Pages

Sunday, November 20, 2016

Eksplor Kampung Jagalan Surabaya

Sejak akhir Juli 2016, saya merasa makin kenal kota Surabaya. Kota yang awalnya sebatas "kota tempat tinggal", pelan-pelan bertambah menjadi kota yang menyenangkan dan penuh potensi. Terima kasih untuk kegiatan jalan kaki yang sedang saya geluti bersama SUBWalker dan komunitas lainnya yang memiliki visi sama, seperti C2o Library dengan Manic Street Walkers dan Surabaya Johnny Walker, Anitha Silvia dan Celcea Tifani dengan proyek Pertigaan Map, serta Teropong Pejalan dengan kegiatannya pagi ini.

***

Saya sampai di Hotel Djagalan Raya pukul 7.40 dengan mengendarai ojek online. Perjalanan 9.5 km dari rumah ke tujuan memakan biaya Rp 20.000,-. Sesampai di lokasi yang "tersembunyi" itu, saya melihat 3 orang sudah duduk manis di teras. Salah satu menyapa dan menanyakan apa saya ikut program jalan-jalan. Saya jawab iya, sambil mendekat. Setelah duduk, mas yang menyapa tadi bilang, "Kok muka kamu familiar ya." Ternyata mas yang bernama Indra ini dulu teman kuliah kakak perempuan saya. How small the world is. Pantes muka mas Indra juga familiar.

Dimach, partner di SUBWalker, sampai di Hotel Djagalan Raya sekitar 10 menit selanjutnya. Kami langsung masuk ke area resepsionis dan mengelilingi hotel budget dengan lokasi strategis tersebut. Menurut penjelasan mas Indra, bangunan hotel ini sudah ada dari tahun 1930an. Hotelnya sendiri berdiri tahun 1970an. Saya terkesan dengan teras hotel ini, ceilingnya yang bercorak warna biru, dan tegel kuncinya. Aksen yang manis. Saya langsung membayangkan mengadakan tea party di teras hotel.

Ceiling hotel
Pigura dengan foto Surabaya Lama banyak dipajang di koridor hotel
Tegel kunci!
Koridor menuju halaman belakang hotel

Satu persatu peserta datang, jumlahnya mungkin hampir 20 orang. Teropong Pejalan sebagai penyelenggara akhirnya membagi peserta ke dalam 2 group. Satu group dipandu oleh mas Zaenal, satu lagi oleh mas Indra. Mereka berdua ini sama-sama berasal dari komunitas SUBCyclist. Sebelum mulai jalan, peserta harus menyetor 3 botol air mineral kosong ke panitia sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan. Kami juga diajak berdoa sebelum 'blusukan' ke kampung di kawasan Jagalan. Fyi, kawasan Jagalan ini terletak sekitar 2 km dari pusat kota Surabaya dan tak jauh dari situ kita bisa menemukan Rumah Sakit Adi Husada, sentra kosmetik Pengampon, Taman Hiburan Remaja, Hi-Tech Mall atau mall gadget terkenal di Surabaya selain WTC dan Plasa Marina, dan wilayah Surabaya Utara yang menyimpan banyak narasi sejarah.

Pagi itu matahari masih agak malu-malu, tapi badan ini sudah berkeringat saja. Surabaya dengan temperatur rata-ratanya yang mencapai 33 derajat Celcius membuat kami harus selalu mengenakan topi, sunblock, atau pelindung kepala/muka lainnya. Beruntung sinar matahari belum terlalu terik, kami bisa santai melihat-lihat suasana perkampungan Jagalan. Dari Jagalan kami berjalan hingga ke Makam Tua Belanda Peneleh atau Makam Peneleh, situs makam yang akses masuknya harus melalui Dinas Pertamanan Kota Surabaya. Disitu group kami berkumpul dan berhenti di rumah produksi Sawoong. Sawoong ini menjual merchandise kota Surabaya dan diproduksi secara privat. Dari Sawoong, kami meneruskan perjalanan ke kampung Peneleh dimana makam di depan rumah adalah hal biasa. Dimach dan saya percaya bahwa makam itu diperuntukkan bagi orang yang tidak mempunyai akses ke pemakaman umum. Saya jadi ingat makam-makam dekat rumah yang ada di Madura tempo hari.



