Jogja: Menikmati sisi lain kota tujuan mudik

Tanggal 10-13 Juni kemarin saya ke Jogja untuk melihat ArtJog 2016 dan Jogja ArtWeeks 2016. Walopun rutin mudik ke Jogja tiap tahun, perjalanan ke kota gudeg kali ini terasa beda dan menyenangkan. Biasanya, agenda di Jogja dipenuhi dengan acara keluarga. Entah itu makan-makan di resto untuk menikmati seafood dan ayam goreng, kumpul-kumpul lintas generasi, atau sekedar nongkrong cantik bareng sodara sepantaran. Kawasan yang saya kunjungi juga nggak jauh-jauh dari 'titik wajib' yaitu rumah eyang di daerah Kotagede, homestay dan rumah bude di dekat Universitas Sanata Dharma, mall seperti Ambarrukmo Plaza, resto-resto keluarga yang kadang jauh sampe di Kaliurang, atau kafe-kafe di sekitar kota yang lagi 'in' menurut sepupu.

Nah, perjalanan tanggal 10-13 Juni 2016 ini bisa dikatakan jauh dari acara keluarga. Lebih berpusat ke aktivitas yang berhubungan sama seni dan budaya. Terus pastinya juga, bersosialisasi sama orang-orang yang biasanya 'nggak-pernah-jadi-barengan-saya-pas-mudik'. Jadi kalo dirangkai menurut tanggal, kira-kira begini deh ceritanya.

***

Jumat, 10 Juni 2016
Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Tugu Yogyakarta, Kotagede, Adhisthana Hotel, Warung Heru, ArtJog 2016, Tempo Gelato

Pagi jam 7.30 saya berangkat naik kereta Sancaka Pagi dari Stasiun Surabaya Gubeng. Rasanya sedikit bernostalgia karena duduk di kereta bisnis. Pikiran langsung terbang ke tahun 2009, dimana saya dan cewek-cewek Koala liburan ke Bandung. Waktu itu kereta bisnis belum ber-AC. Udara terasa pengap, kami pun harus rela nggak bisa tidur dan pegel-pegel di bokong selama setengah hari. Sekarang ternyata sudah disediakan AC 2 biji di setiap gerbong. Saya malah merasa agak kedinginan, tapi tetep pegel-pegel di punggung, leher, dan kaki. Pukul 12.51 siang, KA Sancaka Pagi tiba tepat waktu di Stasiun Tugu Yogyakarta. Saya segera turun dan menghampiri mbak Tinta, yang ternyata juga ke Jogja di tanggal sama (lebih tepatnya saya yang ngikut sih, hehe). Begitu keluar dari stasiun, kami berpisah dan saya menuju halte bus Trans Jogja terdekat. Dengan rute yang disarankan operatornya dan biaya tiket bus Rp 3.500,-, saya pergi ke arah Kotagede untuk menemui nenek tercinta. Disana saya disambut Tante dan dua sepupu yang tersenyum renyah. Eyang Mami, sebutan nenek, pun tidak kalah bahagia, beliau sampe nangis ngeliat cucunya dateng tiba-tiba.

Menginjak pukul 3 sore, saya pamit melanjutkan acara. Awalnya mau jalan kaki ke halte, tapi Tante bilang kalo jaraknya lumayan buat jalan kaki. Untung sepupu mau ngebonceng dan nge-drop saya di halte jalan Ngeksigondo. Dari situ saya naek bus menuju Prawirotaman untuk check-in di Adhisthana Hotel. Perjalanan kesana ternyata nggak susah. Saya hanya harus naek becak lagi dari halte JokTeng Wetan (Utara) ato "halte Museum Perjuangan" kalo kata mbak operator. Tarif becaknya sukarela, jadi saya kasih bapaknya Rp 10.000,- deh. Itung-itung bayar rasa seneng karena udah lama nggak naik becak. Setelah mandi, saya menuju Warung Heru di gang Prawirotaman 1. Ceritanya udah kelaperan berat nih. Di warung milik vokalis band Shaggydog itu, saya langsung pesen rawon. Orang-orang di Internet pada bilang kalo kesana harus nyoba rawonnya. Ternyata emang beda sama rawon Surabaya lho. Dagingnya juga sangat empuk, tapi diem-diem saya ngerasa porsinya harus ditambah. Makanan pun habis dan saya segera membayar ke kasir. Disitu Ibu kasirnya menyapa dengan senyum manis dan mengira saya anak band. Saya pun terkekeh dan menjawab "Bukan, Bu" dengan nada 'alus'.

