Pages

Wednesday, January 18, 2017

Hello, Januari 2017

Perbincangan dengan seorang teman minggu lalu masih membekas di pikiran saya. Saat itu Ia menceritakan pengalamannya bermeditasi di Bogor selama 10 hari. Ia tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan siapapun, tidak boleh menggunakan gadget, berbicara dengan peserta meditasi lainnya, tidak menonton TV, tidak mendengarkan musik favoritnya, apapun itu. Pokoknya hanya boleh meditasi, makan dan minum dengan batas yang dianjurkan.

Bagi saya, itu adalah cerita menarik. Saya tanya, “Apa kamu nggak bosen?”. Ia langsung menggeleng keras, tapi matanya masih mengerling semangat. “Nggak, sama sekali. Rasanya malah… apa ya. Ngerubah banget deh. Kamu harus coba, Kiza,” katanya. Saya mengangguk-angguk. Pikiran saya mengawang ke sebuah pemandangan bukit hijau nan sejuk, lalu tampak orang-orang di ruangan terbuka, berbusana panjang warna putih. Damai dan tentram.

Di depot makanan yang sedang ramai itu, kami melanjutkan obrolan tentang ‘mindfulness’, ‘attachment’, dan hal-hal Zen lain yang sedang dipopulerkan di kanal media. Derasnya arus informasi yang mengharuskan kita bergerak cepat memang kadang melelahkan. Di satu sisi, pergerakan itu bagus apabila progresif dan inventif. Dalam kata lain, menghasilkan sesuatu yang baru dan bermanfaat kedepannya. Di sisi lainnya, bukanlah tidak mungkin untuk merasa jenuh. Berpikir bahwa tiap hari harus tetap ‘update’ dan ‘alert’ dengan informasi-informasi baru kalau tidak mau ketinggalan. Untung-untung kalau informasinya menyenangkan. Kalau tidak? Misal, acara TV atau timeline Twitter yang penuh dengan berita perseteruan politik, kriminal, terorisme, kerusuhan, atau bencana alam. Sungguh kompleks. Memang semua itu adalah kenyataan yang sedang kita hadapi dan masalah yang harus diselesaikan, tapi kadang otak ini ingin berjalan pelan, menikmati keseharian dengan sederhana dan tenang.

“Yang terpenting itu benernya 'masa sekarang',” lanjut si teman. Pikiran saya langsung menuju ke tulisan-tulisan Haruki Murakami tentang ingatan atau memory. Apalagi kutipan ini:

“We’re so caught up in our everyday lives that events of the past are no longer in orbit around our minds. There are just too many things we have to think about everyday, too many new things we have to learn. But still, no matter how much time passes, no matter what takes place in the interim, there are some things we can never assign to oblivion, memories we can never rub away. They remain with us forever, like a touchstone.” (Haruki Murakami – Kafka on the Shore)

Saya setuju dengannya. Kadang kita terlalu lama bergelut dengan ingatan masa lalu yang kerap menimbulkan sesal, yang menurut teman saya adalah konsep ‘kemelekatan’. Kadang kita terlalu lama sibuk berandai-andai mengapa tidak begini atau mengapa tidak begitu DULU, agar sekarang tidak begini. Manusia memang banyak maunya ya. Dan itulah akibat dari terlalu banyak mengingat masa lalu, yang tanpa sadar telah mengkonsumsi separuh pikiran, badan dan jiwa kita. Yang membuat kita kurang menghargai masa sekarang. Masa yang sebenarnya merupakan berkah. Masa yang sebenarnya sederhana.

“Aku sekarang menerapkan teori 3 detik,” katanya. “Apa tuh,” tanggapku. Perbincangan ini makin menarik. “Aku selalu berhitung 1 sampai 3 tiap kali mau ngelakuin sesuatu. Misal pas bangun pagi. ‘Kan aku lagi suka lari juga ya. Nah itu pasti kerasa males ‘kan. Sebelum malesnya dateng, aku bilang ‘satu, dua, tiga…” dan cus! Aku langsung bangun dan berangkat lari,” jelasnya. Ia pun menerangkan bagaimana otak kita ‘sudah terprogram’ untuk hesitate setiap kali mau melakukan hal positif dan malah bersemangat untuk hal negatif. Dahi saya sempat mengernyit ketika sampai disitu. “Hal negatif gimana maksud kamu?” Ia menjelaskan lagi tapi pengertian saya masih samar-samar.

