-karya photojournalism disitu hebat semua! Kalo kata temen sih bikin merinding. Bener juga. Foto-foto disana emang mampu menimbulkan beberapa reaksi emosional para pengunjung. Aku pun sempet spotting salah satu pengunjung wanita yang bergeleng-geleng saat ngeliat foto tentang negara China. I mean, sebegitu powerfulnya sebuah foto sampe bikin orang terheran-heran, terharu, simpatik, marah, jijik, senang, nostalgic atau apapun.

"In books lies the soul of the whole Past Time: the articulate audible voice of the Past, when the body and material substance of it has altogether vanished like a dream." (Thomas Carlyle)

Suasana library. Cantik ya!

5. Melihat double rainbow

Sepulang dari pameran foto itu, aku dan Anty sempet late lunch di Jamie's Italian Sydney, makan dessert bernuansa green tea di Chanoma Cafe, sampe akhirnya kami berpisah di kawasan Haymarket. Anty memutuskan buat langsung pulang ke apartemennya, sedangkan aku menuju ke Priceline buat cari make up remover. Seselesainya dari Priceline, aku milih jalan kaki sampe rumah karena waktu itu lagi peak hour dan aku berasumsi kalo bis bakalan rame.

Pas ngelewatin Railway Square, aku ngeliat orang-orang pada menengadah keatas gitu, semacem liat langit. Aku noleh 'kan, oh ternyata ada double rainbow yang cantik! Warna pelanginya pekat gitu dan terlihat sangat kontras dengan langit abu-abu bernuansa oranye. Sebuah pemandangan yang priceless. Aku pun memilih jalan terus ketika orang-orang banyak yang berhenti untuk ngefoto pelangi tersebut (nggak mau rasis sih, tapi kebanyakan yang foto itu kita kita orang Asia hahaha. Eh, tapi ada juga beberapa orang lokal yang ngeluarin hapenya di tengah jalan dan ngejepret pemandangan itu).

Lucunya, saat aku jalan, didepanku ada seorang wanita muda berpakaian formal yang terlihat lagi ngejar pemandangan bagus itu. Aku perhatiin ekspresi mukanya yang sumringah banget, sampe-sampe aku ngebayangin dia ada di sebuah scene film drama Korea (yang nggak pernah aku liat juga sih. btw jadinya sangat stereotipikal gini ya, maaf maaf). Dari situ aku tetep memutuskan jalan terus tanpa berhenti dan memotret pemandangan itu, dengan alesan pengen "enjoying that priceless moment". Cie. Tapi bener lho. Kadang kalo sambil motret itu fokus kita terbagi 'kan, kita jadi nggak konsentrasi menikmati hal-hal yang (mungkin) lebih indah kalo diliat dari mata telanjang. Bukan dari lensa kamera.

Kamis, 18 Juni 2015

Ke Mascot mengambil titipan makanan dari Surabaya dan lanjut nonton Game of Thrones

Siang hari itu aku spontan pergi ke kawasan Mascot untuk menemui Tante Fara, temennya Papa. Aku naik train dari Central Station menuju Mascot Station dan jalan kaki ke apartemen beliau. Pas sampe disana, Tante Fara langsung mempersilahkan masuk dan ngeliatin titipan ikan bandeng dari Papa. "Papamu itu ngirim 24 biji bandeng ke rumah Mami Tante lho, Kiza. Coba, ini Tante apa disuruh jualan bandeng di eBay?" canda beliau. Aku langsung melongo. "Kiza nggak nyangka juga kalo Papa ngirimnya bakal sebanyak gitu, Tante," timpalku sambil nyengir-nyengir. Aku lirik plastik abu-abu yang ada di samping kitchen. "Oke, jadi ini punyamu ya, Kiz. Duh maaf Tante nggak punya plastik bagusan. Plastiknya 'menye-menye' gini." kata Tante Fara sambil buka-buka rak lemari di dapur. "Oh, tenang aja, Tante. Kiza udah siap kok." Aku segera ambil tas hitam yang merupakan merchandise "Jakarta Whiplash '93 (re-revisited)", sebuah performance art karya Wok The Rock dan Lara Thoms yang ditampilin di 4A Centre for Contemporary Asian Art pada 31 Mei 2015 kemarin. "Semoga cukup," gumamku saat coba memindah dan memasukkan items yang ada di plastik abu tadi ke tas hitam itu. Oke, ternyata cukup! Aku dan Tante Fara pun mengobrol asik sampai jam 14.45an. Aku memutuskan pulang saat itu juga karena Tante Fara harus ke City satu jam lagi.

Saat di stasiun kereta, aku agak worried karena ikan bandeng yang kubawa ini baunya kuat banget! Aku langsung merasa nggak pede dan segera ngencengin pengikat tas itu supaya ga bikin polusi udara. Haha. Sesampe dirumah, aku dan Audrey ngobrol sepanjang malem tentang banyak hal. Mostly tentang relationship sih, walaupun kami berdua lagi sama-sama sendiri. But still, it's interesting to know other person's opinion tentang suatu hal. Jadinya kita ngobrol dan ngobrol, sampe Shawn, housemateku satunya, dateng and joined our conversation. Capek ngobrol, Audrey berinisiatif ngajak nonton Game of Thrones. Dia tanya terakhir aku nonton season 4 yang episode berapa. Aku bilang aku nggak inget. Kita langsung nyoba scrolling through the episodes dan aku pikir aku berhenti di Season 4 Episode 1. Akhirnya malem itu kami kelesotan di ruang tamu berbekal laptopku dan nonton serial yang selalu bikin para housemateku histeris ini.

Free salad dari manajemen apartemenku. We love free foods! :)))


Jumat, 19 Juni 2015

1. Window shopping di Broadway Shopping Centre dan Salvos

Siang hari itu Audrey dan Vanessa ngajak aku ke Broadway Shopping Centre buat ke Priceline dan Coles. Audrey bilang kalo setelah itu kita bisa ke Salvos atau The Salvation Army Store untuk ngecek baju-baju secondhand. Aku langsung setuju dan ikutan dua temen cewekku ini jalan kaki dari apartemen ke mall. Vanessa tanya apakah aku puasa hari ini. Aku jawab iya dan mereka balik tanya apakah aku sahur. Aku jawab lagi, "Nope. I didn't." "Oh, if I were you, I just couldn't do it (fasting)," kata Audrey. Vanessa menyetujui juga. Aku ketawa dan bilang kalo aku sering skip sahur, jadi nggak masalah buat aku.