Kekenyangan, saya langsung putar otak buat pindah ke ArtJog 2016. Akhirnya pilihan jatuh ke bentor alias becak motor. Hari udah mulai gelap, angin malem sejuk menampar muka, sepertinya banyak yang baru di jalanan Jogja. Sederet tempat kuliner dan lampu-lampunya menghiasi sisi kota Jogja yang jarang sekali saya lihat. Bentor kami sampe juga di Jogja National Museum, setelah salah info tentang venue. Kami pun turun dan berjalan ke arah loket tiket yang tampak sepi. Seratus ribu telah dibayar untuk dua tiket, kaki kami langsung melangkah ke pintu masuk. Didalam ruang pameran entah kenapa mata saya terasa perih. Apa karena bau cat yang menyengat? Tapi gimana bisa sampe ke mata ya, ah nggak tau deh. Walopun begitu, untungnya saya tetep enjoy menikmati karya-karya yang dipamerin ArtJog 2016*. Kebanyakan mengesankan, apalagi yang berdetil rumit atau sekedar bikin tersenyum. Yang jelas saat-saat seperti ini ngingetin saya sama Sydney dengan galeri-galerinya. Terutama MCA dengan lokasinya yang strategis dan suasana sekitarnya yang buzzing yet relaxing. Selesai dengan semua karya dan pemandangan muda-mudi yang foto sana-sini, saya menuju area merchandise. Seneng rasanya dapet DVD Papermoon Puppet Theatre! Nggak sabar deh nonton Secangkir Kopi Dari Playa yang masuk di adegan AADC 2 itu.

Sepulang dari ArtJog 2016, saya menyempatkan ke Tempo Gelato. Awalnya pengen kesana karena penasaran sama foto temen di Jogja. Gelatonya tampak menarik, jadinya ngiler. Disana saya mencoba 3 rasa yaitu cokelat, green tea dan... ah satunya lagi lupa. Pokoknya enak dan lembut. Nggak kalah sama gelato-gelato lezat-nya Sydney :)


Sabtu, 11 Juni 2016
Gardu Pandang Kebun Buah Mangunan, ViaVia, Greenhost Boutique Hotel, Rumah Papermoon, Langgeng Art Foundation, Cemeti Art House, La Creperie, Pondok Terra, Warung Bu Ageng, Ruang MES 56

Rencana awal buat memburu sunrise di Punthuk Setumbu tergantikan oleh perjalanan 'dadakan' ke Kebun Buah Mangunan. Ceritanya begini, waktu itu saya turun ke kafe hotel pukul 3 pagi untuk makan. Tiba-tiba mata menangkap sosok familiar. Ternyata 2 teman saya dari Surabaya, Nia dan Nindi, lagi nginep juga di Adhisthana. Setelah mengobrol, kami berangkat dengan naik mobil. Perjalanan ke spot melihat sunrise ternyata cukup menantang, tapi untung temen kami handal dalam menyetir. Sesampai disana, orang-orang sudah duduk/berdiri di tempat yang menyebar. Berusaha mengambil spot dimana kabut tebal di sekitar bukit itu terlihat jelas dan bisa diabadikan oleh kamera. Sesekali angin dingin menggelitik kulit tubuh. Thank God saya masih bisa nahan walopun pake celana pendek. Lambat laun sinar putih kekuningan tampak dari sela-sela pepohonan. Matahari telah datang!







