Pages

Thursday, November 19, 2015

Choosing choice

Tulisan ini dibuat karena saya terinpirasi dengan kejadian beberapa hari lalu. Kemaren-kemaren saya sempet ngalamin anxiety berlebih. Saya susah konsentrasi, nggak bisa duduk lama di suatu tempat, nafsu makan meningkat, gelisah, nggak tenang, nggak fokus dan insecure. Rasanya negatif pokoknya. Sampe akhirnya saya pusing, cape badan dan males ngapa-ngapain. Essay kuliah saya juga sempet terlantar. Saya bingung banget.

Karena merasa nggak bisa beraktivitas and it frustrated me, saya nyoba cari tau penyebabnya. Saya browse informasi di Internet (haha), katanya sih itu bagian dari depresi. Saya nggak setuju, karena saya ngerasa sehat dan baik baik aja. Saya pikir lagi... saya pikir lagi kenapa bisa se-anxious ini. Apa karena kopi yang saya minum hampir tiap hari? Apa karena saya "highly sensitive person"? Apa karena saya panik tugas kuliahnya nggak kelar-kelar padahal udah deket deadline? Yang terakhir cukup memungkinkan sih. Tapi biasanya saya juga nggak pernah sampe se-anxious ini menjelang deadline.

Akhirnya setelah mikir lama, saya semacem nemuin jawabannya. I blame it on the choices that are available to me. Yeah, choices. Pilihan-pilihan, kemungkinan-kemungkinan, kesempatan-kesempatan yang tersedia diluar sana. Mungkin seperti precious things yang lagi beterbangan kesana kemari, gerakannya halus seperti ditiup angin semilir dan menunggu buat ditangkap. Tapi sekalinya ditangkap, mata kita tergiur dengan yang lainnya. Kita jadi merasa yang kita tangkap itu nggak se-precious itu, nggak sebernilai itu. Karena kita tau kalau masih ada yang lain, yang bagus yang beterbangan bebas, nggak berpemilik, kita jadi mikir, "Beneran sebagus itu nggak sih yang kutangkep ini?". Akhirnya kita mulai gelisah. Kita gigit bibir, ketuk-ketukin jari di meja, gerak-gerakin kaki. Kita nggak tenang. Kita mulai nggak yakin sama pilihan kita.

Itulah yang saya rasain ketika lagi anxious kemaren. Saya merasa kebanyakan mikir "What if..." setelah mutusin buat memilih sesuatu. Saya merasa pilihan saya itu bukan yang terbaik, karena saya tau ada kemungkinan-kemungkinan lain yang available di sekitar. Saya takut pilihan itu nggak menguntungkan. Saya cemas kalau pilihan itu bakal mengecewakan. Saya nggak mau rugi. Tapi memang benar, pilihan lain itu terlihat, terdengar dan terasa lebih... menggiurkan. Pikiran saya langsung meraba jauh ke masa depan. Otak saya langsung menggambarkan adegan yang lebih menyenangkan. Saya nggak mau salah pilih. Kemungkinan/pilihan/kesempatan lain itu emang terlihat lebih 'hijau'. Ada apa dengan saya? Mengapa saya terdengar sangat membingungkan?

Saya pun berpikir lagi. Apa yang menyebabkan saya jadi overwhelmed seperti ini? Masa sih karena ada banyak kemungkinan/pilihan/kesempatan di sekitar saya? Yang beterbangan bebas diluar kotak pemikiran saya? Mengapa saya nggak gampang puas? Mengapa saya selalu ingin lebih? Contoh simpelnya bisa dilihat saat saya menulis essay untuk kuliah. Bisa dibilang proses menulis saya ini lama, karena setiap kata itu saya pikirin banget; kalau bisa sih itu kata ter-perfect yang bisa saya buat. Kata terbagus yang saya hasilkan dengan kemampuan maksimal dan waktu yang tersedia juga. Makanya, dari satu kalimat ke kalimat lain aja pindahnya lama. Sampe-sampe satu jam mungkin baru bisa bikin 100 kata. Kadang saya sampe pusing sendiri gara-gara nggak bisa gerak cepet. Well, saya cukup paham bahwa mungkin ada faktor bahasa dibelakangnya. Menulis dalam bahasa yang bukan bahasa native kita memang gak gampang. Apalagi bisa dibilang saya baru aktif(?) menulis bahasa Inggris pas kuliah S1, gara-garanya kuliahnya emang di jurusan Sastra Inggris. Tapi tetep aja. Yang namanya menulis bagus emang butuh proses. Nggak bisa langsung nulis sekali terus langsung bagus, mencengangkan dan menggugah. Kecuali kita emang kayak those great novelists, poets or journalists.