Kami pun sampe juga ke mall itu dan toko yang pertama kami kunjungi ialah Rebel Sport. Begitu masuk ke toko olahraga tersebut, entah kenapa aku langsung ngebatin, "Kenapa yah aku nggak doyan olahraga?". Haha maksudnya, begitu liat baju-baju olahraga itu aku ngerasa biasa aja. Nggak yang antusias pengen ngeliatin bajunya satu-satu, cari yang didiskon dan yang terlucu, nggak sama sekali. Abisnya kalo aku amatin, sportswear sekarang makin lucu-lucu dan warna-warni. Kayaknya balik lagi juga ke tren jaman dulu dimana sportswear punya pattern yang lucu-lucu, cukup bikin yang make dan yang liat makin semangat *halah*. Jadinya aku hanya melenggang santai di toko itu sambil main hape, sementara Audrey dan Vanessa nyobain celana ketat untuk nge-gym gitu. Dalem ati aku ketawa sendiri liat diriku. Buat jogging aja dulu aku pake kaos kegedean, jumper kampus dan celana pendek tidur warna item. Boro-boro mau beli celana sporty nan gaul punya Nike yang harganya mayan banget, mending beli sneakers :p But I know, mungkin untuk orang lain hal kayak gitu itu termasuk preference dan kenyamanan mereka juga. So, fine-fine aja sih.

Kelar keluar masuk toko didalem Broadway Shopping Centre (aku cuma beli headwear dan anting berbentuk bulan sabit di Lovisa, mumpung diskon :p), aku dan Audrey menuju Salvos karena Vanessa harus nge-gym di daerah Glebe. Pas sampe di Salvos, aku langsung ke section outerwear dimana emang aku lagi butuh yang agak tebelan di musim dingin ini. Sayangnya, aku nggak nemu item yang cocok buat aku. Disamping ukurannya juga pada gede semua (nasib badan kecil dan pendek), aku juga kurang suka sama modelnya. Aku pikir daripada item itu bakal sering nggak aku pake, mending nggak aku beli. Kadang lucu gitu ngeliat gimana sekarang aku lebih 'mikir' kalo mau beli baju. Semakin bertambah umur, semakin aku ngerasa baju yang aku beli itu harus long last dan kalo bisa, bewarna gelap. Kalo dulu, aku doyan banget sama baju-baju yang berpattern rame dan kadang bewarna cukup bold dipadu aksesori yang mencolok. Sekarang? Rasanya aku lebih sederhana in terms of style. Contoh aja, sekarang kalo musim dingin gini, aku doyan pake legging item, baju longgaran yang nutupin bagian panggul kebawah, terus outerwear abu-abu oversized kesukaanku. Oh, plus sepatu Docmart atau Vans Oldskool favoritku. Minim warna dan minim hal yang mencolok. Aku jadi inget Tavi Gevinson, fashion blogger yang sekarang pindah profesi jadi editor-in-chief Rookie. Dulu perasaan doi style-nya aneh-aneh gitu, sekarang makin gede makin sederhana kalo aku perhatiin. Makin kayak 'layaknya orang biasa'. Kenapa yah begitu? I mean, kenapa semakin berumur kita semakin 'don't give a sh*t sama signature style kita'? Well, untuk beberapa orang sih mungkin hal ini nggak berlaku ya, seperti Diana Rikasari yang masih setia dengan gaya khasnya. Hm, yang jelas menarik juga kalo ditelusurin nih.

2. Dinner di Ramen Zundo dan dessert di Max Brenner Chocolate Bar (lagi)

Bingung mau buka puasa dimana, aku segera text Anty dan ngajak doi makan bareng. Pilihan kita jatuh pada "yang anget-anget" seperti Ramen. Seperti biasa, I have no idea tentang best places to eat di Sydney karena seperti yang aku bilang, makanan berasa "enak" dan "biasa" itu tipisss bedanya di lidahku. Menurutku sama aja dan syukur-syukur udah bisa makan, jadi aku semacem 'nggak tega' bilang "Ih, makanan ini nggak enak!", kecuali kalo emang rasanya ancur dan sampe bikin mau muntah ya (apa coba), hehe.

Akhirnya pilihan kita jatuh pada Ramen Ikkyu di Sussex Street. Sebelum jalan kesana, aku taruh dulu belanjaan makananku dari Coles di apartemen Anty. Pas sampe di Shopping Centre yang "menaungi" Ramen Ikkyu itu, aku baru nyadar kalo hapeku nggak ada. "Coba diinget-inget terakhir dimana. Apa mungkin di tas Platypus kamu?" kata Anty. Aku langsung inget shopping bag dari toko Platypus yang kugunakan buat ngebungkus belanjaan. Hm, mungkin kali ya. Pas pegang hape aku nggak sadar kalo hapenya 'nyemplung' di tas itu. Aku pun nggak ambil pusing dan ngajak Anty jalan terus ke tempat Ramennya. Sesampe disana, kita baru notice kalo ingredientsnya mengandung pork, jadinyalah kita memutuskan buat pindah tempat. Padahal penasaran sih rasanya gimana, abisnya reviewnya bagus sih :)

Yaudahlah, kami berdua finally ended up makan di Ramen Zundo, sebuah resto ramen di dalam World Square Shopping Centre. Pas baca menunya, kami bolak balik plin-plan akan makanan apa yang bakal kami order. Awalnya keukeuh banget 'kan pengen nyoba ramen ayamnya, terus pas liat menu udonnya yang lengkap sama ayam karage dan ayam teriyakinya... kami jadi makin bingung. "Ini kalo puasa gini bisa kayak pengen makan semuanya ya. Semuanya terlihat menarik," kata Anty sambil ketawa. Aku ikut nyengir menyetujui itu. Setelah makanan datang, kami sama-sama makan udon dengan lahapnya sampe aku nggak mampu ngabisin nasi di piringku. Abis banyak banget! Agak merasa bersalah sih, karena Papa selalu ngingetin kalo makan usahain 'bersih' dan habis semuanya. Iya juga sih, kalo nggak abis itu kesannya kayak nggak mensyukuri nikmat-Nya gitu yah, tapi gimana dong. Namanya juga kenyang banget. Selesai makan, aku dan Anty naik bis balik ke apartemen dan memutuskan untuk minum hot chocolate di Max Brenner Chocolate Bar, Central Park. Malam yang mengenyangkan!

Sabtu, 20 Juni 2015

Mengunjungi Open Marrickville dan dinner bareng housemate

Memasuki hari Sabtu, aku urungkan niatku ke Glebe Market karena cuaca yang nggak bersahabat. Aku pilih stay di rumah aja sampe jam setengah 5 sore, dimana aku mulai beranjak dari apartemen buat ke daerah Marrickville. Ya, Karina mengundangku dateng ke acara Open Marrickville, sebuah acara 10 hari yang menampilkan bakat dan kreativitas dari 57 budaya. Aku salut sih sama konsepnya, dimana dijelaskan kalo acara ini tuh "Share ideas, hospitality, understandings and the humanity connecting us all". Jadi menurut pemahamanku, Open Marrickville ini adalah cultural festival yang celebrating diversity, mengingat populasi para migrants di Australia yang "relatively large" dibanding "other Western nations". Contohnya mereka yang berasal dari Luxembourg, Israel, Switzerland, New Zealand, Canada, United States dan lain-lainnya. Jadi, mungkin Open Marrickville ini berguna untuk 'menaikkan' intercultural understanding kita terhadap budaya lain, dimana itu akan bikin kita semakin appreciate perbedaan tersebut dan respect sama mereka. Well, ini opiniku yah.

