Wednesday, April 20, 2016

3 album di Mei 2016 yang saya tunggu :)

Udah minggu ketiga bulan April 2016 dan saya masih suka jenuh aja kalo dengerin musik sama berulang-ulang. Akhirnya browsing dan found the fact that these musicians are going to release their new albums :)

***

Young Magic - "Still Life"

Rilis: 13 Mei 2016

Seperti yang udah diceritain sebelumnya, saya suka Young Magic dari taun 2012 pas mereka muncul dengan albumnya "Melt". Begitu familiar sama lagu-lagunya, track "Night In The Ocean" dan "You With Air" langsung jadi favorit. Cuplikan scene dari video klip "Night In The Ocean" pun sampe nempel di ingatan, apalagi kalo bukan pas model cewe/cowonya saling gambar di kulit (hampir) telanjangnya masing-masing.

Kalo album kedua mereka, "Breathing Statues", punya kesan tersendiri ketika saya tinggal di Sydney. Entah kenapa setiap dengerin album yang rilis taun 2014 ini, saya jadi inget suasana kamar studio apartment dulu. Di pikiran langsung tergambar saya yang duduk di meja belajar, menghadap laptop dan menulis essay kuliah sambil ditemenin "Holographic", "Something In The Water" serta "Fall In". Suasana kamar yang relatively gelap dan lonely (karena tinggal sendiri, haha) itu seakan-akan ngedukung badan yang tiba-tiba bergerak sendiri ngikutin irama :p.



Jadi ketika saya tau mereka akan ngeluarin album baru bulan depan, wah rasanya nggak sabar! Untung kemaren sempet dengerin dua singles juga, "Lucien" dan "Sleep Now", yang videonya ada diatas tulisan ini. Rasanya "Still Life" bakal lebih ambient dan relaxing gitu deh, which is bikin saya makin suka :)
Still Life is a deeply personal and idiosyncratic record, somewhere close to the enchanted electronic pop realms occupied by Björk and Broadcast, yet unique to Young Magic. Found sounds and textures feature prominently across Still Life, including the Javanese gamelan, blossoming into ecstatic bursts during the climax of “Lucien.” Melati grounds the textured sonic world with arrows direct to the heart, like the arresting “How Wonderful” where the singer overflows with regret for “all those things I never said.” This is as deeply personal as the group has ever been. - Carpark Records

***

Yumi Zouma - "Yoncalla"

Rilis: 27 Mei 2016

Pertama tau quartet asal New Zealand ini dari siapa yah, kalo nggak salah ngeliat temen dengerin ini di Path. Karena nama bandnya yang lucu, saya langsung cari di Spotify. Track by track dari kedua EP mereka saya coba, eh makin seneng aja. Apalagi "Dodi" dan "Catastrophe" dari "EP II", "Sålka Gets Her Hopes Up" dari "EP I" (ini satu-satunya lagu yang saya suka dari album itu, hehe), serta single "Right, Off The Bridge" yang pake banyak efek. Nggak tau efek apa sih, tapi suka banget #bukankritikusmusik.

Menurut saya, karya Yumi Zouma cocok dinikmatin pas jalan kaki saat udara lagi pleasantly warm - which is agak mustahil kalo di Surabaya yang 'sumuk pwol' - terus pas lagi ngelewatin taman dan sambil ngeliat anak-anak kecil lagi asik main, ketawa lepas. Atau sore-sore pas matahari awal-awal mau terbenam, angin semilir kecil-kecil but somehow masih bisa ngerasain anget, dan sambil ditemenin pasangan terus saling becanda. Yah, kok jadi kayak film gini :p. But it's true, musik Yumi Zouma nimbulin kesan tersendiri sih. Coba aja and let me know what you think :)



