Pages

Wednesday, July 13, 2016

Jogja - Magelang: Kuliner, Tur Candi, Jalan-Jalan!

Sebelum mudik lebaran, saya menyempatkan keliling Jogja-Magelang selama 4 hari 3 malam. Perjalanan kali ini bisa dibilang cukup mendadak, tapi untung semuanya berjalan lancar dan mengesankan. Banyak hal baru yang saya temukan di kota ‘jujugan’ mudik dan sekitarnya ini, terutama di bidang kuliner J

Jumat, 1 Juli 2016
Kotagede, Bandara Adisutjipto, Jogja - Magelang, Senerek Bu Atmo, OHD Museum, Gereja Ayam, Tingal Kulon, Saung Makan Bu Empat

Tepat pukul 6.30 pagi saya dijemput Pak Gandung dari Pondok Tour and Transport di Kotagede, Jogja. Kami menuju bandara untuk menjemput peserta trip lainnya. Bandara Adisutjipto pagi ini terlihat ramai. Orang-orang sibuk dengan kopernya masing-masing. Beberapa juga tampak hanya duduk santai sambil menunggu di area kedatangan. Saya berjalan menembus kerumunan sebelum bingung menemukan palang terminal kedatangan. Betapa malunya ketika petugas memberi info kalau terminalnya di sebelah saya persis. Saya tersenyum mengucapkan terima kasih dan segera duduk di bangku, mengeluarkan handphone sambil sesekali melihat bapak-bapak supir taksi yang mencari penumpang.

Setelah bertemu dan menunaikan panggilan 'alam' pagi hari, kami menuju mobil dan bersiap untuk perjalanan Jogja - Magelang. Pak Gandung adalah supir yang ramah dan baik, beliau bolak-balik memberi masukan tempat-tempat tujuan menarik di Magelang dan Jogja. Untungnya pagi itu jalanan tidak begitu ramai, sehingga kami tiba di Magelang sekitar pukul 9. Kelaparan, kami menyempatkan berhenti untuk sarapan di Senerek Bu Atmo di jalan Mangkubumi no. 3, dekat alun-alun kota Magelang. Rumah makan sederhana yang berdiri akhir taun 60an tersebut menyajikan sup senerek khas Magelang yang sayang untuk dilewatkan. Menurut sumber yang saya baca, 'senerek' sendiri berasal dari kata snert yang berarti sup kacang dalam bahasa Belanda. Terkena lidah 'Jowo', pelafalan snert pun jadi 'senerek'. Balik lagi ke Senerek Bu Atmo, hidangan berkuah dari beliau ini ternyata memanjakan lidah. Potongan sayur bayam, wortel, kacang merah dan daging ayam membuat pagi hari itu jadi makin segar. Tempe goreng yang disajikan terpisah juga gurih dan enak. Kami pun makan dengan lahap.

Sop Senerek Bu Atmo

Dari Senerek Bu Atmo, kami pindah menuju OHD Museum di jalan Jenggolo 14, Magelang. OHD Museum adalah museum pribadi yang berisi karya seni Indonesia modern dan kontemporer milik Dr. Oei Hong Djien (OHD), kolektor seni rupa ternama asal Magelang yang kerap menjadi narasumber tentang Indonesian art. Saat tiba sebelum pukul 10 pagi, kami belum bisa masuk ke area pameran sehingga harus menunggu di lobby. Disana kami killing time dengan menikmati karya Eko Nugroho, membaca majalah seni rupa, atau sekedar ber-handphone ria. Ketika sudah boleh masuk ke area pameran, saya jadi cukup terkesima dengan isi koleksi museum tersebut. Ditambah lagi suasana yang sepi, mengingat kami pengunjung pertama hari itu dan bisa leluasa menikmati karya-karya didalamnya.

Di belakang saya adalah karya Entang Wiharso yang menghiasi facade OHD Museum.

Masih terbawa suasana film Ada Apa Dengan Cinta 2, kami penasaran juga dengan Rumah Doa Bukit Rhema atau "Gereja Ayam" yang terletak di Dusun Gombong, Desa Kembangimus, Kecamatan Borobudur, Magelang. Mobil diparkir di sebuah area khusus, kami turun dan berjalan kaki sekaligus mendaki hingga sampai ke bukit, melihat bangunan yang didirikan oleh Daniel Alamsjah awal tahun 90an. Seperti yang dirilis oleh Jakarta Globe, beliau mengatakan "I suddenly got a vision of a place on a hill, built to worship God" ketika menuturkan cerita dibalik bangunan (yang sebenarnya) berbentuk burung merpati tersebut. Pak Daniel juga meluruskan bahwa Rumah Doa Bukit Rhema bukanlah gereja seperti yang selama ini orang pikir karena beliau penganut agama Kristen, melainkan rumah doa dimana orang dari berbagai macam latar belakang bisa datang dan berdoa. Beliau juga membenarkan rumor tentang Rumah Doa Bukit Rhema yang pernah digunakan sebagai tempat rehabilitasi. Kini bekerja sebagai seorang terapis, Pak Daniel bercerita bahwa dulu rumah doanya menangani anak-anak berkebutuhan khusus, pecandu obat-obatan, orang-orang dengan masalah kejiwaan dan para remaja yang "disturbed". Setelah masuk tahun 2000, Pak Daniel menutup rumah doanya dengan alasan biaya pembangunan yang tinggi.
  