Anak-anak SD di Sydney menari Ratoh Duek dengan dipandu Suara Indonesia Dance Group.
Sepulang dari acara Open Marrickville, dimana aku ngeliat anak-anak SD performing tarian Randa dan Ratoh Duek yang berasal dari Aceh (keren!), aku menuju Pie Tin buat beli dinner. Sambil menahan hawa dingin, aku jalan cepet-cepet ke apartemen dan berkumpul sama Audrey, Vanessa, Peter, Shawn dan Andrew. Ceritanya Vanessa lagi masak pasta dan sup jamur, terus dia bilang kalo mungkin aku nggak bisa makan pastanya karena ngandung babi. Aku bilang it's okay karena aku punya pie gemuk didepanku, hehe. Akhirnya malem itu kita makan besar sampe masing-masing dari kami kekenyangan dan aku tidur cepet di jam 11 malem.


Minggu, 21 Juni 2015

Thrifting di C's Flashback Secondhand Clothing dan Vinnies

Udah jadi rencanaku pagi itu buat ke toko secondhand demi mencari coat. Sebenernya lucu juga keputusanku itu kalo dipikir-pikir, abisnya aku sempet punya 'on and off relationship' sama barang-barang secondhand. Dulu taun 2008-2009 pas awal-awalnya aku aktif di Surabaya Fashion Carnival, aku gandrung banget sama namanya baju bekas. Sesekali aku ke kawasan Gembong, cari atasan-atasan oke dengan harga murah bareng temen atau cari sepatu boots bekas yang 'trendi'. Tapi memasuki taun 2010an, dimana brand-brand lokal mulai bermunculan dan kualitasnya bagus-bagus, aku mulai ninggalin kesukaanku terhadap secondhand stuffs. Perlahan aku mulai ngerasa semacem, "Mending beli baju dari brand ini aja. Selain karena kualitasnya bagus dan aku cocok sama brand personality-nya, itung-itung juga support karya bangsa sendiri 'kan.

Kebiasaan itu berlanjut sampe aku mulai pindah ke Sydney, dimana thrifting stores banyak banget di Newtown, suburb kediamanku. Aku perhatiin toko-toko secondhand ini punya barang berkualitas dan relatively quite large in terms of store size yah. Berarti 'kan cukup menghasilkan gitu yah bisnisnya. Sampe-sampe di suatu waktu aku ngobrol sama Lisa Heinze, seorang pecinta fashion dan environmentalist yang juga penulis buku "Sustainability with Style". Saat itu, aku mewawancarai beliau as part of my uni assignment dalam acara Clothes Swap di kampus. Dari interview dengan Lisa yang concern banget akan sustainable fashion, aku jadi terinspirasi untuk makin "considerate" sebelum membeli baju. Aku harus mikirin tentang keadaan dan kelangsungan pieces of clothing yang aku beli itu, kayak siapa yang ngeproduksi itu, apakah mereka di-treat secara fair dan aman, akankah baju ini bisa aku pake 5 taun berikutnya, apakah baju ini cukup mudah untuk di-mix and match dengan yang lainnya, dan apakah baju tersebut benar-benar merefleksikan siapa aku.

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menurutku perlu di-consider sebelum membeli pakaian. Udah aku jelaskan diatas juga 'kan kalo makin gede, aku makin merasa lebih nggak muluk-muluk tentang style. Yang penting nyaman, longlast, dan mudah dikombinasikan dengan baju lainnya. Jadinya aku mulai mempertimbangkan untuk mulai beli barang-barang secondhand lagi. Aku pikir-pikir nggak ada salahnya juga pake baju 'bekas orang', karena terkadang untuk beli baju baru itu kita semacem "support" (baca: ngasih duit) ke brand yang dimana kita nggak tau apakah mereka politically aligned sama kita. Maksudnya, apakah mereka punya work ethics yang bagus dimana para workers are being treated fairly in a safe condition, ataupun mungkin lebih simpel lagi, mereka punya value-value yang sesuai dengan karakter kita. Wih mayan berat dan serius ya. Tapi bener sih, sejak acara Clothes Swap yang merupakan bagian dari peringatan Fashion Revolution Day itu, aku jadi makin "aware" sama baju-baju yang aku beli. Walopun kadang aku nggak bo'ong juga kalo beli barang itu karena simply, they're cute and so gorgeous ya, but at least udah consider hal-hal yang selama ini sering kita ignore.

Anyway... akhirnya aku balik lagi suka barang-barang secondhand di Sydney. Abisnya mereka lebih unik, murah, dan itung-itung kita save environment juga 'kan karena termasuk berpatisipasi dalam 'recycling' process suatu baju itu. So, siang itu aku menuju C's Flashback Secondhand Clothing di 180 King St, Newtown. Pandanganku pertama tertuju pada sebuah dungaree lucu di etalase depan, tapi aku putuskan nggak beli itu karena inget umur dan emang bukan tujuanku kesana buat cari atasan itu. Aku cari coat, titik, gitu batinku sambil berusaha "menahan" godaan. Aku liat-liat denim jacket yang nangkring di salah satu part toko itu, but sayang nggak ada yang cocok sama aku warnanya dan mereka seemed too big for me. Maklum badan orang Asia yah. Aku pun menuju bagian belakang dimana coat-coat atau outerwear yang lebih tebel banyak bergelantungan. Pilihanku jatuh ke bomber jacket Tweety yang playful gitu. I'm not really a big fan of this character, but the jacket is uber cute. Tuh 'kan, susah juga buat bener-bener ngebalance pikiran-pikiran 'serius' diatas tadi sama alesan simpel namun powerful macem "because it's cute". Akhirnya aku beli deh jaket itu, itung-itung nanti kalo udah bosen, aku bisa kasih ke adekku :p

Kelar dari C's Flashback Secondhand Clothing, aku menuju Vinnies yang gak jauh dari situ. Karena hari Minggu, toko tersebut rame dan nggak kayak biasanya. Aku segera ke rak-rak outerwear yang ditaruh didepan dan menemukan two pieces of outerwears yang aku suka. Semuanya below AUD 25. Padahal salah satu baju merk itu kalo harga new bisa diatas AUD 50, so I considered myself lucky. Lagian baju-baju ini juga pas banget jatuhnya di badanku, nggak kegedean ataupun kesempitan. Warna gelap lagi. Pasti gampang buat di mix and match. Akhirnya sore itu aku pulang ke apartemen dengan hati puas. Hore!

Tuesday, June 16, 2015

Seperempat abad.

15 Juni 2015 pk 22.30, kamar apartemen: "I couldn't sleep."

Aku udah terlentang di kasur. Selimut tebel itu udah aku tarik sampe leher; cukup bikin aku keliatan kayak "burrito" kalo kata Peter, si housemate. Lampu utama kamar juga udah mati, tinggal lampu belajar aja yang nyala. Dinginnya angin Sydney somehow bisa aku rasain juga di kepala dan leher. Cukup bikin aku pengen narik selimutnya lebih rapet ke leher, 'ngebungkus' diri lebih eret supaya nggak masuk angin.