"Keep It Close To Me" yang rilis 8 April 2016 di Spotify pun jadi single perkenalan debut album mereka, "Yoncalla". Saya langsung suka juga sama yang satu ini. After-tastenya masih sama kayak abis dengerin lagu-lagunya dari "EP II" *ceile* dan menurut saya nggak banyak berubah. Seperti yang kontributor Pitchfork bilang di review single Yumi Zouma tersebut:
The effect is pure relief, like coming home after being away for too long and curling up in your own bed. - C.G. Mantera di Pitchfork, 8 April 2016
Yup, saya setuju sama apa yang dibilang penulisnya. Lagu-lagu band yang anggotanya tersebar di Auckland, Paris dan New York ini emang menyajikan musik yang relieving. Sampe-sampe penulis di Stereogum bilang kalo Yumi Zouma itu "have been making soft, ever-so-delicate waves with their beautifully aqueous pop music". Kata kuncinya soft, delicate dan beautifully aqueous yang emang pantes bikin jatuh cinta sama Yumi Zouma!
Yumi Zouma has always been an exercise in refining ideas and collaborating,” reflects guitarist Charlie Ryder, “but this was the first time we weren’t limited or protected by distance. With Yoncalla, the process was different, and it can be scary to present raw ideas to your friends ‐ but it’s also incredible to see songs evolve through the sparks of inspiration that bounce between people in the same room.” That intimacy is apparent on Yoncalla ‐ an album about being close to people, rather than miles apart. Yumi Zouma’s effortless waves of harmony have been redefined and the creative process laid bare to expose an act more unguarded and interconnected than ever before. - Cascine
***

Gold Panda - "Good Luck And Do Your Best"

Rilis: 27 Mei 2016

Saya pertama kali denger Gold Panda rasanya pas taun 2010-2011an, lupa pastinya. Pokoknya waktu itu liat video DJ asal UK ini lagi main di gig kecil, saya langsung suka sama track yang berjudul "You". Karena waktu itu music streaming belom terlalu populer, saya 'nakal' dan cari shortcut dengan nyari albumnya di Torrent dan download sembarangan. Lumayan, dari situ jadi makin kenal musiknya Gold Panda, khususnya album "Lucky Shiner" yang sampe di-burn khusus di CD kosong buat didengerin selama perjalanan :p. Namun sejak langganan Spotify, saya apus semua deh musik-musik bajakan yang nongkrong di komputer. Daripada menuh-menuhin memori, sekaligus 'support' karya artistnya juga 'kan :)

Anyway, selain "You", track favorit saya dari album "Lucky Shiner" adalah "Same Dream China" yang khas sama bunyi macem 'kluntung-kluntung' di awal dan "Marriage", yang diem-diem pengen saya puter kalo nikah nanti *LOL*. Selepas "Lucky Shiner", sayangnya saya nggak terlalu ngikutin Gold Panda lagi karena pas itu bosen sama musik tanpa vokal. Akhirnya album kedua doi, "Half Of Where You Live", saya lewatin.



Pas iseng browse kemaren, eh ternyata Gold Panda mau ngeluarin album baru! Saya jadi nostalgia deh, maklum udah lama nggak dengerin. Langsung deh saya search namanya di Spotify dan disitu muncul dua track baru yang rilis taun 2016 ini, yaitu "Time Eater" dan "Time Eater" yang paling recent. Pas baca-baca, ternyata album terbarunya "Good Luck And Do Your Best" ini terinspirasi dari Japan trip si Derwin, real namenya Gold Panda, di taun 2014. Wah, jadi nggak sabar kira-kira sound yang dihasilkan kayak gimana :).
The artist also known as Derwin Panda was inspired by two trips to Japan, including one accompanied by photographer Laura Lewis. The album’s motivational title came from a Japanese cab driver’s farewell. “He didn’t know English that well, but there’s a Japanese phrase called ‘ganbatte, kudasai,'” Panda said in a press release. “And roughly translated, it basically means ‘do your best,’ or it can also mean ‘good luck.'” - Anna Gaca in SPIN (February 23, 2016)
***

Yak, itulah 3 artists luar yang albumnya saya tunggu di bulan Mei 2016. Selain mereka, saya juga penasaran sama The Naked and Famous sama The Preatures yang lagi ngerjain album barunya. Thanks to Instagram!

Monday, April 18, 2016

Nonton konser di Sydney!

