1717 mdpl di 2017!

Perjalanan ini berawal dari celetukan dengan teman di malam hari. Waktu itu saya iseng bilang, "Pengen naik gunung nih!". "Ayo, mau kapan?" balas si teman. Saya diam, nggak ada ide. Obrolan itu tidak berlanjut sampai akhirnya muncul grup Whatsapp "Batur 4 June". Wah, we're going to hike Mt. Batur anyway!

Pemandangan dari puncak Gunung Batur :)

Persiapan
Pukul setengah 1 dini hari, 18 orang dalam rombongan berangkat dari Seminyak menuju lokasi Gunung Batur. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dan semua tertidur di jalan. Menjelang pukul 3, kami sampai di pos penanjakan pertama untuk bersiap-siap. Ada yang pergi ke toilet, ada yang makan mie kuah, ada yang menyeruput teh panas. Saya menyibukkan diri dengan jalan kesana kemari untuk menghindari dingin.

Dengan mobil Elf, rombongan menuju pos penanjakan selanjutnya dengan maksud mempersingkat waktu. Dini hari itu kami ditemani oleh seorang guide yang saya lupa namanya *aduh maaf, Bli*. Dia menyarankan rute shortcut yang katanya "lebih gampang dan singkat." Rombongan pun mengikuti sarannya. Sekitar pukul 3 lebih, kami mulai trekking berpasang-pasangan.

Pertengahan jalan
Sepanjang trekking, saya nggak berhenti berdoa. Maklum, ini jadi pengalaman saya naik gunung pertama kali di Bali. Dengan dibantu lampu senter, saya berjalan terus mengikuti teman di depan sambil mencermati langkah. Maklum, agak sensitif kalo gelap-gelap dan takut jatuh.

Kami sempat berhenti beberapa kali karena seorang teman mengeluh kelelahan. "Dua puluh menit lagi sampai!" itu jadi kata kunci kami untuk menyemangati satu sama lain. Perjalanan pun dilalui dengan saling membantu ketika ada tanjakan curam. Tak jarang juga kami becanda biar lupa capeknya.

Menuju puncak
Semakin mendekati puncak, medan yang kami lalui makin berat. Jalan setapak yang geronjalan, bebatuan yang cukup runcing, dan jurang di kanan kiri. Kali ini kami tidak lagi berpasang-pasangan karena path-nya tidak cukup.

"Okay, this is the time." Saya berjalan cepat dengan sesekali dibantu oleh teman-teman ketika menaiki bebatuan (a.k.a kaki pendek). Tiba-tiba saya sudah berada di posisi kedua dari depan. Sebelum saya adalah Yessy, istri Pande si "ketua" rombongan yang sepertinya udah biasa naik gunung. Dengan kaki yang sudah pegal sana-sini dan napas yang terengah-engah, saya bolak balik menoleh ke belakang untuk memastikan saya tidak sendiri.

Ternyata teman-teman lain masih cukup jauh. Saya sempat dilema antara mengikuti Yessy yang jalannya cepat atau menunggu rombongan. Pande menyaut dari belakang, "Terus, terus aja! Biar cepet sampe puncak!". Mendengar itu, Yessy langsung mempercepat langkah, tidak getir, tidak menoleh ke belakang. Saya pun mengikutinya.

Diam-diam saya deg-degan. Mau nggak mau harus self-sufficient kali ini. Hap-hap-hap! Bebatuan kami naiki dengan cukup lincah dan...

Puncak Batur!
Sampailah kami di puncak! Saya langsung menghela napas panjang. Waktu itu pukul 5 pagi. Dua jam lewat untuk trekking sampai atas. Keringat bercucuran dimana-mana dan hawa dingin mulai menyengat. Angin bertiup sesekali, menusuk kulit. Saya ingin mandi air panas dan selimut!

Satu persatu teman menyusul dari belakang. Duduklah kami di pinggir jurang sambil menikmati bintang yang terlihat jelas di atas. Mariska menyetel lagu-lagu Broadway yang membuat kami makin santai. Waktu itu saya masih menggigil dan memutuskan untuk roaming around agar tidak beku. Beberapa juga langsung mencari tempat untuk membuat api unggun kecil.



Menunggu sunrise
Saya tidak sempat melihat arloji dan pelan-pelan matahari mulai tampak. Susah banget untuk terlihat full seperti telur karena kabut yang tebal. Wah, rasanya pengen nyetel Sigur Rós di pagi-pagi misty ini.

Masih kedinginan, saya menghampiri rombongan kecil yang (masih) berjuang menyalakan api unggun. Seekor anjing Kintamani bewarna putih menghampiri kami dan mengelus-eluskan badannya ke dekat saya. Lovely! Sambil bermain bersama si anjing, kami menikmati sunrise dengan agak menggigil dan berfoto ria.






Turun gunung!
Puas berleha-leha di atas, kami memutuskan untuk kembali ke bawah. Medannya tidak kalah menantang. Pasir licin dengan jurang di kanan-kiri! Saya jadi ingat sandboarding di Port Stephens, hanya saja yang ini kalo keblablasan bisa terperosok.

"Oke lah," kata saya dalam hati. Pelan-pelan saya turun, jatuh sesekali sampai menyisakan bruises dimana-mana, dan tiba-tiba sadar kalau rombongan kami terpisah lagi. Rombongan pertama berhenti sampai semuanya berkumpul dan melanjutkan perjalanan.

Wuah, selama perjalanan turun, ternyata pemandangannya nggak kalah cantik! Entah ketika melihat Danau Batur atau melewati hutan pinus. Saya jadi ingat masa-masa bushwalking di Sydney :')





Rombongan Batur 4 Juni :)

Setiba di bawah, kami spontan bersorak dan langsung duduk sambil istirahat. Mie goreng telor ceplok hangat sudah pasti jadi santapan dambaan setelah naik gunung. Terima kasih memorinya hari itu, teman-teman!

Comments

Popular Posts