Aku ngeliat jam analog yang kutaruh diatas meja belajar. Setengah jam lagi bakalan tanggal 16 Juni. Aku bakalan berulang tahun. Ya ampun, nggak kerasa banget tiba-tiba udah mau ganti umur lagi. Rasanya kayak baru kemaren bangun di kamar Surabaya, terus paginya dapet ucapan dan peluk dari Papa, Mama, adek, kakak, semuanya. Malemnya foto-foto sama kue ultah yang dibeli dari Bread Talk, tiup lilin, makan kue, terus kalo sempet langsung dinner di luar sama keluarga. Makan steak daging di Bon Ami atau Bon Cafe. 

Tahun ini? Sepertinya akan jadi ulang tahun pertamaku tanpa keluarga dan lebih lagi, di negeri orang. Not really a big deal sih for me. Tapi yang namanya pengalaman pertama, selalu bikin kita merasa beda 'kan. Ngerasa deg-degan, nervous, excited, seneng, doubtful, campur aduk pokoknya. Alhasil, malem itu aku susah tidur.

Aku liat jam lagi. Udah pukul 12 lebih. Ini tandanya aku udah berganti umur. Langsung deh aku pejamin mata dan berdoa diem-diem (ya iyalah masa keras-keras pake speaker). Nggak kerasa banget tiba-tiba udah seperempat abad juga umur ini.

16 Juni 2015 pk 08.30, kamar apartemen: "Berusaha tepat waktu!"

Aku bangun dari tidurku yang nggak nyenyak dan segera mandi. Hari ini aku akan ketemu sama temen-temen kampus di daerah Glebe. Janjiannya sih jam 9.30 pagi, karena seorang temen bakal harus ngejar pesawat jam 5 sore buat balik ke negaranya. Yaudah, jadinya aku semacem buru-buru juga walopun mandiku bisa dibilang cukup cepat. 

Jam 9 pas, aku keluar apartemen dan langsung merasakan desiran angin dingin meresap ke tubuhku (cie). Aku langsung ngebatin, "Tau gitu aku pake legging aja." Emang sih, waktu itu outfitku adalah kaos yang didobel sama sweater biru bertuliskan "Pancakes & Milkshakes" (dua jenis hidangan yang bikin aku ngiler), celana pendek mini yang aku lapisin sama tights tebel warna item, kaos kaki tebel yang diem-diem sobek di bagian jempol kaki kiri, plus sepatu boots item. Ternyata walopun udah didobel tights gitu, anginnya tetep masuk-masuk aja. Aku langsung mikir, kayaknya ini juga karena kondisi badanku yang nggak fit deh. Maksudnya karena kurang tidur itu. Maklum, standar tidurku masih 8 jam sehari soalnya :p

Aku sampai di bus stop seberang Urban Bites jam 9.10. Aku liat Google Maps di hape. Disitu bilang kalo mau ke Glebe dari Newtown bisa naik bus rute 370. Oke, aku tunggunya. Beberapa menit kemudian, aku mulai tambah gelisah. Bis-bis yang ke City kayak rute 422, 423, 426 atau 428 udah mondar-mandir dari tadi. Tapi kenapa ini bus rute 370 nggak lewat-lewat? Karena nggak mau telat, aku naikin aja deh bus yang ke City. Ntar tinggal turun di depan Broadway Shopping Centre, terus jalan ke Glebe nya.

Pukul 9.20an, aku sampe di daerah Broadway. Aku langsung SMS temenku Ling dan bilang kalo kayaknya aku bakal telat 8-10 menit, karena bis yang aku tungguin nggak lewat-lewat dan jadinya aku harus jalan kaki kesana. Ling ngebales, kira-kira bunyinya "sante aja, aku juga baru jalan dari Fisher Library (salah satu library kampus yang deket sama kawasan Glebe dan Broadway) kok". Yaudah aku sedikit lega. Tapi tetep aja, aku merasa nggak enak kalo sampe telat. Wong aku 'host'nya kok. Hehe.

Aku langsung jalan secepet-cepetnya demi nyampe tujuan tepat waktu. Pas mau deket kafenya, aku ngeliat temenku Koichi udah berdiri didepan. Dia keliatan lagi texting gitu. Aku langsung panggil doi dan bilang maaf kalo aku telat. Padahal ya nggak telat juga sih, karena ternyata aku dateng tepat waktu. Pas jam 9.30. Tapi tetep aja nggak enak karena Koichi udah dateng duluan. Terus doi bilang semacem "gak apa-apa kok, aku juga baru dateng. Ini aku baru mau ngabarin kamu." Setelah itu, kita masuk ke kafenya dan tercengang-cengang akan suasananya yang hommy.

16 Juni 2015 pk 09.30 - 12.30, Sappho Books Cafe and Wine Bar: "What is your worldview?"

Satu persatu temen-temen yang aku undang mulai berdatangan. Ada Koichi yang orang Jepang, Ling dan Eric yang dari China, dan Kwannie dari Thailand. Kami duduk berkumpul di bagian belakang cafe, dikelilingi oleh pepohonan rimbun diatas. Cuaca saat itu mendung dan sesekali kami menggigil kedinginan karena tiupan angin luar. Maklum nggak ada heater yang dipasang deket situ.

"Are you guys ready to order now?", aku tanya gitu ke mereka. Mereka ngangguk dan kami menuju loket Cashier yang sekaligus jadi tempat order. Begitu liat menunya, Ling dan Eric mengernyitkan kening. Aku paham bener maksud mereka. Pasti bingung sama nama-nama makanan yang ada di menu itu. Maklum orang Asia, kami juga nggak familiar sama 'nama keren' ingredients dalam bahasa Inggris. Mau tanya juga pengennya dijelasin sebagian besar dari nama-nama 'asing' itu. Yaudah, akhirnya aku memutuskan pesen Chicken baguette dan Chai Latte. Eric pun ku-encourage untuk memesan Chai Tea, karena dia penasaran juga sama Chai-Chai yang lagi hip di Sydney ini.

Setelah selesai memesan dan bayar di kasir, temen-temen pada bilang semacem "Kiz, ini kami udah ngumpulin duit. Kami yang bayarin ya." Aku langsung ngerespon semacem, "Eh..udah nggak usah, aku yang ulang taun, aku yang bayar. Gitu culture-nya di Indonesia." Kwannie bilang, "Okay, when you said MY culture, then we can do nothing." Hehehe, yup disini emang begitu biasanya. Yang ulang tahun yang ditraktir, bukan yang mentraktir. Pertama kali denger itu aku agak kaget, karena emang terbiasa sama custom dimana kalo kita berulang tahun, kita yang bayarin meals nya guests. But, walopun custom disini adalah sebaliknya, aku tetep pake kebiasaan yang ada di Indonesia. Selain itu juga karena aku udah bilang ke mereka di jauh-jauh hari sebelumnya kalo aku bakal traktir.