Kalo ditanya hal yang berkesan selama di Sydney apa, saya bakal jawab (salah satunya): the concert part! Saya bersyukur banget bisa satu persatu ngewujudin mimpi liat musisi favorit langsung, kayak misalnya Death Cab For Cutie dan CHVRCHES yang saya pikir nggak akan pernah terjadi. Jadi, di postingan ini saya bikin list musisi yang saya tonton secara live di Sydney dan sekelumit cerita dibalik itu. Selamat membaca! :)

21 November 2014: Young Magic @ Oxford Art Factory
Saya seneng Young Magic sejak baca profile mereka di majalah NYLON Indonesia edisi Juni 2012. Disitu saya tertarik karena vokalisnya, Melati Malay, merupakan blasteran Indonesia-Amerika dan dia kerja bareng Isaac Emmanuel, produser asal Australia. Pas coba dengerin album pertama mereka yang berjudul Melt, saya langsung jatuh cinta sama Night In The Ocean. Lagu itu pun jadi ultimate soundtrack kalo lagi main ke pantai di Sydney saat sunset plus ditemani angin semilir. Memasuki bulan November 2014, saya cukup khawatir karena rasanya nggak ada temen yang suka Young Magic. Tapi daripada nggak berangkat terus nyesel, akhirnya saya nekat beli tiket dengan sikap bodo-amat-yang-penting-hati-seneng-walopun-nonton-sendiri.

Saya, Karina dan Anty!
Pas deket hari-H, tiba-tiba si penyelenggara bikin kuis berhadiah 2 free tickets. Langsung deh saya ikutan dengan harapan bisa ajak temen-temen biar nggak sendirian nontonnya. Eh ternyata saya menang dong! Tiket pun segera saya kasih ke Karina dan Anty. Untunglah mereka setuju ikutan datang :). Live show Young Magic di Oxford Art Factory, Darlinghurst malem itu berjalan oke - bikin hati meletup-letup (lebay ah) dan muka 'cengengesan' karena bisa dapet tempat di front row! (yang ternyata harus geser juga ke belakang karena 'ngalah' sama fotografer^^"). 

***

10 Maret 2015: 65daysofstatic @ Manning Bar
Ini salah satu konser yang saya pikirin lama-lama whether mau beli tiketnya or not. Di satu sisi, it's 65daysofstatic! Saya suka band post-rock asal Sheffeld, UK ini dari taun 2008 dan pas itu doyan-doyannya dengerin live album Escape from New York. Track favorit saya adalah Retreat! Retreat! yang merupakan lagu wajib kalo lagi pusing atau nggak mood pas itu :p.

Noticed the man bun over there? Waktu itu emang lagi hip-hipnya di Sydney! #salahfokus
Beruntung saya punya account di Spotify Australia, jadinya bisa catch up sama lagu-lagu baru mereka di album Wild Light. Album yang dirilis taun 2013 itu bolak-balik saya dengerin sambil ngerjain tugas di ruang belajar kampus, itung-itung biar familiar kupingnya :). Pas hari-H, saya nggak berhasil dapet front row, tapi cukup puas dengan berdiri ditengah-tengah dan menggerakkan kepala kanan kiri biar bisa liat anggota bandnya. Saya lupa saat itu nonton sendiri apa nonton bareng Audrey si housemate kesayangan, yang jelas malem itu cukup psyched karena sempet liat penampilan Solkyri, post-rock band dari Sydney. Oh, nggak lupa juga kalau konser 65dos diadain di bar kampus sendiri! Hahaha bangga dikit boleh lah.

***

19 April 2015: Funeral For A Friend @ Manning Bar
Satu kata sebelum konser ini dimulai: EXCITED! Gimana enggak, malem itu saya sama Audrey bersiap nonton band yang kita dengerin waktu high school, which is like.. 10+ years ago! (langsung berasa tua :p). Bolak-balik kami teriak kecil-kecil ala cewek, because we think that Funeral For A Friend is basically an old emo band (ya nggak old2 banget sih) dan live show mereka kali ini jadi ajang nostalgia fangirl yang udah nginjak mid 20s ini.


video
Video: Funeral For A Friend - History

Saya dan Audrey makin excited begitu mereka mainin track-track favorit seperti Juneau, Escape Artists Never Die dan pastinya... History. Wiih waktu History dimainin, semua pada sing along dan diem-diem saya terharu karena akhirnya bisa dengerin lagu ini secara live!