Baiklah, pertanyaan-pertanyaan sebelumnya itulah yang bikin saya makin gelisah. Kenapa dengan adanya banyak pilihan, saya jadi makin bingung? Bukankah seharusnya saya bersyukur karena berarti itu saya tinggal pilih sesuka hati? Bukankah seharusnya lebih mudah untuk menentukan mana yang lebih baik? Saya jadi kesel. Pikiran-pikiran saya bercabang seperti batang-batang pohon cantik dan meliuk-liuk tak berdaun yang jadi favorit saya. Udah nemu satu jawaban dari pertanyaan kenapa saya anxious, eh kenapa si otak langsung lompat dan hinggap di subject lain. Bikin saya jadi harus mikir, mikir dan mikir. Nggak tenang. Gelisah terus. Bertanya-tanya...

***

Tulisan ini dibuat karena saya lagi penasaran sama konsep "pilihan", yang menurut saya sampe bikin anxious beberapa hari. Setelah mikir lama, saya bikin kesimpulan sendiri kalo anxiety itu datang karena saya merasa terlalu punya banyak pilihan. Well, "banyak" atau enggak sebenarnya relatif juga, karena itu juga tergantung situasi. Kalau situasi mendukung dan resourcesnya tersedia, maka pilihan akan semakin banyak. Kalau situasi nggak mendukung dan resourcesnya terbatas, kita tau, pilihan nggak akan sebanyak itu. Untuk kasus saya, resources ini berarti informasi. Informasi yang saya dapet dari perkuliahan tiap Selasa-Kamis-Jumat, news organisation yang saya follow di Twitter dan Instagram, novel fiksi dan majalah lifestyle yang saya baca, orang-orang asing yang berpapasan dengan saya, individu-individu menarik yang berinteraksi dengan saya ... beragam sumber. Setiap sumber menyajikan informasi dengan versinya sendiri. Setiap sumber punya versi kebenarannya sendiri. Setiap sumber berhak 'masuk' ke kotak pemikiran seseorang, asalkan ia mampu membuka lebar penutup atasnya dan membuang mana yang unnecessary lewat penutup bawahnya. Tetap pada batasnya, tetap pada kotaknya. Tetap pada prinsip dan pendiriannya.

Kita emang nggak akan pernah tau kapan otak ini bakal berhenti berpikir. Berhenti berpikir artinya mati 'kan? Otak nggak bekerja lagi, kita nggak bisa bernafas lagi alias diambil Tuhan. Makanya di satu sisi, saya nyoba memaklumin kenapa saya nggak berhenti berpikir dan bertanya. Itu berarti tandanya otak saya masih bekerja. Saya masih hidup. Saya masih harus berhadapan dengan pilihan. Saya masih harus bisa menimang mana yang baik, mana yang enggak. Akan tetapi, baik atau enggaknya pun juga relatif. Bisa baik untuk saya dalam satu dimensi waktu itu, tapi bisa nggak baik untuk saya di satu bulan kedepan. Bisa terdengar hampir sempurna bagi saya seorang, tapi bisa jadi disaster buat orang lain. Semua tergantung dari kacamata yang kita pake sih. Kalo lensanya item, penglihatan kita jadi warna item ato kecokelatan. Kalo lensanya kebiruan, ya jadi ikut biru. Intinya tentang gimana kita 'framing' pemikiran itu sih.

Eh, tapi jangan lupa juga kalau manusia punya perasaan. Sebagai seseorang dengan (kecondongan) tipe kepribadian INFP, titik berat saya ada di bagian feeling. Jadi saya lebih interest dengan hal-hal yang berhubungan dengan feeling (jangan ketawa yah). Akhirnya, I was drawn into this TED Talk yang membahas tentang pilihan. Ya, pencarian saya tentang konsep "Choice" belum berakhir. Kesimpulan saya tentang "banyak pilihan mengakibatkan anxiety" juga belum bisa saya ketok palu. Saya masih open buat ide lain yang mendukung atau bahkan mengkritik habis-habisan kesimpulan itu.