Makanan kami pun datang satu persatu. Woah, such a lovely morning. Menu sarapan yang mengenyangkan, teman-teman di sekitar, suasana kafe yang nyaman dan rimbun, good talks and... aku yang lagi berulang taun. Such a different way to start the day and spend my birthday though, karena bisa dibilang benernya aku nggak deket-deket banget sama temen-temen ini. Aku, Eric dan Ling sih emang sering ngobrol di kampus kalo perkara tugas kuliah. Aku sama Koichi baru kenal pas kuliah News Writing, karena dia terlihat setia nemenin Eric kalo dia lagi tanya-tanya ke aku tentang film Indonesia buat mata kuliah Asian Pop Culture-nya. Aku sama Kwannie? Baru kenal juga saat kami lunch bareng di En Toriciya, North Sydney. She's currently doing Master of Cultural Studies, makanya di beberapa omongan kita nyambung. Jadinya aku undang dia deh di sarapan pagi hari ini.

Searah jarum jam: Koici, Eric, Kwannie, Ling dan saya.

Chai Latte dan Chicken Baguette.

Selama makan, kami mengobrol tentang banyak hal. Kebanyakan sih tentang budaya masing-masing. Tapi lama kelamaan arah pembicaraan lebih ke masa depan, seperti tentang marriage, karir, dan pilihan hidup. Cie berat juga. Haha tapi lovely banget emang. Aku enjoy-enjoy aja ngomongin ini, karena mereka rata-rata lebih tua dari aku. Jadi semacem dapet 'pelajaran idup' juga dari mereka yang lebih 'duluan' daripada aku. Yang lebih menarik lagi ketika kami ngomongin tentang marriage, karena bulan Oktober ini Ling akan menikah dengan her long-term boyfriend. Kami saling share tentang rencana masing-masing. Salah satu dari kami ada yang berpandangan "I don't believe in marriage" dan very skeptical tentang itu. Aku sih nggak kaget, karena udah mulai akrab sama pilihan hidup kayak gitu ketika aku kuliah S1. I mean, tolerance ku akan hal-hal itu mulai 'terasah' saat aku belajar Sastra Inggris, karena disitu kami belajar humanity dan paham-paham bervariasi yang bikin kita makin mengapresiasi perbedaan di dunia ini. So, aku bersyukur aja karena bisa jadi lebih open-minded tentang hal ini. Aku pribadi nggak bilang itu dosa atau aneh kalo emang ada orang yang milih untuk nggak nikah, karena menurutku setiap orang punya hak buat nentuin jalan idupnya masing-masing.

Terus kami ngomongin masalah karir, yang ujung-ujungnya jadi kayak refleksi gimana kita memandang dunia dan sekeliling. Kwannie bilang umurku yang 25 ini bisa dibilang masih muda and still long way to go gitu, tapi Eric dan Ling berpendapat kalo 25 itu semacem umur turning point di keidupan. Dari situ lah akhirnya kami mengutarakan gimana pandangan kami akan hidup. Kwannie bilang kalo kita nggak bisa terus-terusan compare kesuksesan kita sama orang lain, karena pace hidup setiap orang itu beda. Ada yang cepet, moderate, ataupun lambat. Masing-masing juga punya definisi sukses berbeda. Jadi doi bilang, stop comparing ourselves with others. Aku setuju banget sih tentang itu. Setiap orang emang individual yang unik, yang terdiri dari ilmu, pengalaman, paham dasar berbeda sejak kecil. Otomatis pasti ada lah suatu elemen yang bikin beda 'kan, entah itu kecil ataupun yang sangat obvious.

Eric bilang kalo umur 25 itu adalah saat body cewe deteriorating. Kwannie dan Ling nggak setuju. Mereka bilang itu bakal berlaku setelah umur 30. Aku jadi semacem "Oh my God, this is really my time." Kwannie langsung ngerespon, "Oh, don't worry." Dia nge-encourage kita semua buat tetep enjoy sama apa yang kita lakuin dan make the most of it. Setelah ambil dua kali kuliah postgraduate, Kwannie bilang dia sangat bersyukur karena mampu melakukan itu saat umurnya masih muda. Muda dalam arti belum masuk 40an ya aku nangkepnya. Yes, lagi-lagi aku setuju sih. Selagi masih semangat, sekolah lagi itu nggak ada ruginya kok. Selain dapet ilmu, bisa dapet pengalaman-pengalaman kayak gini ini. Sharing sama orang-orang yang berbeda background budaya, umur, dan pastinya pandangan akan hidup. Bikin kita jadi merasa lebih 'diverse' in terms of asupan pengetahuan dan lagi-lagi, bikin kita lebih bisa mengapresiasi orang lain.

Setelah melihat jam masing-masing, kami realise kalo udah harus ninggalin kafe tersebut. Saat itu ujan gerimis, jadi kami semacem agak 'gopoh' juga pas keluar dari sana karena lumayan kecipratan air ujan. Kami pun berpelukan satu sama lain; mengingat Eric akan balik for good ke China nanti jam 5 sore. Ah, nggak nyangka juga kalo waktu berjalan secepat ini. Tiba-tiba aja abis ketemu temen baru, harus berpisah lagi. Tapi yang namanya idup yah, people come and go. Yang penting tinggal gimana kita memposisikan diri kita sama mereka ya. Kita 'celebrate' keadaan mereka atau enggak. Kita milih mau belajar dari mereka ato enggak. Eh, kok jadi kesini sih pembicaraannya. Haha.

Intinya, aku bersyukur bisa kumpul sama mereka and diskusi tentang macem-macem. Lagian mereka juga sweet banget. Mereka pada ngasih kado gitu. Eric dan Ling ngasih aksesori yang berhubungan dengan "luck" dan shio-ku, which is a horse. Kwannie ngasih gelang cantik yang ada kupu-kupunya dan Koichi ngasih komik manga judulnya Monster. Dia bilang dia nggak tau kesukaan ku apa, jadi dia beliin buku itu. Aku sih udah makasihhh banget ke mereka untuk itu. Itu tandanya mereka udah keluarin effort untuk bikin aku seneng 'kan :)

16 Juni 2015 pk 20.00, apartemen: "Kecoak dan Happy Birthday!"

Aku lagi natep layar leptop waktu itu dan sempet kepikiran gimana spend ultahku di malem hari itu. Lagi-lagi aku inget orang rumah yang selalu udah siap sama kue, lilin dan kamera HP. Pas lagi melankolis gitu, tiba-tiba aku denger housemate aku Audrey teriak "Kizaaaa, there's a cockroach!". I was like, "Oh, sh*t. Where is it?". Aku langsung ambil sapu lidi mini dan 'serok' andalan yang selalu aku pake buat bunuhin kecoa ato laba-laba di rumah. "Where is it?," tanyaku, soalnya si Audrey nggak lagi ada di lantai kamar kita. "Downstairs!" teriak Audrey dari bawah. Aku segera turun sambil ngebawa sapu lidi itu.