***

27 Mei 2015: The Preatures @ Sydney Opera House
Saya tau band asal Sydney ini dari Karina dan langsung suka musiknya begitu denger Is This How You Feel? dan Somebody's Talking. Pas saya browse, ternyata gaya si vokalis Isabella Manfredi keren juga. Jadinyalah saya excited ketika mereka mau konser tunggal di Sydney Opera House (plus setelah dengerin album Blue Planet Eyes beberapa kali di Spotify :p). Fyi, konser The Preatures ini adalah bagian dari acara VIVID Live 2015 yang waktu itu juga nampilin Sufjan Stevens, Flume, Daniel Johns dan TV On The Radio. Namun karena mahal-mahal tiketnya, saya urung pergi :')


Sayangnya, waktu itu adalah seated concert karena mengikuti desain ruangan hall Sydney Opera House. Kurang seru kalau saya bilang untuk musiknya The Preatures. Saya dan Karina bolak-balik komplain "Ini kenapa seated sih?", haha. Ya gimana, space-nya kurang kalau mau gerak-gerakin badan 'kan. Apalagi pas lagu-lagu favorit kita dimainin. Tapi untunglah si Izzy (nickname Isabella Manfredi) nyadarin kondisi itu, di beberapa lagu terakhir, doski ngajak penonton berdiri dan joget sepanjang lagu. Yay, akhirnya! Malem itu saya dan Karina pun pulang dengan puas :D

***

24 Juni 2015: Title Fight @ Factory Theatre
Bisa dibilang ini konser Title Fight paling nggak nyaman yang pernah saya datengin. Alesannya pertama gara-gara saya nonton sendiri and it was quite male-dominated gig (and I secretly felt insecure). Alesan keduanya... soundnya nggak begitu bagus! Saya hampir nggak jadi nonton waktu itu karena tau area sekitar Factory Theatre itu sepi dan saya kudu nonton sendiri, jadi simply ngerasa nggak safe karena nggak ada temennya. Tapi karena sayang duit, akhirnya saya memutuskan berangkat. Naiklah saya ke bus jurusan Marrickville yang bisa distop deket apartemen. Nggak lama, bus itu sampai and I was greeted with plenty of people yang pake kaos item-item dengan range umur beragam. I felt socially awkward sih saat itu, jadinya saya segera naikin tangga ke venue.


Sekali lagi, karena dateng sendiri, saya memutuskan untuk 'mojok' di pinggir kanan dancefloor - deketan sama tirai yang bikin posisi jadi makin awkward karena nggak bisa disandari. Bolak balik saya noleh sana-sini, kali aja ketemu temen tapi tau kalo itu waste of time. Yaudah deh saya pasrah dan sepanjang konser hanya bisa mantengin dari jauh, sesekali gerakin kepala, kaki dan badan. Dideket saya waktu itu sempet ada mas-mas yang kayaknya juga solo goer, tapi namanya Sydney, orang-orang nggak 'ngurus' kalian mau dateng sendiri ato sekampung. Yang penting having fun. Emang sih, konser malem itu lumayan lah karena beberapa lagu dari album Shed (yang saya familiar) dimainin seperti Coxton Yard dan Shed.

***

11 Juli 2015: Alpine @ Metro Theatre
Konser Alpine termasuk salah satu show yang saya beli dengan spotan sekaligus konser terbaik. Kenapa? Karena penampilan atraktif Phoebe Baker dan Lou James, duo vokalis band indie pop asal Melbourne ini bikin tambah asik! Gak heran kalau sepanjang konser, penonton kerap berseru riuh dan goyang-goyang ngikutin irama :p

Photobox masih idup ternyata!
Waktu itu saya dan Karina dapet tempat di bagian agak belakang dancefloor, namun terdepan dari lantai bertingkat diatasnya. Asik! Saya yang kecil ini akhirnya bisa melihat penampilan mereka dengan jelas. Kami jadi tambah hepi deh dan sing along begitu Foolish, Damn Baby dan Gasoline dimainin. Walopun konsernya udah selesai malem harinya, iramanya kayak masih terngiang-ngiang di kepala saking perfectnya! Haha berlebihan ya. Tapi beneran deh, salut sama Alpine karena penampilannya yang atraktif dan kualitas sound yang rapih :p

