Pages

Friday, September 16, 2016

Tale of Felk

As I was born on the sixteenth day of June, the sixth month, I have grown an affinity for number 6 and 16. My birth date, my childhood house and my mobile phone number – all has 6 and 16. Maybe it’s just a coincidence (I didn’t choose my phone number ‘coz it has 6 in it, but I picked it for the triple 2 – I am the second child), maybe it’s my lucky number(s). I have seen many twin numbers everywhere too, so I think today is the best time to launch my brainchild, Tale of Felk.

Tale of Felk is basically a compilation of my drawing and story. If you’ve been following me since 2010 (sounds creepy but hey, what can you do in this digital era?), you may have noticed that I have an ‘on-and-off relationship’ with drawing.

The Instagram page

Here’s a bit of background. Drawing is actually not a new thing for me. I like drawing since I was a child. My favorite was drawing Sailor Moon characters and those Japanese female fiction heroes we knew from television and mangas, like Wedding Peach, Magic Knights and Cardcaptor Sakura. I often accompanied the drawings with fan fiction stories for I wish they were more ‘alive’. That hobby continued until I was on the sixth grade. I was quite bored with drawing and coloring competition at school, so I decided to look for a new hobby. I went to explore music from hip-hop to rock and that was my fangirling story started.

2008 was the year I entered a design school so I had to draw again after 6 years of hiatus. It wasn’t easy for me – most of my friends were blessed with awesome drawing skills, yet my skill was not born that natural. I had to get myself used to sketchbook, drawing pens, 2B-5B pencils, Chinese inks, and variants of brushes. I tell you it wasn’t easy at all, but the character of my drawing started to develop pretty well.

I quit design school and moved to a private uni to study English lits in 2010. I had to exercise my storytelling skill there ‘coz the curriculum didn’t only involve reading the Classics but also writing essays, fictions and copywriting. A lot of #throwback moments happened, I had to recall how to craft words like I had used to when I was younger.

For almost 16 years, I’ve been watching two skills, drawing and storytelling, growing up in turn (even for the slightest inch). In other words, Tale of Felk is a complex manifestation of these two skills. It was my lost dream but I’m taking it back.

So please welcome my new playground @taleoffelk :)

Saturday, August 27, 2016

ri·sau

Kita adalah puing-puing yang berserakan
Debu-debu yang bertebaran
Nafas-nafas yang berantakan
Jemari-jemari yang berpalingan

Kita adalah matahari pagi yang ringkih
Dahaga siang yang kering
Awan sore yang menangis
Angin malam yang resah

“Untuk siapa kita hidup?”

Ia tak memalingkan muka
Badannya bergetar
Keringatnya bercucuran
Matanya membelalak murka

Lututnya melemah
Telapak kakinya seakan mengambang
Ia terjatuh
Dayanya hilang

“Kepada siapa lagi kita mengadu?”

***

Kita adalah cerita yang tak pernah selesai
Yang komanya terus melaju
Yang tanda tanyanya terus muncul
Yang titiknya tak pernah dilahirkan

Kita adalah tinta yang boros
Yang goresannya tak tahu malu
Yang kerap bercanda dengan lembar putih
Yang terjebak dalam pikiran muluk-muluk

Kita adalah waktu-waktu yang tak terhitung
Masa-masa yang tak berujung
Arti-arti yang tak terkendalikan
Memori-memori yang tak berizin

Kita adalah aku-kamu yang meracau
Yang mengigau di tiap malamnya
Yang merasuk mimpi salah satunya
dan mengendap jadi kerak.


Surabaya, 27 Agustus 2016

Tuesday, August 16, 2016

SUBWalker

Perkenalkan project baru saya dan teman-teman ;)

Desain logo: Dimach

***

Siang itu, Dimach, Rani dan Kiza berkumpul di Taman Ekspresi dan mengutarakan kegelisahan mereka akan kota Surabaya. Selama ini, mereka bertiga merasa bahwa Surabaya kurang diminati untuk urusan pariwisata. Padahal nyatanya, Surabaya punya banyak hal menarik yang bisa dikembangkan dan dipromosikan seperti narasi sejarah di Surabaya Utara, kuliner yang beragam, taman-taman cantik di penjuru kota dan perkampungan dengan karakter uniknya masing-masing.

Bagi Dimach, Rani dan Kiza, berwisata di kota sendiri bukan hanya window shopping di mall atau food adventure di kafe-kafe baru. Berwisata di Surabaya juga bisa dilakukan dengan jalan kaki di hari yang masih terang.

Ya, berjalan kaki. Mungkin terdengar baru atau bahkan tidak menyenangkan karena kondisi cuaca yang panas dan penuhnya kendaraan di jalan. Namun setelah mencoba sendiri dan mengikuti walking tour teman-teman, mereka bertiga merasa bahwa jalan kaki membuat jelajah kota Surabaya menjadi seru. Dengan ‘lepas’ dari kendaraan, mereka berpikir bahwa diri akan lebih fokus untuk merespon keadaan sekitar. Kedua tangan tak perlu repot memegang setir dan kaki tak lagi harus stuck diatas pedal. Badan kita bebas, pikiran kita lepas. Hal-hal di sekeliling jadi terlihat baru.

Penemuan seperti itulah yang membuat Dimach, Rani dan Kiza ingin melanjutkan berjalan kaki. Apalagi jalanan Surabaya sekarang sudah dilengkapi dengan trotoar dan ruang hijau yang cantik. Maka itu, mereka berinisiatif membuat proyek SUBWalker untuk menyimak perkembangan kota dan menikmati detail-detail khas didalamnya. Mereka ingin Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota industri saja, tetapi kota dengan potensi wisata yang unik dan berkelanjutan.

Dengan adanya SUBWalker, Dimach, Rani dan Kiza berharap untuk lebih mencintai kota Surabaya dengan segala deru riuhnya di jalan. Dengan segala realitanya yang masih tersembunyi dari sumber kebanyakan. Dengan segala manis pahitnya yang kerap tergilas oleh rutinitas, diacuhkan oleh waktu. 

***

Singkat kata, SUBWalker adalah cara Dimach, Rani dan Kiza untuk berpatisipasi dalam perkembangan kota Surabaya. Lewat berjalan kaki keliling kota, mereka akan mendokumentasikan fakta-fakta menarik di jalanan, mendiskusikan isu-isu sekitar yang patut jadi perhatian, dan menyampaikannya dalam mode bilingual sebagai masyarakat global di kota Surabaya.


Selengkapnya tentang SUBWalker, klik disini