Lucunya, di hari ini saya baru mengerti apa yang dimaksudnya. Hal positif itu bisa dikatakan hal-hal ‘baik’, ‘wajar’, atau ‘kebiasaan’ menurut standar kita atau sekitar. Kalau memakai contoh teman saya, bangun pagi dan lari pagi adalah 2 hal di luar kebiasaannya. Maka itu, dianggapnya sebuah hal ‘negatif’ karena diluar standar atau lingkup dirinya. Otak dan badannya pun merasa tertantang untuk melakukan hal ‘negatif’ itu, apalagi ketika diberi waktu. Seperti yang kita tahu, terkadang waktu adalah momok. Apalagi kalau waktunya singkat. Makin menjadi momok karena ruang geraknya terbatas dan mengharuskan kita untuk cepat. Akhirnya diri ini mendapatkan stimulasi ‘diburu-buru’ dari percobaan menghitung tadi. Ya, sekarang saya mengerti apa maksudmu!

“Eh, tapi aku masih penasaran. Gimana sih untuk tetep konsen meditasi, nggak mikir apa-apa gitu?” tanyaku. Dia tertawa. “Wah itu emang susah banget, Kiza. Pas meditasi itu ‘kan kita disuruh konsentrasi sama nafas ya. Gitu aja terus selama 10 hari. Tapi lama-lama terbiasa kok. Enak kok, Kiza.” Mendengar itu, saya segera berbagi pengalaman ketika yoga di Sydney. Bagaimana saya selalu gagal saat disuruh memejamkan mata dan fokus pada nafas. Yang ada malah ingat hal-hal lainnya. Nafas bukan lagi hal yang penting.

***

Baru tiga hari saya coba mempraktekkan hal-hal yang dibagi teman saya. Tentang teori 3 detik, meditasi atau berkonsentrasi dengan nafas, dan menghargai masa sekarang. Memang masih 3 hari, belum seminggu, sebulan, 3 bulan atau setahun. Masih berupa sel kecil yang harus selalu diberi makan untuk berkembang. Baru tiga hari ini saya bangun dan langsung mensugesti diri dengan “Now or Never” setiap kali merasa kantuk, ingin balik tidur lagi. Dengan cepat saya memompa diri dengan berhitung satu, dua, tiga… dan HUP! Saya buka mata lebar-lebar dan duduk. Sempat pusing memang, tapi langsung saya tepis dengan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya besar-besar. Begitu terus hingga hitungan ke-10. Rasanya otak langsung plong, keinginan untuk meraih handphone dan mengecek social media seperti biasanya pun jadi tidak terlalu ‘appealing’. Yang ada malah perasaan bersyukur karena masih bisa bangun dan merasa sehat. Kegiatan saya setelah itupun terasa lebih fokus, surprisingly. Saya pun menemukan waktu lagi untuk membaca novel dan menulis panjang seperti di postingan ini.

Saya juga merasa lebih bisa menghargai ‘the present’ dengan fokus pada apa yang sedang dilakukan saat itu dan seminim mungkin menghiraukan masa lalu serta masa depan. Memang susah, karena manusia sewajarnya berefleksi pada masa lalu dan waspada pada masa depan untuk masa sekarang yang lebih baik. Tapi apa salahnya juga menjalani masa sekarang dengan lebih sederhana dan …natural? Misal, tidak menginterupsi waktu sarapan dengan mengenyahkan handphone dari jangkauan dan benar-benar fokus pada santapan saat itu? Mungkin sarapan kali itu hanyalah sereal atau dua lembar roti dan kopi instan, bukanlah healthy bowl yang penuh dengan bongkahan muesli, buah-buahan, yoghurt apapun itu yang lagi sering muncul di Instagram Stories teman-teman. Mungkin sarapan kali itu jauh dari kata sangat sehat, bergizi, atau apalah, tapi kesempatan untuk bisa sarapan itulah sebenarnya yang mahal. Apalagi jika suasana sekitar mendukung. Rasanya penuh berkah.

Hal-hal kecil itulah yang sedang saya cermati berhari-hari ini. Memang tidak mudah untuk mengucap syukur ketika sedang terhimpit. Memang tidak mudah untuk sadar akan keindahan yang sederhana ketika pikiran negatif sedang di puncak.