***

27 Juli 2015: Gengahr @ Newtown Social Club
Berbeda dengan lainnya, konser Gengahr ini gratis (buat saya) karena 1 tiket berlaku 2 orang. Thanks to Karina, dia berhasil negosiasi sama salah satu orang yang misadventure gitu, jadinya ngga bisa dateng pas hari H dan kebetulan Karina nyari tiket itu udah banget-bangetan. Dengan berjalan kaki dari apartemen saya di Newtown, kami pun sampe di venue dan nyempetin nonton opening act-nya, Velociraptor, band garage rock dari Brisbane. Cukup oke buat jingkrak-jingkrak kecil.


Saat jeda acara, saya dan Karina duduk di pinggiran venue sambil memandangi penonton lain. Kami pun berasumsi kalau konser kali itu bakal sepi. Eh ternyata enggak, menjelang main act, penonton pada berjubelan dan untung aja kami udah 'book' tempat didepan. Yak, didepan! Saya waktu itu sih agak canggung karena belum familiar sama musiknya. Cuma sempet dengerin beberapa kali dan lagu yang saya inget pun juga kayaknya cuma satu yaitu She's A Witch. Lol. Tapi untungnya saya enjoy-enjoy aja nonton penampilan mereka dan jogetan Karina sempet dipuji sama salah satu penonton, soalnya keliatan banget kalo so into Gengahr! Hehe. Setelah gig selesai, Karina ngajakin saya buat nungguin si abang-abang Gengahr dan foto bareng. I was like "you sure?" karena biasanya mereka langsung ngacir kan ke backstage. Eh, ternyata nggak dong. Dua member Gengahr malah berbaur sama penonton setelah acara and we were lucky enough to have quick chit-chat (plus foto bareng) sama abang-abang London itu!

***

2 Agustus 2015: Death Cab For Cutie @ Enmore Theatre
MY DREAM CAME TRUE! Betapa antusiasnya saya begitu tau Death Cab For Cutie akan konser di Sydney. Gimana enggak, lagu-lagu band ini nyimpen banyak kenangan. Salah satunya pas jaman-jaman kuliah semester awal taun 2008 dimana saya dan Putri sedang berkendara di mobil. Lagu-lagu dari album Plans mereka cukup jadi 'saksi' kewolesan sekaligus kesenduan kami saat kuliah :p Eh, nggak hanya itu sih. Sebenarnya saya udah mulai dengerin DCFC dari SMP kelas 2, taun 2003-2004, pas DJ FM nyetel lagunya yang berjudul Crooked Teeth. I fell in love with the band sejak itu, apalagi saat lagu-lagu dari album Plans yang udah saya sebutin tadi dimainin. Wuihh rasanya kayak mimpi pas dengerin Ben Gibbard nyanyiin What Sarah Said, track terfavorit saya, secara live.<3 p="">

Kembaran sama Audrey pake kaos DCFC!
video
Death Cab For Cutie - Little Wanderer

video
Death Cab For Cutie - Transatlanticism

Konser saat itu benernya adalah promosi DCFC untuk album barunya, Kintsugi. Para penonton bisa dibilang nggak sefamiliar itu ketika lagu-lagu baru dimainin, tapi rasanya cukup seru juga ketika Black Sun sama Little Wanderer dibawain. I Will Possess Your Heart juga bikin gig mate saya kali itu, Audrey, antusias ikut sing along dan pastinya... I Will Follow You Into The Dark yang bikin suasana jadi makin melankolis (lol). Ditambah lagi saat Transatlanticism dimainin, waktu itu suasana sekitar kayak langsung krik-krik-krik sunyi banget! Orang-orang seakan-akan diem buat berdoa, tapi nyatanya lagu yang terkenal sama barisan lirik "I need you so much closer" itu emang bikin semua meleleh..... hahaha. Ya gitu deh, saya nggak peduli kalo suka sama DCFC dibilang emo, alay, atau kawan-kawannya. Yang penting lagu-lagunya banyak yang berkesan buat saya :)))