Bagian dalem Rumah Doa Bukit Rhema
Di bagian mahkota bangunan Rumah Doa Bukit Rhema
Biar keliatan bagian depan bangunannya kayak gimana :)

Kepanasan setelah mengelilingi "Gereja Ayam", kami turun dan menuju area parkir. Mobil pun melaju langsung ke homestay di daerah Tingal Kulon. Setelah leyeh-leyeh, Pak Gandung datang lagi menjemput dan membawa kami makan malam ke Saung Makan Bu Empat. Kalo kesana, saya saranin untuk mencoba udang galahnya bagi pecinta makanan manis. Enak banget!


Suasana Saung Dadali di Saung Makan Bu Empat. Maaf, masakan udang galahnya nggak sempat difoto. Keenakan makan :)

Sabtu, 2 Juli 2016
Manohara Resort, Borobudur Sunrise, Amanjiwo Resort, Magelang - Jogja, Ayam Goreng Mbah Cemplung, Candi Plaosan Lor, Candi Prambanan, Prawirotaman

Akhirnya hari ini datang juga! Senang rasanya karena tanggal 2 Juli kami akan menyaksikan sunrise di Candi Borobudur. Pukul 4 pagi kami bangun dan segera mengayuh sepeda ke Manohara Resort. Setelah membayar Rp 270.000,- di resepsionis untuk akses spesial ke Borobudur dan menyaksikan sunrise sebelum dibuka untuk umum, kami berjalan diantara gelap sambil dibantu cahaya dari senter yang disediakan pihak Manohara. Sesampai di spot pilihan, saya sempet pesimis bisa melihat matahari terbit karena langitnya cukup berawan. Tapi ternyata saya salah, langit berangsur-angsur cerah dan matahari menampakkan cahayanya dengan apik; merubah warna langit menjadi gradasi abu-abu kekuningan. Sederhana tapi bikin tenang dan berkesan!

Sunrise di Borobudur!
Suasana sekitar candi yang syahdu. Untuk foto kayak gini, harus gantian sama pengunjung lainnya biar nggak saling photobomb :p

Selesai menikmati sunrise, kami check out dari homestay dan menuju Amanjiwo Resort. Disana lagi-lagi saya membayangkan apabila salah satu scene Game Of Thrones terjadi disitu. Cocok banget!

Amanjiwo Restaurant
Dadar gulung di Amanjiwo Restaurant
Kata temen, ini kayak di Meereen-nya Game Of Thrones :p

Puas melihat-lihat dan mencicipi dadar gulung Amanjiwo yang enak, kami memutuskan untuk kembali ke Jogja dan menikmati makan siang pilihan Pak Gandung, Ayam Goreng Mbah Cemplung di daerah Kasihan, Bantul. Ayamnya gede untuk porsi 1 orang, bikin saya kekenyangan banget. Boleh juga kapan-kapan dikunjungi lagi dengan keluarga. Oh, tapi menurut saya pribadi, ayam goreng Mbah Cemplung ini agak kering. Enak sih, tapi bikin 'seret' di tenggorokan.

Ayam Goreng Mbah Cemplung

Kelar makan, kami memutuskan untuk wisata candi di Jogja. Pilihan sore itu adalah Candi Plaosan Lor yang merupakan rekomendasi Pak Gandung dan Candi Prambanan yang nggak mungkin dilewatkan. Pemandangan di Candi Plaosan Lor cukup membuat diri bertanya-tanya karena banyaknya reruntuhan yang ada disekitar candi.