Pada taun 2005, seorang psikolog Amerika bernama Barry Schwartz berbicara di suatu sesi TED Talk berjudul "The Paradox of Choice". Judul itu sebenarnya adalah judul buku yang ia rilis tahun 2004 tentang salah satu misteri di kehidupan modern. Misteri itu adalah .... ehm, ini saya translate dan kutip dari halaman website TED ya: "Mengapa masyarakat yang berkelimpahan, dimana individu-individunya yang diberi lebih banyak kebebasan dan pilihan (personal, professional, material) dibanding dulu - mengalami semacam 'near-epidemic of depression'?". Pertanyaan ini menarik sih bagi saya. Walaupun udah 15 tahun lewat, saya rasa pertanyaan itu masih relevan untuk masa sekarang. Saya langsung ngehubungin kondisi masyarakat yang makin berhubungan erat sama teknologi, particularly online media. Karena ada online media, informasi yang kita terima makin berlimpah, makin bermacam-macam, makin dimensional - entah luas atau sempit, makin berkaitan erat dengan waktu. Akhirnya dengan segala kemampuan yang kita miliki untuk mengakses informasi, pilihan kita makin banyak.

Ada kemungkinan kita jadi makin bimbang dan anxious, karena ide yang kita rengkuh selama ini digoyahkan dengan ide baru. Ide kita yang lama dikontradiksi oleh sesuatu yang terlihat lebih 'fresh'. Sesuatu yang terlihat kontras dan timely, seiring perubahan jaman. Ide baru itu menandakan kesempatan. Ide baru itu menandakan lahirnya pilihan baru.

Tentunya pilihan ini berhubungan oleh kebebasan kita sebagai individu untuk memilih. Nah, ketika kita bicara "kebebasan", seakan-akan punya banyak pilihan itu adalah hal yang menyenangkan. Menyenangkan dalam arti 'banyak pilihan artinya seseorang makin bebas memilih', seperti apa yang saya bilang sebelumnya. 'Bebas' disini, semiotically, berkonotasi positif layaknya bebas, lepas, dan (merdeka?). Namun kenyataannya, nggak selamanya kayak gitu. Dalam TED Talk ini, Schwartz mengemukakan kalo banyak pilihan kadang justru bisa bikin kita "paralysed", bukan malah merasa "bebas". Dia bilang, "With so many options to choose from, people find it difficult to choose at all." Ya, saya setuju sih sama statement beliau. Dengan adanya banyak pilihan, saya malah merasa makin 'paralysed' atau 'kaku' - nggak mampu bergerak, nggak mampu memilih sama sekali. Kaget. Overwhelmed. Bingung dengan segala kemungkinan yang ada. Terbuai dahulu dengan ramalan hasil yang terlintas di otak. Menggigil dahulu dengan resiko semu yang merangsang perasaan. We just cannot move at all.

Schwartz pun berkata lagi, "...even if we manage to overcome the paralysis and make a choice, we end up less satisfied with the result of the choice than we would be if we had fewer options to choose from." Yup, saya setuju juga. Bahkan saat kita mampu mengatasi "paralysis" itu dan membuat keputusan, seringkali kita merasa kurang puas dengan hasil dari pilihan itu. Saya nggak tau hal ini berlaku apa enggak untuk yang lainnya ketika saya menyebut 'kita', tapi saya yakin iya sih. Keadaan ini saya sebut dengan "regret" atau penyesalan, dimana udah dibahas sama Schwartz juga pas ia ngejelasin efek kedua akan "pilihan". Dia bilang, "The more options there are, the easier it is to regret anything at all that is disappointing about the option that you chose." Menurut dia, hal itu terjadi karena "...it's easy to imagine you could have made a different choice that would have been better." Ketika kita berpikir bahwa "ini akan menjadi lebih baik" kalau kita memilih pilihan lain itu, kita akan menarik pemikiran dan perasaan sesal yang akhirnya nggak bikin kita puas. Merasa nggak puas berarti merasa kurang. Otak kita langsung lompat lagi ke subject lainnya, berusaha cari sesuatu yang bikin kita puas. Tapi namanya manusia yah, kita ini rakus juga. Susah untuk merasa puas, karena pilihan-pilihan yang terbentang luas itu. Pilihan-pilihan yang tersedia untuk kita, pilihan-pilihan yang berada di luar kotak pemikiran kita.

Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk memilih lebih baik? Schwartz menutup presentasinya dengan ilustrasi menarik. Ia memperlihatkan sebuah gambar fishbowl dengan ikan didalamnya. Menurut saya, itu adalah analoginya tentang apa yang saya sebut 'kotak pemikiran' kita. Yang menurutnya "impoverished imagination, a myopic view of the world", karena si ikan seakan-akan nggak tau apa yang terjadi diluar fishbowl itu. Si ikan nggak tau bagaimana kehidupan di lautan luas sana (well, just assume they don't know anything first). Kalau kita mecahin fishbowlnya, everything is possible buat si ikan, buat kita - kasarannya. Semua jadi mungkin karena si ikan nggak punya batas lagi, jadi dia bisa melihat kehidupan diluar fishbowl itu. Tapi perlahan, si ikan malah jadi klepek-klepek karena kekurangan air 'kan? That's what Schwartz called by 'paralysis'. Dia bilang, "Because the truth of the matter is that if you shatter the fishbowl so that everything is possible, you don't have freedom. You have paralysis. If you shatter this fishbowl so that everything is possible, you decrease satisfaction. You increase paralysis, and you decrease satisfaction."