Kelar menikmati pemandangan cantik pagi itu, kami balik ke Adhistana dan melanjutkan acara masing-masing. Perut yang lapar akhirnya diisi dengan santapan pagi di ViaVia yang direkomendasiin Putri dan Ayu. Kalo liat ViaVia, saya jadi inget Lentil As Anything di Newtown, Sydney. Suasananya mirip, meskipun tanpa fair-trade shop dan sistem pay as you feel ya. Merasa kenyang, kami balik ke hotel untuk mandi dan saya siap-siap pindah ke Greenhost Boutique Hotel. Sesampai di Greenhost dan mengitari galerinya yang ternyata dipake AADC 2 juga, saya menuju rental sepeda motor dengan dibarengi sengatan matahari. Kunci motor sudah di tangan, rute ke daerah Bantul sudah siap di Google Maps. Motor pun melaju kesana kemari, sampai akhirnya Google Maps membawa kami ke komplek pemakaman. Bulu kuduk bergidik, saya berpikir "Ini kami nggak disasar-sasarin 'kan?". P yang waktu itu menyetir, langsung tancap gas dan saya tanya warga setempat tentang lokasi Rumah Papermoon. Untungnya, bapak-bapak itu tau dan mengarahkan kami ke rumah yang 'mojok' di belakang. Gonggongan dua ekor anjing menyambut kami dan seorang pemuda melangkah keluar sambil tersenyum. Ia memperkenalkan diri sebagai Benny. Saya tersenyum balik dan memperkenalkan diri sebagai teman mba Tinta dari C2o Library. Benny mempersilahkan saya dan P masuk ke studio 'hommy' tersebut.

Sembari menunggu rombongan mbak Tinta datang, kami mengobrol dengan Benny yang tak segan menceritakan keseruan Papermoon Puppet Theatre. Anggota Papermoon Puppet lainnya juga sangat welcome oleh kehadiran kami, walaupun mereka terlihat sibuk membuat boneka baru. Mbak Tinta pun datang dengan mas Gugun, Andre, dan Ari. Suasana studio jadi makin ramai dan Lunang, putra mbak Ria, menjadi pusat perhatian karena keimutannya. Benny juga sempat mempraktekkan bagaimana ia memainkan boneka. Kami langsung terpukau, karena mata kami berhasil dibuat fokus ke bonekanya - bukan ke Benny-nya. Hebat! Setelah itu, kami berfoto bersama dan pamit meninggalkan studio. Saya dan P kembali naik motor, menuju galeri-galeri seni lainnya. Sayangnya, Sangkring Art Space dan Ark Galerie lagi tutup. Jadinya siang itu kami cuma muter ke Langgeng Art Foundation dan Cemeti Art House. Capek berada dibawah sinar matahari, kami nyempetin mampir ke La Creperie, mencoba crepe yang ngingetin saya sama Aussie lagi.

Setelah Maghrib, saya menuju Pondok Terra, tempat Nia dan Nindi menginap, dan menikmati suasana rileks di sekitar kolam renang yang minim pencahayaan. Kelaparan, rombongan kami menuju Warung Bu Ageng di jalan Tirtodipuran dan menyantap makan malam lezat. Di warung itu lah saya berpisah dengan teman-teman dan melanjutkan acara ke Ruang MES 56. Sesampai disana, orang-orang sudah memadati halaman depan ruang pameran. Sibuk mengobrol dan bertemu kerabat. Mbak Tinta dan Mas Andre akhirnya datang menyusul setelah beberapa menit. Nggak lama, saya pamit balik dan melewati Ace House Collective yang terletak nggak jauh dari Ruang MES 56. Hari ini seru dan menginspirasi!


Minggu, 12 Juni 2016
Tamansari Water Castle, Sumur Gumuling, Gudeg Yu Djum di Wijilan, Tempo Gelato, Bandara Adisutjipto, Kotagede

Sempat bingung mau kemana hari ini, akhirnya Tamansari jadi tujuan karena saya nggak pernah kesana *poor me!*. Delman jadi angkutan pertama yang membawa saya dari Prawirotaman. Lama nggak naik delman, tiba-tiba mengalun lagu ini dari mulut,
Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota/ Naik delman istimewa ku duduk di muka/ Ku duduk samping Pak Kusir yang sedang bekerja/ Mengendalikan kuda supaya baik jalannya/ Hei!/ Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk/ Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda...
Pagi yang menyenangkan sekaligus panas. Berkeliling di Tamansari Water Castle dan Sumur Gumuling sudah membuat baju basah kuyup. Tapi nggak masalah, at least sekarang saya tau kenapa dua tempat ini menarik perhatian orang. Saya jadi sempet berimajinasi tentang adegan-adegan Game Of Thrones yang tampaknya keren dilakukan disitu, apalagi di Sumur Gumuling. Capek jalan, saya balik ke Greenhost dengan naik becak. Sebelumnya, sempet mampir juga di Gudeg Yu Djum untuk makan siang dengan P. Lumayan banget untuk recharge energi. Pulangnya, kami balik lagi ke Tempo Gelato untuk mencoba rasa baru. Wah rasanya tenggorokan ini langsung plong!