Reruntuhan didepan Candi Plaosan Lor
Didepan salah satu candi di kompleks Candi Plaosan Lor

Puas mengitari Candi Plaosan Lor, kami mencoba menuju Candi Plaosan Kidul yang terletak di seberang. Karena tidak ada akses masuk, kami kembali ke mobil dan menuju Candi Prambanan. Langit mulai mendung dan gerimis turun disitu, bikin sedikit resah karena payung ketinggalan di mobil. Setelah menikmati minuman dingin, kami langsung menuju kompleks tiga Candi Trimurti (Candi Siwa, Wisnu dan Brahma) untuk berburu sunset. Sayangnya waktu itu baterai hape habis dan powerbank ditinggal di rumah, jadinya saya nggak bisa foto-foto keindahan candi. Akhirnya saya cuma bisa duduk manis dibawah pohon setelah melihat-lihat candi, muter-muter sambil liat relief candi dan mengira-ngira apa ceritanya, sampai nggak terasa hari mulai gelap dan pak satpam bolak-balik memperingatkan kami untuk pulang. Kata doi, kompleks candinya tutup jam 6 sore dan mereka harus nyiapin pertunjukkan Prambanan Ramayana Ballet.

Bisa dibilang hari ini benar-benar packed hingga kami merasa malas untuk makan malam. Kami pun berpisah dengan Pak Gandung di Prawirotaman. Setelah beristirahat sejenak di hotel, ternyata perut nggak bisa dibohongi dan kami menghampiri warung bakso pinggir jalan. Kenyang dan siap untuk tertidur pulas!


Minggu, 3 Juli 2016
Lokal Restaurant, Plaza Ambarrukmo, Tempo Gelato

Siang itu kami menyewa motor dari sebuah agen di Prawirotaman dan mengelilingi kota. Tujuan pertama adalah Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), tapi kami urungkan niat karena terlihat ramai dan panas. Akhirnya motor melaju ke Sate Klathak Pak Bari di daerah Bantul yang ternyata bukanya baru malam hari. Tak menyerah untuk meladeni perut, kami menuju ke Lokal Hotel and Restaurant yang lagi ngehits. Disana saya memesan jus berjudul Immunity Boost, menu spesial bulan itu yang merupakan campuran dari berbagai bahan. Sayangnya saya lupa bahannya apa aja yang jelas rasanya kecut-kecut, manis, enak dan seger. Nah lho bingung 'kan. Cobain sendiri deh kalo kesana dan masih ada ya!

(Masih) kepanasan, kami memutuskan untuk hijrah ke mal Plaza Ambarrukmo dan nonton The Legend of Tarzan. Filmnya lumayan seru dan bikin saya ingin berpetualang ke hutan, minus ketemu binatang buas yak. Kelar nonton, Tempo Gelato di Prawirotaman jadi 'jujugan' lagi setelah hari yang panas dan gerah. Sore itu saya memesan gelato 1 cup rasa cokelat dan green tea. Nggak bosen-bosen rasanya :)


Senin, 4 Juli 2016
Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), Kedai Kebun Forum, Mangut Lele Mbah Marto, Bandara Adisutjipto, Embe Enem Homestay, Kotagede

Masih penasaran dengan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta, kami kembali kesana dan mengitari kios-kios yang banyak menjual berbagai macem jenis burung itu. Bolak-balik saya merasa geli karena melihat tokek-tokek yang ada di dalam kurungan. Nggak membayangkan kalo someday mereka akan dilepas dan berkeliaran terus mendekati manusia (entah mungkin atau enggak). Hii... yang jelas saya nganggep kalo mereka adalah cicak raksasa :p. Cukup terkejut juga karena ternyata pasar itu jadi tempat orang jualan kucing-kucing cantik dan kelinci yang bikin gemes. Nggak ketinggalan juga ada musang pandan jumbo yang terlihat pelukable, tapi takut juga kalo mau mendekat karena mereka nggak disangkar. Jalan sana, jalan sini, ternyata juga ada ular gede yang bisa kita liat di pasar itu. Emang bener deh namanya pasar satwa. Tapi sempet heran juga sih, kenapa nggak ada anjing yang dijual ya.

Anak ayamnya kasian :(
Burung-burung cantik, tapi ga tau sebenernya burung apaan. Gelatik apa yah?

Merasa haus, kami tancap gas ke Kedai Kebun Forum. Disana saya mencicipi puding jawa yang manis banget dan melihat-lihat merchandise artist yang ada didalamnya. Menarik dan lucu-lucu. Diem-diem saya berpikir, andai aja kota Surabaya punya space khusus seperti itu.

Dari Kedai Kebun Forum, kami memutuskan untuk makan siang di daerah Bantul yang terpencil seperti Mangut Lele Mbah Marto. Dengan dibantu GPS dan masih saja kesasar sana-sini, akhirnya kami menyusuri gang kecil dimana warung Mbah Marto ini bisa ditemukan. Disana pengunjung dipersilahkan masuk ke dapur, melihat pembuatan mangut lele dan memilih makanan yang telah disiapkan di meja. Karena nggak bisa makan pedes, saya memilih makan opor ayam. Satu orang disekitar dapur situ pun meledek karena kami nggak makan mangut lelenya sama sekali padahal itu khasnya Mbah Marto. Ya gimana lagi, kalo nekat makan bisa-bisa saya bermalam di toilet. Akhirnya salah satu dari kami memutuskan memesan mangut lele dan bilang kalo itu emang pedes banget :)).