Pas sampe di anak tangga paling bawah, tiba-tiba nyanyian "Happy Birthday" dilantunkan. Ahhh ternyata Karina, Anty, Peter, Audrey, Shawn dan Owen udah kumpul dibawah sambil bawa kue ulang taun! HOW SWEEEEETTT. Aku langsung ketawa ngakak sampe jongkok-jongkok karena merasa konyol sambil bawa sapu lidi. Aku denger Audrey bilang, "See, when you said 'cockroach', it worked on Kiza!". Temen-temen senyum-senyum dan aku pun tersipu malu pas ngedeketin kue ultah itu. Mereka bilang "Ayo tiup lilinnya dan make a wish". Segera deh aku make a wish dan tiup lilinnya. Temen-temen pun langsung menghujani ku dengan kado. Eh, nggak ujan juga sih. Pokoknya langsung pada kasih kado. Aku buka langsung disitu, karena emang disini kebiasaannya kalo abis kado ya langsung dibuka, gak pake nunggu-nunggu malu gitu.

Yang bikin makin seneng, temen-temen ini ngasih kadonya juga berhubungan sama yang aku suka. Housemates kasih kado mug Mulga dari Monster Threads, yang bikin aku semacem histeris karena aku suka banget sama karya-karyanya Mulga. Karina kasih aku aksesori dari Dotti berupa tote bag cantik motif paisley warna biru dipadu baby pink, kacamata item trendi, sama kalung warna-warni yang lovely banget. Udah gitu birthday card nya gradasi warna pink ala-ala Pantone gitu. Lucu banget! Kalo Anty, dia kasih birthday card yang bisa nyanyi, tepatnya lagunya Roy Orbison yang "You Got It" (ini aku baru tau setelah googling eniwei, haha). Liriknya "Anything you want, you got it. Anything you need, you got it, baby....". Haha hilarious banget kan. Pokoknya aku seneng, terharu dan tersipu lah pas itu. Thank you so much ya teman-teman! :)


Foto polaroid dari kamera Anty. Ini aku dikelilingi Audrey, Karina, Anty, Owen, Peter dan Shawn.
Kado G4oeL dari Karina. Haha. Suka banget aku sis, makasih ya :*
Kado dari Owen! Lucu banget, so today. Hehe
My housemates know I love Mulga's illustrations so much!
The birthday card that can sing. Thank you Anty!
Begitulah ceritaku saat ulang taun di negeri orang. Banyak pengalaman baru yang sebelumnya nggak aku rasain di Surabaya, kayak obrolan-obrolan yang erat akan perbedaan budaya macem siapa yang kudu bayar ketika makan dan ada yang ultah, gimana disini aku jadi cockroach buster dan itu cukup jadi 'trik' ngemanggil aku untuk kasih surprise, dan kado-kado soswit dari temen-temen dengan latar belakang berbeda. I feel grateful for this day!



P.S. Postingan ini benernya ditulis tanggal 20 Juni 2015. Tapi demi timing yang tepat, aku ubah settingan date-nya ke tanggal 16 Juni :)

Wednesday, June 10, 2015

Spontan.

Pagi ini Sydney hujan dan aku merasa nggak enak badan. Maklum, temen-temen dirumah kebanyakan juga lagi gak sehat. Jadi mungkin nularnya dari situ ya. Anyway, aku baru aja nyelesein tugas terakhir buat semester ini. Rasanya semacem "eh, udah gini tok ta?". Abis kerasa cepet sih, tiba-tiba udah mau kelar kuliah master aja. Yaudah deh, akhirnya aku mutuskan buat nulis blog dan nyeritain pengalaman seru kemaren.

1. Awalnya mau laundry di siang hari, tapi...

So, waktu itu aku bangun siang dan pandangan langsung tertuju ke lemari. Aduh, keranjang pakaian kotor udah mau penuh aja. Waktunya laundry nih. Aku bangun dan langsung minum air putih 1 gelas kayak biasanya. Kemaren sih sempet rajin minum madu lemon anget setiap bangun tidur, tapi gara-gara minggu produktif jadi asupan sehatnya diganti sama kopi. Sekarang keadaannya udah makin slow dan aku mutusin buat ngurangin kopi. Pengen kembali ke yang sehat-sehat :p

#iwokeuplikethis
Entah kenapa semakin gede, semakin malu buat foto sendiri. Tapi karena hari itu lagi iseng, yaudah foto aja pas abis bangun tidur. Nah, dari sini bisa diliat kalo I'm not a 'daster' person, because 'daster' somehow makes me insecure. I don't know why.
Setelah mandi dan keramas, aku langsung buka laptop. Ngecek availability mesin cuci di laundry terdekat (keren banget yak bisa dimonitor kayak gini). Ternyata semua mesin masih available. Aku nggak kaget sih. Emang lagi bukan harinya ngelaundry dan ini lagi musim STUVAC, alias study vacation ato semacem libur seminggu buat persiapan ujian. Okay, now it's time then, begitu kataku dalem ati. Aku langsung ambil keranjang pakaian kotornya dan ngemilah-milah isinya.

Tiba-tiba ada dering SMS masuk di hapeku. Ternyata Karina. Doi tanya hari itu mau kemana jam 1an siang. Aku bilang belom ada rencana, yuk pergi soalnya tugas udah mau kelar, semacem begitu. Doi bales dan bilang kalo lagi di Marrickville (suburb yang deket sama Newtown, tempat aku tinggal). Setelah SMSan, kita mutuskan buat ketemu di kafe West Juliett dan makan siang disana.

2. Lunch di West Juliett dan ngobrol asik sama Karina.

Dari bus stop King Street near Missenden Road, aku naik bis rute 423 ke kafe itu. It took less than 20 mins sampe aku berenti di stop-an Enmore Road near Newington Road. Dari situ aku belok kiri, masuk ke Scouller Street, dimana aku langsung disambut mural warna-warni di kiri jalan. Rasanya pengen ngefoto, tapi ada segerombolan orang lagi ngobrol deket situ. Ya udah, karena nggak mau ngundang perhatian, aku jalan aja sambil nikmatin pemandangan sekitar.

Rasanya sempet nggak yakin kalo kafenya ada di sekitar situ, soalnya aku lagi ada di area perumahan. Aku liat Google Maps beberapa kali, just to make sure I was heading to that cafe. Emang bener sih katanya, aku disuruh jalan terus aja dan agak nyerong, nanti ketemu kafenya. Setelah menyusuri Scouller Street, aku belok kanan ngelewatin Juliett Street dan aku bisa liat kalo ada rame-rame didepan. Ternyata bener, West Juliett emang 'menyempil' di area perumahan nan damai sentosa itu. Tepatnya di 30 Llewellyn Street (bingung gak bacanya gimana, hehe). Aku emang sengaja nggak langsung duduk disitu soalnya Karina belom dateng. Jadinya aku mutusin buat duduk-duduk di taman sekitar Annette Kellerman Aquatic Centre. Ceritanya mumpung hawanya lagi bagus gitu.