Rumah produksi Sawoong
Tiga bahasa.
Saya jadi ingat lagi kalau dulu doyan nulis aksara Jawa :))

Di perkampungan Surabaya, custom yang berlaku adalah turun dari kendaraan jika ingin dianggap sopan.

Rumah masa kecil Bung Karno di Peneleh 



Salah satu cabang Kartiko Jajan Pasar di Peneleh. Harus coba!


Di kampung Peneleh itu, kami juga melewati rumah masa kecil Bung Karno yang kini telah ditempati orang lain. Kami tidak berhenti disana berlama-lama, karena sungkan sama si pemilik rumah. Matahari mulai terik dan rombongan mempercepat langkah ke tujuan selanjutnya, Sekolah Sasana Bhakti di jalan Jagalan.

Menurut mas Zaenal, pemilik Hotel Djagalan Raya dulu bersekolah disitu. Sesampai di kawasan Sasana Bhakti, kami terkesan dengan fakta bahwa sekolah ini memiliki program belajar TK sampai SMA. Saya jadi ingat SD saya dulu di kawasan Gubeng yang menyatu dengan SMP dan SMA-nya. Betapa saya ingat dulu salah seorang teman sekelas pernah jadi primadona anak SMA gara-gara muka manis dan rambut hitam panjangnya. Betapa saya juga ingat dulu mbak-mbak SMA pernah memanggil saya dan teman, mengaku gemas, lalu memberi kami permen cokelat (anggep aja rejeki :p). Kira-kira seperti itu juga nggak ya di Sasana Bhakti?

Memasuki area sekolah (tentunya dengan izin Kepala Sekolah), kami disambut pemandangan anak-anak ABG cowok yang lagi main basket. Semakin ke belakang, kami disuguhi suasana belajar mengajar yang makin terlihat 'hidup'. Saya dan Dimach sempat mengintip ke salah satu kelas kosong dengan bangku kayu berukuran sedang. Sepertinya untuk kelas 1-2 SD. Salah seorang panitia menghampiri kami dan menunjuk kelas sebelah. "Yang ini bangkunya lebih original. Dari jaman Belanda." Mata kami menuju pada apa yang ditunjuk dan harus cepat berpaling karena sungkan dengan Pak Guru yang masih ada di dalam. Ya, benar. Bangkunya mirip dengan sekolah SD, SMP, dan SMA saya yang memang menempati bangunan tua (dan juga lengkap dengan cerita-cerita misterinya).


Studio Dewi Ballet ada di dekat sekolah Sasana Bhakti





Selesai melihat-lihat dan beristirahat sejenak di Sekolah Sasana Bhakti, kami berjalan kembali ke Hotel Djagalan Raya. Sebelumnya kami berhenti di Klenteng Pak Kik Bio yang merupakan salah satu klenteng beraliran Khonghucu di Surabaya. Klenteng yang selesai dibangun tahun 1951 ini menarik, meski bangunannya tidak seeksotis Klenteng Dukuh, tapi cukup menyajikan elemen-elemen budaya Cina yang lekat. Bau batang Hio yang dibakar sangat tajam di area klenteng ini. Di klenteng ini, mata saya juga sempat menangkap lemari berisi ramalan Jiamsi yang sempat saya coba di Klenteng Dukuh. Rasanya pengen mencoba lagi, tapi waktu belum memungkinkan. Memasuki halaman belakang klenteng, kami berdua bertemu dua ibu paruh baya yang menerangkan bahwa sejarah klenteng ini bisa ditemukan di ruangan sebelah. Kami langsung menuju ruangan yang ditunjuk beliau dan mencoba membaca 'prasasti' yang ditulis dengan ejaan lama.