Memang semuanya butuh waktu. Memang semuanya butuh kesabaran. Dan kita (ternyata) mempunyai kontrol untuk dua hal itu :)

Sunday, November 20, 2016

Eksplor Kampung Jagalan Surabaya

Sejak akhir Juli 2016, saya merasa makin kenal kota Surabaya. Kota yang awalnya sebatas "kota tempat tinggal", pelan-pelan bertambah menjadi kota yang menyenangkan dan penuh potensi. Terima kasih untuk kegiatan jalan kaki yang sedang saya geluti bersama SUBWalker dan komunitas lainnya yang memiliki visi sama, seperti C2o Library dengan Manic Street Walkers dan Surabaya Johnny Walker, Anitha Silvia dan Celcea Tifani dengan proyek Pertigaan Map, serta Teropong Pejalan dengan kegiatannya pagi ini.

***

Saya sampai di Hotel Djagalan Raya pukul 7.40 dengan mengendarai ojek online. Perjalanan 9.5 km dari rumah ke tujuan memakan biaya Rp 20.000,-. Sesampai di lokasi yang "tersembunyi" itu, saya melihat 3 orang sudah duduk manis di teras. Salah satu menyapa dan menanyakan apa saya ikut program jalan-jalan. Saya jawab iya, sambil mendekat. Setelah duduk, mas yang menyapa tadi bilang, "Kok muka kamu familiar ya." Ternyata mas yang bernama Indra ini dulu teman kuliah kakak perempuan saya. How small the world is. Pantes muka mas Indra juga familiar.

Dimach, partner di SUBWalker, sampai di Hotel Djagalan Raya sekitar 10 menit selanjutnya. Kami langsung masuk ke area resepsionis dan mengelilingi hotel budget dengan lokasi strategis tersebut. Menurut penjelasan mas Indra, bangunan hotel ini sudah ada dari tahun 1930an. Hotelnya sendiri berdiri tahun 1970an. Saya terkesan dengan teras hotel ini, ceilingnya yang bercorak warna biru, dan tegel kuncinya. Aksen yang manis. Saya langsung membayangkan mengadakan tea party di teras hotel.

Ceiling hotel
Pigura dengan foto Surabaya Lama banyak dipajang di koridor hotel
Tegel kunci!
Koridor menuju halaman belakang hotel

Satu persatu peserta datang, jumlahnya mungkin hampir 20 orang. Teropong Pejalan sebagai penyelenggara akhirnya membagi peserta ke dalam 2 group. Satu group dipandu oleh mas Zaenal, satu lagi oleh mas Indra. Mereka berdua ini sama-sama berasal dari komunitas SUBCyclist. Sebelum mulai jalan, peserta harus menyetor 3 botol air mineral kosong ke panitia sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. Kami juga diajak berdoa sebelum 'blusukan' ke kampung di kawasan Jagalan. Fyi, kawasan Jagalan ini terletak sekitar 2 km dari pusat kota Surabaya dan tak jauh dari situ kita bisa menemukan Rumah Sakit Adi Husada, sentra kosmetik Pengampon, Taman Hiburan Remaja, Hi-Tech Mall atau mall gadget terkenal di Surabaya selain WTC dan Plasa Marina, dan wilayah Surabaya Utara yang menyimpan banyak narasi sejarah.

Pagi itu matahari masih agak malu-malu, tapi badan ini sudah berkeringat saja. Surabaya dengan temperatur rata-ratanya yang mencapai 33 derajat Celcius membuat kami harus selalu mengenakan topi, sunblock, atau pelindung kepala/muka lainnya. Beruntung sinar matahari belum terlalu terik, kami bisa santai melihat-lihat suasana perkampungan Jagalan. Dari Jagalan kami berjalan hingga ke Makam Tua Belanda Peneleh atau Makam Peneleh, situs makam yang akses masuknya harus melalui Dinas Pertamanan Kota Surabaya. Disitu group kami berkumpul dan berhenti di rumah produksi Sawoong. Sawoong ini menjual merchandise kota Surabaya dan diproduksi secara privat. Dari Sawoong, kami meneruskan perjalanan ke kampung Peneleh dimana makam di depan rumah adalah hal biasa. Dimach dan saya percaya bahwa makam itu diperuntukkan bagi orang yang tidak mempunyai akses ke pemakaman umum. Saya jadi ingat makam-makam dekat rumah yang ada di Madura tempo hari.



Rumah produksi Sawoong
Tiga bahasa.
Saya jadi ingat lagi kalau dulu doyan nulis aksara Jawa :))

Di perkampungan Surabaya, custom yang berlaku adalah turun dari kendaraan jika ingin dianggap sopan.