Tiba-tiba ada orang yang panggil namaku. Eh ternyata Karina. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah bagaimana kabar tugasku. Sambil ketawa, aku bilang tugasnya hampir kelar. Tinggal masukin satu gambar dan ngecek sana sini, jadinya aku agak tenang (ini ngomongin tugas nge-layout majalah eniwei). Pas sampe di kafenya, kita disambut waiternya dan mataku langsung tertuju ke orange cake di etalase. Keliatannya enak, aku bilang ke Karina. "Tu banana cake nya juga kayaknya enak," kata Karina sambil nunjuk kue cantik disebelah orange caken. Layaknya di komik-komik, mataku seolah-olah mengeluarkan simbol hati yang meletup-letup. Ah nggak sabar nyomot kue-kue ini, batinku begitu.

Hari itu kita mesen Chicken Sandwich (plus  lime, chilly mayo, greens, coriander, mint), Banana cake with caramel icing and toasted almonds, Cappuccino dan Flat White coffee. 
Setelah dapet tempat duduk di pinggir jalan, aku buka jaket karena kepanasan. Maklum, sinar matahari Sydney yang terik langsung 'nyoss' di punggung. Aku langsung mikir, "Katanya winter, kok mataharinya terang benderang gini?". Tapi yaudahlah bersyukur aja. Mending anget daripada mendesis kedinginan di pinggir jalan 'kan. Selama makan, aku sama Karina sibuk ngobrol macem-macem. Mulai dari ngomongin karir, proyek kolaborasi kita, sampe ngomongin rambutnya temen kita. Dari situ tiba-tiba Karina nyeletuk kalo pengen warnain rambutnya hari ini, but she wasn't sure yet. Dia butuh survey harga dan mastiin hari itu nggak ada kegiatan sorenya. Aku sih ngedukung-dukung aja dan bilang kalo bisa nemenin. Akhirnya dia bilang kalo pas pulang ke apartemenku, dia mau mampir ke salon yang ada di kawasan sana.

Obrolan pun berlanjut sampe Karina nyeletuk kalo perutnya mulei mules. Aku juga mulai ngerasa perut 'berdesir'. Mungkin karena efek kopi dan emang belom 'tuntas' juga paginya. Langsung deh kita beranjak dari kursi, bayar bill dan menuju ke arah King Street. Pas aku tanya mau naik bis ato gimana, Karina bilang jalan aja. Okay, baiklah kita jalan kaki. Di tengah-tengah perjalanan, entah kenapa I really wanted to tell her something. Aku buka deh suatu rahasia ke dia, dimana rahasia itu menyangkut hal yang cewek banget. Langsung deh, kita heboh haha-hihi sampe akhirnya Karina bilang dia nggak 'tahan' lagi.

3. Ke Marrickville Metro Shopping Centre cuma buat pinjem toiletnya.

Layaknya jaelangkung, 'panggilan alam' ini emang datang tak diundang pulang tak diantar. Jadinya kita harus cari tempat terdekat yang nyediain toilet gratis. Pilihan kita pun jatuh ke Marrickville Metro Shopping Centre, mall kecil punya suburb Marrickville yang dibuka taun 1987 (lama juga ya). Pas jalan kesana, aku sempet nggak yakin kalo ada mall disana. Soalnya bangunannya ya ukuran sedang-sedang gitu, nggak yang tinggian kayak Broadway Shopping Centre. Apalagi pas ngelewatin bangunan red brick kayak yang di foto bawah ini. Aku langsung tanya ke Karina, "Emang dimana mall-nya?". Bukan karena udah kebelet banget sih, tapi emang karena nggak yakin. Doi bilang bentar lagi nyampe, tuh di depan.

Setibanya di entrace mall itu, aku makin melongo. Nggak keliatan kayak mall banget. Aku jadi inget suasana pas di Port Stephens, dimana suasana mallnya juga kayak begitu. Bangunan sedang yang kayak di-stretch gitu dan berisi toko-toko. Nggak terlalu buzzing, banyak elderly, dan terasa lebih hommy. Beda banget kayak suasana di Sydney CBD (ya iyalah, namanya juga suburb kan).

"Eh, itu lucu banget sih trolleynya. Bisa difoto nih," gitu kataku pas aku dan Karina keluar dari Marrickville Metro Shopping Centre. Hehe maklum anak era Instagram.
Aku dan Karina langsung bernapas lega begitu nemu sign toilet. Lagi-lagi aku terpana karena dinding toiletnya punya pattern vintage yang lucu gitu. Sayangnya nggak sempet aku foto, karena emang udah kebelet. Untung di pojokan ada dua toilet box yang kosong, segera deh kita masukin dan... you know what happened next :p

4. Belanja buku dan majalah bekas di King Street News Agency.

Sebagai anak Newtown, aku merasa malu ke Karina karena doi lebih ngerti wilayah ini daripada aku :p haha maklum, mainanku paling jauh cuma sampe Newtown Station. Itupun juga pas lagi makan di Cuckoo Callay bareng Anti sama Kak Yoan. Selanjutnya ya muter-muter aja di sekitar IGA, Black Star Pastry, dan resto-resto murah disekitar situ.

Anyway, I was lucky that day karena Karina nunjukin sebuah news agency yang ngejual majalah bekas berkualitas. Aku lupa pastinya alamatnya dimana, pokoknya sebelum Newtown Social Club dan nomer alamatnya 400-an. Pas disana, kita langsung sibuk flip through majalah second-nya yang bertumpuk-tumpuk. Kebanyakan sih Vogue sama Vanity Fair. Bukan tipe bacaanku sih, tapi menggiurkan banget karena cuma dihargai AUD 2.00.

Aku sempet nemu majalah YEN yang covernya beda banget. Pas aku intip isinya dan nyampe di halaman album review, aku langsung nebak itu edisi taun 2010 ato 2011 gara-gara liat albumnya Local Natives yang Gorilla Manor. Langsung deh Karina bilang cie anak musik banget. Waduh sist, yang anak musik banget kan sebenernya dikau. Bisa nyanyi, bisa main musik, udah ngeband dan berwawasan musik. Hahaha. Ya, lucu juga sih kalo dipikir bisa nebak edisi majalah dari liat album review doang. Sebenernya nggak mau terlalu cult juga, tapi ya gimana, dulu juga sempet muter tu album berkali-kali di iTunes. Otomatis ngintip taunnya juga. Hapal deh.