Dari statement diatas, saya nyadarin kalau kadang kita perlu 'kotak pemikiran' juga, walaupun we are being bombarded by the notion 'oh, you have to be open minded' - things like that - karena ketika kita buka kotak pemikiran itu, segala ide akan masuk. Kemungkinan/pilihan/kesempatan akan masuk. Kita bisa overwhelmed. Kita bisa paralysed. Satisfaction kita menurun karena kita nggak tau 'mana yang bagus diantara yang bagus' itu semua, karena expectation kita biasanya mengarah ke satu hal yang ideal. Ketika dihadapkan dengan banyak kemungkinan ideal, kita jadi bingung banget dan malah nggak mampu memilih. Kalaupun memilih, kita cenderung gak bisa se-satisfied itu sama pilihan kita - entah pada saat itu juga atau kedepannya - karena kita tau sebenernya ADA pilihan lain yang lebih bagus. Hehe kompleks ya.



"Everybody needs a fishbowl. This one is almost certainly too limited -- perhaps even for the fish, certainly for us. But the absence of some metaphorical fishbowl is a recipe for misery, and, I suspect, disaster." - Barry Schwartz

Saya pilih statement Schwartz di menit 19:12 buat nutup tulisan ini. Yup, saya setuju sama dia. Ketika kita nggak punya fishbowl atau 'kotak pemikiran', kita nggak punya filter buat diri sendiri. 'Batas' kita ilang, karena fishbowl itu basically dibuat biar kita punya 'batas' dan nggak kemana-mana. Maksudnya, saat dihadapkan sama pilihan, kita nggak akan bingung-bingung lagi atau tergiur dengan pilihan-pilihan yang masih berterbangan bebas diluar sana. Kasarannya kita udah punya prinsip. Kita tau apa yang kita mau, jadi kita nge-filter pilihan/kemungkinan/kesempatan yang bisa bantu buat ngewujudin apa yang kita mau itu. Biar nantinya kita juga nggak akan nyesel sudah memilih pilihan itu, karena kita seakan-akan 'nggak tau' kalau those choices/possibilities/opportunities are exist.

I'm not saying kalau kita harus menutup diri sama semua kemungkinan yang ada. Nggak. Bukan itu. Malah nggak boleh kalau kita bener-bener menutup diri. What I'm saying is that, mungkin ada baiknya kita selalu nimbulin rasa 'cukup' dari diri sendiri. Merasa cukup bukan berarti kalah. Merasa cukup bukan berarti nggak mau berusaha lagi kedepannya. Bukan berarti berhenti dan nggak ambisius. Karena dari ngerasa cukup itu, kita semacem 'menenangkan diri' dari informasi yang berlimpahan dan masuk ke indera-indera kita. Kita nggak overwhelmed lagi sama banyaknya pilihan/kemungkinan/kesempatan yang available diluar sana. Kita nggak akan merasa senyesel itu juga ketika pilihan kita nggak berhasil, karena kita tau bahwa yang kita pilih itu udah cukup. Kalaupun emang nggak berhasil, jatuh dan hancur - sampe fishbowlnya pecah, ya itu jadi tugas kita buat bangkit lagi. Buat ngebenerin fishbowlnya lagi dan masuk kedalamnya. Kadang dengan jatuh dan hancur, kita malah bisa liat pilihan/kemungkinan/kesempatan lain lebih jelas karena fishbowlnya 'baru'. Nggak terkontaminasi partikel-partikel lain yang udah masuk kesana. Do you get what I mean?

I ain't the master of choosing choice, karena sebenernya saya payah dalam hal itu. Disini saya cuma berefleksi sama pengalaman aja dan nyoba cari tau kenapa saya bisa se-anxious itu. Setelah ngeliat videonya Barry Schwartz, saya makin paham kalau memang ada 'kebenaran' saat saya berasumsi kalau kebanyakan pilihan malah bikin anxious. Saya juga jadi sadar akan pentingnya fishbowl dalam ngejalanin hidup. Well, well... choosing choice emang kompleks. Choice nya aja udah bikin bingung, gimana choosingnya? :)