Mangut Lele Mbah Marto

Kekenyangan, kami kembali ke Prawirotaman untuk mengembalikan motor. Menuju pukul 5 sore, kami naik taksi dari hotel ke Bandara Adi Sutjipto untuk kembali ke kota masing-masing. Saya sih nggak kemana-mana, tetep tinggal di Yogyakarta karena akan bertemu keluarga yang menyusul hari itu. Setelah berpisah di depan halte bus Trans Jogja sekitar bandara, saya menunggu bus 1A. Sempet ketinggalan bus karena mendadak lupa gimana cara tap kartu akses masuknya, turned out kartunya nggak perlu di tap tapi dimasukin aja gitu ke mesinnya. Yaudah deh, untung aja si bus 1A lainnya cepet menyusul.

Saya menaiki bus 1A dengan cepat dan turun di halte Rumah Sakit Bethesda. Disana saya transfer ke bus 2A yang ternyata free/nggak perlu bayar lagi. Bus 2A ini nantinya akan membawa saya ke Universitas Sanata Dharma, tempat yang paling recognisable dan deket homestay yang keliatan di Google Maps. Berbekal GPS, saya jalan kaki dari Demangan, mencoba menemukan homestay langganan keluarga di daerah Mrican. Sedikit cemas karena hari mulai gelap dan lebaran sebentar lagi. Biasanya muncul berita kriminalitas dimana-mana 'kan. Tapi ya sudahlah, saya nyoba berpikir positif dan tetep waspada sambil sesekali melihat layar handphone di tangan. Akhirnya homestay-nya ketemu! Saya pun disambut keluarga yang lagi leyeh-leyeh kekenyangan pizza Nanamia Pizzeria. Untung aja mereka beli agak banyakan, jadinya saya bisa tetep nyicipin deh. Wah rasanya perut ini dari kemaren udah jadi tempat singgah macem-macem makanan, tinggal nunggu lebaran and the culinary tour resumes again! :)

Friday, June 24, 2016

Drawing hair

I drew these characters in January 2016. It was summer in Sydney and I was alone in my bedroom. It was quite a nice afternoon. It came to me all of sudden that I wanted to draw human hair, so I grabbed my pink sketchbook and a Zebra pen with pink ink. I started drawing and made some sketches on the hair.

The process of drawing hair had been surprisingly relaxing. I enjoyed it so much. It helped me achieve mindfulness - if I were to adopt the jargon that media has been promoting about. It helped me focus on being present and consistent with my goal. It helped me respect my mistake, drive my instinct to never look back and keep going. All these simple yet important life lessons that I could unexpectedly learn through drawing hair.

Character 1: Lisa

Character 2: Raymond

Character 3: Emma
Above is the edited version of my drawings. Below is the original one, as seen on my sketch book.


To tell you the truth, I hate looking at one simple error in my drawing. Be it an accidental pen mark, a tiny misplaced dot, or an ink that smears. It has to be neat, clean and looked just... right :p.

Wednesday, June 22, 2016

Dream collaboration: Death Cab For Cutie ft. Lauren Mayberry singing "Brothers on a Hotel Bed"

Tepat di hari ulang tahun ke-26, Audrey #foreverhousemate saya di Sydney memberi link ke video ini. Yup, Death Cab For Cutie baru saja duet bareng Lauren Mayberry-nya CHVRCHES! *wohoo*



Jujur aja, saya sampe merinding pas liat pertama kali. Gimana enggak, Death Cab For Cutie (DCFC) dan CHVRCHES adalah band favorit yang konsernya sama-sama saya tonton di Sydney. Udah gitu, Brothers On A Hotel Bed adalah lagu DCFC terfavorit saya kedua setelah What Sarah Said. Pantes aja, dada ini langsung berdesir begitu dentingan piano mengalun di satu menit pertama. Kedengeran agak lebay sih, tapi itulah yang saya rasain :))).
"You may tire of me as our December sun is setting because I'm not who I used to be/ No longer easy on the eyes but these wrinkles masterfully disguise the youthful boy below"
Bait pertama tersebut emang menyentuh. Josh Farro, former lead guitarist-nya Paramore, bahkan bilang kalo lagu ini bakal jadi lagu terakhir yang dia pengen denger sebelum meninggal. He was like,
"I would advise anyone who hasn't heard this song to check it out. It's a very moving song, very elegant, not like a rock song or anything. It's one of those pieces of music that you can drive along to and just forget about everything and allow you to just fall into the music." - as quoted in Kerrang! magazine, February 2008
He is right! Thanks Audrey udah ngasih tau saya ;) *hugs*