Waktu menunjukkan pukul 10.30 dan kami menyelesaikan perjalanan dengan lesehan di ruang serba guna Hotel Djagalan Raya. Beberapa menikmati wedang poka yang disajikan panitia, beberapa kipas-kipas karena keringat yang tidak berhenti mengucur. Setelah membagikan giveaways dari sponsor, panitia menyudahi acara dengan melakukan foto bersama. Saya dan Dimach langsung menuju Kafetien 88 untuk mengisi perut. Kami sudah kelaparan :')

D-I-Y signage :) 
Teh Tarik dan Roti Kaya Keju. Yum!
Meja makan di Kafetien 88 Jagalan banyak ditempeli kata-kata bijak seperti ini

Kelar mengisi bensin di Kafetien 88, saya dan Dimach kembali ke rumah masing-masing. Saya panggil lagi jasa ojek online dan perjalanan sama-sama memakan biaya 20ribuan. Okey, terima kasih atas perjalanannya di hari itu, Teropong Pejalan!

Friday, November 18, 2016

Mid-November

“What is commonest, cheapest, nearest, easiest, is Me,
Me going in for my chances, spending for vast returns,
Adorning myself to bestow myself on the first that will take me,
Not asking the sky to come down to my good will,
Scattering it freely forever.”
― Walt Whitman, Song of Myself

To a point where we have to loosen ourselves from the chains and give the rest to The All-Knowing.

Saturday, November 12, 2016

Keliling Madura 2 hari (bagian 2)

Day 2, 10 November 2016: Masjid Agung Sumenep - Museum Kraton Sumenep - Pantai Lombang - Desa Pasir - Air Terjun Toroan - Ole Olang

Malamnya saya tidur pulas dan bangun sebelum jam 6 pagi. Setelah mandi air dingin, kami sarapan nasi ayam di hotel. Awalnya agak hesitate buat langsung makan nasi pagi-pagi, tapi ternyata ayamnya enak hingga habis saya lahap. Pukul 8 pagi lebih, rombongan check out dari Hotel Musdalifah Sumenep.

Destinasi pertama di hari kedua trip Madura adalah Masjid Agung Sumenep. Di depan masjid yang didominasi warna kuning terang ini, kami berfoto dengan spanduk rombongan. Saya dan Mama mencoba masuk ke dalam dan mendokumentasikan suasana masjid. Kami berdua sempat disapa oleh penjaga masjid yang menanyakan kenapa kami tidak menyempatkan sholat di dalam. Mama menjawab dengan halus kalau kami diburu waktu dan harus berpindah ke tujuan selanjutnya. Penjaga itu tersenyum ramah dan meninggalkan kami. Saya jadi ingat kata Tante Erma, tour guide kali itu, bahwa tutur kata orang-orang Sumenep biasanya lebih halus dibandingkan kota lainnya di Madura. Istilahnya, Sumenep ini seperti Jogja/Solo-nya pulau Jawa, begitu.

Masjid Agung Sumenep




Tak jauh dari Masjid Agung Sumenep, kami mengunjungi Kraton Sumenep yang dibangun pada akhir abad ke-17. Arsitektur kraton ini dipengaruhi gaya dari Cina yang konon arsiteknya, Lauw Piango, memang seorang warga keturunan Tionghoa yang mengungsi akibat kerusuhan di Semarang. Sebelum memasuki Kraton, kami singgah dulu ke Museum Kraton yang sudah buka dari jam 7 pagi. Disitu rombongan melihat-lihat peninggalan Kerajaan Sumenep. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Al-Qur'an besar dan sarana pengadilan dimana terdakwa langsung diadili oleh raja/ratu di alas duduk yang telah disediakan.