Masih di siang menuju sore, P harus balik ke kotanya dan kami berpisah di bandara, tepatnya di depan halte bus Trans Jogja. Nggak lama, bus datang dan saya menuju rumah Eyang Mami. Lagi-lagi Eyang Mami dan saudara menyambut dengan senang. Sepupu saya satu lagi, Adit, juga tiba-tiba datang. Adzan Maghrib pun berkumandang. Yang berpuasa segera minum Milo dingin suguhan dari Tante. Eyang Mami juga ikut hadir menemani kami di ruang tengah. Satu persatu gorengan yang dibeli sepupu-sepupu ludes, menemani obrolan antar keluarga malam itu. Eyang Mami juga tampak bersemangat menceritakan masa lalunya, begitu juga Tante. Rasanya senang melihat Eyang Mami yang semakin sehat, walaupun terkadang kasihan melihat ekspresinya kalau lagi kelupaan sesuatu. Capek mengobrol, satu persatu orang di rumah itu masuk kamar. Tinggal saya, Adit dan Farrel di ruang tengah. Farrel sudah mulai mengantuk dan lambat laun pulas di kasur TV yang menyiarkan pertandingan bola. Adit masih saja bersemangat menceritakan perkuliahannya di jurusan Geologi UPN, namun juga ingin mencoba masuk STAN. Saya jadi teringat pengalaman pindah jurusan dan kampus. Menginjak pukul 10 malam, Adit pamit pulang dan saya masuk ke kamar Eyang Mami. Tidur di kasur 'serep' yang sudah tergelar manis dibawah, sambil sesekali mendengar dengkuran Eyang Mami yang tertidur nyenyak.


Senin, 13 Juni 2016
Hartono Mall, Gudeg Campursari, Bakpia Kurniasari, Stasiun Tugu Yogyakarta, Stasiun Surabaya Gubeng

Saya membuka mata ketika suster Eyang Mami datang dan membuka pintu kamar. Eyang Mami langsung menyahut, katanya saya disuruh balik tidur karena Indira si sepupu juga belum bangun. Saya tersenyum dan Eyang berjalan tertatih keluar kamar dengan dibantu suster. Beliau berjalan ke teras, menikmati matahari pagi. Diam-diam saya inget almarhum Eyang Papi yang punya kebiasaan sama di pagi hari. Setelah menikmati sarapan sederhana yang enak, saya mengobrol dengan Tante dan sepupu. Kesimpulan dari obrolan kami adalah... menonton The Conjuring 2 siang itu! Lagi-lagi saya bergidik, tapi kayaknya seru nonton sama keluarga. Jarang-jarang sih.

Sebelum jam 12 siang, kami keluar rumah dan menuju CGV Blitz di Hartono Mall. Selama pertunjukan, bulu kuduk kami bolak-balik dibuat berdiri. Jantung pun juga bolak-balik berderu karena terkaget-kaget. Itu pas awal-awal. Menjelang menit-menit terakhir, ceritanya semakin kurang menarik karena si Valak, tokoh hantu, terlihat makin obvious. Rasa penasaran kita lama-lama terhapus oleh penampakannya yang menyerupai Marilyn Manson. Dua jam akhirnya berlalu dan kami keluar studio. Setelah berfoto-foto di mall, saya keluar membawa mobil rombongan dan menuju dua tempat makanan pesanan Papa, Gudeg Campursari dan Bakpia Kurniasari. Karena waktu yang mepet, saya memutuskan untuk ke stasiun dengan naik motor setelah pamit ke Eyang Mami dan sepupu-sepupu. Thanks to Tante yang mau membonceng, perjalanan darat ke stasiun Tugu cukup lancar. Saya naik kereta sebelum pukul 16.30 dan KA Sancaka Sore tiba tepat waktu di Surabaya malam harinya. Saya tersenyum lebar melihat sosok adek dan Mama yang menjemput di stasiun. Sampai ketemu lagi bulan depan, Yogyakarta!


*Foto-foto di ArtJog 2016 sengaja nggak saya tampilin biar pada liat sendiri yah :)

Comments

Popular Posts