Inilah hasil temuanku. Total semuanya AUD 14.00!
Kelar 'memanjakan' mata, aku sama Karina ke kasir. Pas Pak Kasirnya liat majalah musik yang aku beli, doi bilang "Oh, you like music?". Aku bilang, "Well, yeah. It comes with a CD, so why not?", sambil ketawa gitu. Emang iya, alesan aku beli salah satu majalahnya adalah karena free CDnya. Terus Pak Kasirnya bilang kalo biasanya orang-orang tua aja yang beli majalah UNCUT, anak muda enggak. Dia pun langsung nyeritain suatu hari ada orang yang dateng beli majalah itu, digunting-gunting, dikliping, terus dijual di eBay dengan harga lebih tinggi. Aku ketawa-tawa dan bilang "Cool." Pas pulang, aku langsung mikir sesuatu. Pak Kasir itu emang Chinese-Australia dan pas aku liat beliau, aku nggak mengasosiasikan dirinya dengan apapun. Setelah dibilangin hal tadi, aku jadi berpikir sangat stereotipikal. Sebegitu eratnya kah hubungan antara negara China dengan bisnis? Ah, mungkin emang kebetulan pak nya lagi pengen share ke 'precil-precil' kayak aku. So, aku kudunya bersyukur aja dikasih tips bisnis kecil-kecilan dari beliatu :)))

5. Akhirnya jadi ijo!

Sekitar jam 3.30 sorean, aku dan Karina sampe di Doppelganger Hair Newtown. Sejak pertama lewat salon ini, aku langsung gemes gitu. Abisnya tampilan luar dan namanya lucu; ngingetin aku sama How I Met Your Mother, serial TV favoritku dulu. Pas masuk, Karina langsung bicara sama mbak-mbak hairdressernya yang berambut merah terang. Karina pun langsung disuruh duduk di kursi potong rambut itu dan mereka ngobrol selama beberapa menit. Ternyata bener, Karina nggak ada kegiatan sore itu dan doi memutuskan buat ngecat rambutnya saat itu juga. Aku langsung "Yayy!". Entah kenapa ikut seneng gitu. Abisnya lucu banget sih, sometimes kita nggak tau hal spontan apa yang bisa kita lakuin saat itu. You know, manusia selalu punya kekuatan dahsyat terpendam.

Doppelganger Hair Newtown.
Di belakang itu, Karina lagi dipermak rambutnya sama the hairdresser lady.
Karena proses ngewarnain rambut Karina cukup lama, aku pamit pulang ke apartemen buat ngelaundry. Begitu di tempat laundry, aku jadi geli sendiri. Selalu ada aja kejutan disana. Gimana enggak, tiba-tiba aku ngeliat ada celana dalem cewek warna ungu jatoh di lantai. Yang modelnya pake renda. Mau aku foto buat lucu-lucuan, tapi juga gimana gitu. Yaudah daripada menimbulkan fitnah, secara voluntarily aku pindahin deh itu celana dalem keatas meja. Aku tutupin the abandoned undie itu sama sepasang kaos kaki yang tak bertuan juga. Sekali lagi, biar nggak menimbulkan fitnah. Haha. Biar orang nggak mikir macem-macem gitu kan istilahnya. Sama yang penting, biar orang nggak ngira itu punya aku karena jatoh dideket mesin dryer yang lagi aku pake :)))

Kelar ngelaundry, aku ketemu Audrey yang baru pulang dari internshipnya di North Sydney. Aku bilang ke dia kalo Karina lagi ngecat rambutnya lho. Dia langsung "oh ya?" sambil antusias gitu. Kita pun ngobrol pendek dan akhirnya memutuskan buat dinner di luar. Ceritanya kita terlalu males buat masak :p

Pas sampe di salonnya Karina, aku dan Audrey semacem terpana gitu liat Karina yang rambutnya udah ijo dari luar pintu. Mbak hairdressernya pun segera ngebukain pintu dan mempersilahkan kita masuk. Oh my God, Karina berani banget dengan rambut ijo terang benderang gitu! Salut aku.

Doppelganger Hair Newtown.
Awalnya mau baca buku-buku itu kan, tapi nggak jadi karena gambarnya semacam striptis gitu. Haha.
Selama nunggu Karina selesai dibenahi rambutnya, aku share sama Audrey tentang transformasi rambutku. Aku tunjukin dia dulu rambutku pernah panjang banget pas taun 2008. Panjang dan ikal, sampe-sampe dijuluki Suzanna sama temen (astaga). Audrey surprised gitu liat rambutku panjang. Katanya aku terlihat sangat girly kalo rambutku memanjang. Terus aku tunjukin dia rambut terpendekku seperti apa. Yang pas itu bagian kirinya pendek banget kayak cowok, terus poninya memanjang kekanan. Inspirasi abis nonton This Is England pokoknya. Audrey pun langsung nyuruh aku potong begitu lagi. Eh, bentar deh ini lagi pengen manjangin rambut, hahaha.

Karina yang kini berambut ijo diapit aku dan Audrey.
Setelah Karina kelar, kita bertiga keluar dan cari makan. Di sela-sela perjalanan, Karina bilang kalo dia udah pengen punya rambut ijo gitu sejak 3 taun lalu. Wow cukup lama juga sampe akhirnya bisa kejadian ya sist! Tapi aku ikut seneng karena emang hasilnya bagus dan Karina cocok juga punya rambut warna begitu. Coba aku. Waduh nggak seberani itu deh.

Akhirnya malem itu aku, Audrey dan Karina makan di Bangkok Bites, tempat makanan Thailand baru di King Street, Newtown. Kami pesen semacem kwetiau ayam dan oseng-oseng daging sapi. Menurutku sih enak, tapi menurut Audrey dan Karina biasa aja. Haha emang dasarnya lidahku susah ngebedain mana makanan enak sama nggak enak :)))

6. Menggambar lagi.

Sesampe di apartemen, seperti biasa aku langsung nyalain laptop dan browse informasi. Aku emang lagi punya rencana, tapi bingung banget itu harus direalisasikan apa enggak. Karena kelamaan mikir, nggak sadar tiba-tiba udah jam 2 pagi dan aku belum ngantuk juga. Padahal lagi nyetel Death Cab For Cutie. Mestinya bisa lebih rileks 'kan. Eh tapi sapa bilang juga, lagu-lagunya Death Cab emang bikin kita jadi lebih 'mikir' :)

So, I grabbed my sketch book and started doodling. Seperti biasa, aku mulai dari gambar mata, idung, lalu mulut. Basic banget. Kayak anak kecil kalo belajar gambar.


Aku jadi inget kata Karina, katanya aku harus aktif menggambar lagi buat kelangsungan 'project' kita itu. Oke, kita liat aja yah. Ini aku 'manasin' tangan dulu. Hahahaha, kayak udah jagooo banget aja. Padahal masih level papan triplek ^^"

Alright, begitulah hal-hal spontan yang terjadi kemaren. Emang kadang spontaneity itu dibutuhin biar idup nggak membosankan. Biar idup itu ada ceritanya dan bisa ditulis sampe panjang di blog (eh yang ini juga gak segitunya sih, kalo kepanjangan mabok juga). Lagi-lagi aku inget kata Audrey, "Okay, we have done crazy things in our life. So, what's yours, Kiza?". Audrey nge-refer pengalaman me-nattoo punggungnya dan pengalaman Karina ngecat rambutnya dengan spontan.

Aku? Well, let's see then.