Museum Kraton Sumenep


Sarana Pengadilan jaman kerajaan dulu



Taman Sare di dalam Kraton Sumenep

Gerbang Tersenyum

Pawai Hari Pahlawan

Selesai mengelilingi Kraton Sumenep yang ternyata memiliki Taman Sare seperti Tamansari di kota Yogyakarta, rombongan kembali ke mobil. Dari balik kaca, saya melihat beberapa orang beranjak keluar untuk menyaksikan pawai Hari Pahlawan di sekitar Kraton. Ina bilang kalau di luar banyak adik kecil yang lucu. Maksudnya, mereka mengenakan kostum pernikahan dan diarak dengan becak yang sudah didekorasi hingga menyerupai pelaminan mini. Di satu sisi, aktivitas pawai ini menarik karena melihat suasana Kraton yang tiba-tiba riuh dan bewarna-warni. Namun di sisi lain, agak ironis juga karena adik-adik SD (atau TK?)nya didandani seperti pasangan yang sedang melangsungkan pernikahan. Saya jadi ingat isu pernikahan anak yang kerap diperangi di belahan dunia lain, khususnya Afrika.

Mengingat waktu yang tidak banyak, rombongan berpindah ke Pantai Lombang di Sumenep. Tante Erma bilang kalau pantai ini tidak kalah dengan Pantai Pangandaran di Ciamis. Katanya lagi, pemandangan pantai jadi makin cantik dengan adanya pepohonan Cemara Udang yang mengelilingi kawasan wisata itu. Sesampai disana, kami tidak berfoto dengan pepohonan Cemara Udang, malah di pepohonan besar yang memiliki akar cantik di area gazebo. Ibu-ibu rombongan jadi semakin bersemangat, karena mereka juga sedang kompakan mengenakan 'kain Bali'. Suasana semakin riuh hingga ibu-ibu tadi berpisah dengan saya, Mama, Ina dan Dilla. Kami berempat langsung menuju pantai dan menikmati pasir kecokelatan di bawah kami.

Menurut saya, Pantai Lombang akan lebih bagus lagi kalau tidak ada sampah-sampah kecil di sekitar. Maklum, kalau di pantai gitu 'kan kepinginnya duduk-duduk santai atau sambil tidur-tiduran diatas pasir. Tapi ya sudahlah, paling tidak pemandangannya sudah pemandangan alam, bukan gedung-gedung atau jalanan lagi :).







Kami menghabiskan waktu di Pantai Lombang selama satu jam. Tidak terasa! Akhirnya rombongan tergesa-gesa kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan ke Desa Pasir di pesisir Sumenep. Konon kata Tante Erma, disitu kita bisa melihat warga yang duduk-duduk santai di atas pasir sembari melakukan aktivitas sehari-hari. Di bayangan saya sih mungkin maksudnya lesehan di depan rumah gitu ya, seperti pemandangan kebanyakan di pinggiran kota. Tapi ternyata saya salah. Memang benar disitu terdapat kasur pasir, dimana salah seorang warga mengaku bahwa neneknya masih suka tidur disitu. Menurut Tante Inge dan Tante Iin yang sudah mencoba tiduran di pasir, 'kasur'nya enak karena pasirnya lembut dan hangat. Wah apa benar begitu ya?

Di perjalanan pulang kembali ke mobil, kami disambut ibu-ibu yang sedang memasak di pendopo suatu rumah. Mereka terlihat sangat welcome ketika salah satu dari kami mendokumentasikan kegiatan di siang hari itu. Malah ada yang minta difoto lagi. Tante Iin bertanya, "Bu, ini lagi masak apa?". Salah seorang Ibu menjawab bahwa mereka sedang mempersiapkan hajatan seorang warga. Dalam pikiran saya, wah yang kayak gini nggak mungkin ditemuin di perumahan kota. Mana ada sekarang yang mau bantuin tetangganya yang punya hajat? Kecuali yang masih dalam kawasan perkampungan ya, dengan gang-gang kecil, jarak antara rumah satu dan lainnya berdekatan, yang akhirnya mempermudah komunikasi dan sosialisasi antar warga. Cukup menyenangkan mengunjungi Desa Pasir!

Desa Pasir Sumenep

Mencoba kasur pasir
Sebelum meninggalkan Sumenep, kami menyempatkan makan siang di kedai yang lagi-lagi saya lupa namanya. Kebanyakan dari kami memesan Nasi Goreng Seafood karena katanya bakal cepat disajikan. Nasi gorengnya enak, walaupun porsinya kecil. Suasana makan siang kali itu pun makin hangat karena interior ruangan lantai 2 yang unik. Kami seakan-akan sedang berada di loteng rumah dengan atap miring. Sayangnya, saya lupa memfoto lantai 2 itu karena keasyikan makan :p. 