Rumah masa kecil Bung Karno di Peneleh 



Salah satu cabang Kartiko Jajan Pasar di Peneleh. Harus coba!


Di kampung Peneleh itu, kami juga melewati rumah masa kecil Bung Karno yang kini telah ditempati orang lain. Kami tidak berhenti disana berlama-lama, karena sungkan sama si pemilik rumah. Matahari mulai terik dan rombongan mempercepat langkah ke tujuan selanjutnya, Sekolah Sasana Bhakti di jalan Jagalan.

Menurut mas Zaenal, pemilik Hotel Djagalan Raya dulu bersekolah disitu. Sesampai di kawasan Sasana Bhakti, kami terkesan dengan fakta bahwa sekolah ini memiliki program belajar TK sampai SMA. Saya jadi ingat SD saya dulu di kawasan Gubeng yang menyatu dengan SMP dan SMA-nya. Betapa saya ingat dulu salah seorang teman sekelas pernah jadi primadona anak SMA gara-gara muka manis dan rambut hitam panjangnya. Betapa saya juga ingat dulu mbak-mbak SMA pernah memanggil saya dan teman, mengaku gemas, lalu memberi kami permen cokelat (anggep aja rejeki :p). Kira-kira seperti itu juga nggak ya di Sasana Bhakti?

Memasuki area sekolah (tentunya dengan izin Kepala Sekolah), kami disambut pemandangan anak-anak ABG cowok yang lagi main basket. Semakin ke belakang, kami disuguhi suasana belajar mengajar yang makin terlihat 'hidup'. Saya dan Dimach sempat mengintip ke salah satu kelas kosong dengan bangku kayu berukuran sedang. Sepertinya untuk kelas 1-2 SD. Salah seorang panitia menghampiri kami dan menunjuk kelas sebelah. "Yang ini bangkunya lebih original. Dari jaman Belanda." Mata kami menuju pada apa yang ditunjuk dan harus cepat berpaling karena sungkan dengan Pak Guru yang masih ada di dalam. Ya, benar. Bangkunya mirip dengan sekolah SD, SMP, dan SMA saya yang memang menempati bangunan tua (dan juga lengkap dengan cerita-cerita misterinya).


Studio Dewi Ballet ada di dekat sekolah Sasana Bhakti





Selesai melihat-lihat dan beristirahat sejenak di Sekolah Sasana Bhakti, kami berjalan kembali ke Hotel Djagalan Raya. Sebelumnya kami berhenti di Klenteng Pak Kik Bio yang merupakan salah satu klenteng beraliran Khonghucu di Surabaya. Klenteng yang selesai dibangun tahun 1951 ini menarik, meski bangunannya tidak seeksotis Klenteng Dukuh, tapi cukup menyajikan elemen-elemen budaya Cina yang lekat. Bau batang Hio yang dibakar sangat tajam di area klenteng ini. Di klenteng ini, mata saya juga sempat menangkap lemari berisi ramalan Jiamsi yang sempat saya coba di Klenteng Dukuh. Rasanya pengen mencoba lagi, tapi waktu belum memungkinkan. Memasuki halaman belakang klenteng, kami berdua bertemu dua ibu paruh baya yang menerangkan bahwa sejarah klenteng ini bisa ditemukan di ruangan sebelah. Kami langsung menuju ruangan yang ditunjuk beliau dan mencoba membaca 'prasasti' yang ditulis dengan ejaan lama.










Waktu menunjukkan pukul 10.30 dan kami menyelesaikan perjalanan dengan lesehan di ruang serba guna Hotel Djagalan Raya. Beberapa menikmati wedang poka yang disajikan panitia, beberapa kipas-kipas karena keringat yang tidak berhenti mengucur. Setelah membagikan giveaways dari sponsor, panitia menyudahi acara dengan melakukan foto bersama. Saya dan Dimach langsung menuju Kafetien 88 untuk mengisi perut. Kami sudah kelaparan :')

D-I-Y signage :) 
Teh Tarik dan Roti Kaya Keju. Yum!
Meja makan di Kafetien 88 Jagalan banyak ditempeli kata-kata bijak seperti ini

Kelar mengisi bensin di Kafetien 88, saya dan Dimach kembali ke rumah masing-masing. Saya panggil lagi jasa ojek online dan perjalanan sama-sama memakan biaya 20ribuan. Okey, terima kasih atas perjalanannya di hari itu, Teropong Pejalan!