Kenyang dengan nasi goreng di perut masing-masing, rombongan bersiap untuk perjalanan 2,5 jam dari Sumenep ke Air Terjun Toroan di kabupaten Sampang. Saya, Ina dan Dilla langsung memejamkan mata, tidur pulas sambil duduk, sampai akhirnya terbangun karena rombongan yang meributkan rute. Om Djoko yang saat itu menggunakan aplikasi Waze bilang kalau seharusnya mobil kami belok ke kanan untuk ke Sampang, tapi Mas Dessy, drivernya, malah melaju terus. Mobil kami sempat berhenti di samping jalan untuk berdiskusi sejenak. Tidak peduli langit yang makin gelap, rombongan memutuskan untuk terus berjalan menuju Air Terjun Toroan.

Memasuki Sampang, kami meminta bantuan bapak-bapak setempat untuk mengantarkan sampai ke kawasan Air Terjun Toroan. Langit sudah gelap saat itu, mustahil bagi kami untuk melihat penunjuk jalan dan memperhatikannya dengan seksama. Sesampai di pintu masuk Air Terjun Toroan, kami kompakan menyalakan lampu torch handphone untuk membantu penerangan. Disitu memang tidak ada penerangan saat malam; ya iya lah siapa juga 'kan yang mau ke air terjun malem-malem kecuali mau semedi atau semacamnya. Dengan sedikit deg-degan, kami menuruni tangga sambil bergelap-gelapan. 

Foto failed di Air Terjun Toroan saat malam
BYUR! Terdengar suara air deras yang jatuh menerpa lautan. Air Terjun Toroan sudah di depan mata. Kami berdiri di atas beton yang baru dibangun untuk menikmati pemandangan dari pinggir. Sayang sekali kami baru bisa kesana saat malam, karena pas siang, saya yakin bakal bagus sekali pemandangannya. Dengan dibantu torch handphone, ibu-ibu rombongan berfoto ria dengan berbagai gaya. Sementara itu, saya, Ina, Dilla dan Om Djoko menyempatkan ngobrol dengan bapak-bapak setempat. Katanya dulu memang pernah ada yang meninggal di air terjun tersebut. Alasannya karena kecelakaan tunggal. Jadi diperkirakan si orang memutuskan untuk terjun dan berenang di sekitar air terjun (padahal dilarang), tapi beliau tidak sadar kalau laut itu cukup dalam dan banyak batu 'berserakan'. Hm, cukup seram juga ya kalau terpeleset ke bawah.

Om Djoko lantas mengingatkan rombongan untuk segera kembali ke mobil karena hari makin gelap dan bapak setempat itu harus kembali. Kami pun beranjak masuk ke Elf, mengantar si bapak tadi kembali ke tempat asalnya. Setelah itu mobil kami melaju ke Bangkalan yang jaraknya paling dekat dengan Surabaya. Di Bangkalan, Tante Erma mengajak kami makan malam di Ole Olang dan menikmati bebek goreng. Saya pribadi lebih memilih Bebek Sinjay karena Bebek Ole Olang cukup berminyak. Tapi, Bebek Ole Olang bisa dibilang enak dan nggak kalah dengan bebek goreng lainnya di Surabaya.

Menginjak pukul 9 malam, kami sampai di kota Surabaya dan disambut pemandangan Kalimas di malam hari yang menawan. Kendaraan kami berhenti di Garden Palace Hotel untuk drop off rombongan ibu alumnus ITB. Sayang sekali rombongan tidak bisa mencicipi es krim legendaris di Zangrandi karena tutup. Tidak masalah, saya sendiri sudah cukup pegal-pegal dan ingin langsung tidur pulas di atas kasur. Selamat malam kota Surabaya, terima kasih pulau Madura!