***

17 Oktober 2015: Rhye @ Oxford Art Factory
Nonton Rhye juga cukup dadakan dan lagi-lagi thanks to Karina yang ngajakin. Malam itu kami ketambahan dua gig mates yaitu Aang dan Fanny, dua temen Karina dari Jakarta. Yay, tambah seru deh. Anyway sebelum ke konser grup musik asal California ini, saya emang udah beberapa kali dengerin albumnya yang berjudul Woman. Tapi lucunya, sebelumnya saya nggak pernah bener-bener tau siapa aja anggotanya. Saya kira vokalisnya cewek, eh ternyata pas googling kok keluar foto dan nama cowok. Wah ternyata saya terkecoh, Rhye ini yang nyanyi ternyata cowok, namanya Mike Milosh yang udah married sama seorang aktris juga :p


Saya suka konser Rhye malem itu, karena ternyata live version mereka lebih dinamis dan atraktif. Hihi, beda sama audio versionnya yang lebih slow, enak buat 'leyeh-leyeh' dan bikin ngantuk. Well, live-nya juga slow sih, tapi beda aja dan lebih unik. Ditambah lagi suara Milosh yang lembut dan merdu, wihh bikin pengen merem pas dengerin lagunya. Pembawaannya yang tenang dan lihai pun jadi nilai plus. Rasanya pengen bawa kasur dan tidur saat itu juga! :p Track-track andalan macem Open dan The Fall pun dinyanyikan dengan syahdu, tapi sempet juga si Milosh becanda di tengah-tengah. Saya lupa pastinya lagu apa saat itu, yang jelas dia minta para penonton diem biar suasananya makin 'dapet'. Eh ternyata suara bartender yang mengkocok minuman malah ngeganggu dan Milosh dengan lihainya ganti lirik lagu itu jadi seakan-akan nyuruh si bartender berhenti. Penonton ketawa deh dan langsung tepuk tangan. Seru!

***

11 November 2015: Tame Impala @ Sydney Opera House Forecourt
Sebenernya Tame Impala yang asal Perth ini udah pernah maen ke Jakarta, cuma waktu itu saya belum suka-suka banget dan emang nggak seniat itu sampe keluar kota buat konser. Begitu di Sydney, band ini makin hip. Lagu-lagunya dari album terbarunya, Currents, kadang terdengar di beberapa kafe. Seperti nggak ada batasan tipe pendengar Tame Impala, haha.


Sore itu, saya pergi nonton dengan Karina, Dityo, temen band Karina yang lagi belajar musik di Sydney Conservatorium of Music, dan Jaye, cewek asal Newcastle yang kenal Karina lewat Instagram. Kami nyampe agak pagi, dengan maksud bisa 'jip' tempat gitu sewaktu Tame Impala main. Disana ternyata udah rame, beberapa orang malah udah duduk didepan panggung dan nggak rela ninggalin tempatnya demi liat Kevin Parker cs lebih deket. Yaudah akhirnya kami bertiga dapet space di entah barisan keberapa dari depan, yang jelas cukup bikin saya bingung ngeliatnya harus gimana. Tuh, liat aja fotonya. Bisa dibayangin 'kan betapa strugglingnya cewek dengan tinggi 151 cm untuk nonton konser di luar negeri? :') Btw, kualitas sound konser ini cukup menuai kritik, termasuk dari Sticky Fingers, karena dinilai kurang 'menggelegar' untuk ukuran gig di Sydney Opera House. Saya pun merasa begitu sih, bakal lebih seru kalau dibuat lebih keras, apalagi ketika Let It Happen dan Feels Like We Only Go Backwards dimainin.

***

2 Desember 2015: Mew @ Manning Bar
Ini jadi salah satu dari 3 konser favorit saya di Sydney! Kualitas performance Mew emang nggak pernah bikin kecewa sih. Terakhir saya nonton live-nya saat mereka main ke Kenjeran, Surabaya (yes Surabaya!) buat festival musik Coca Cola Soundburst 2011. Disitu saya masih bekerja untuk sebuah majalah dan luckily berkesempatan hadir di press conference-nya plus nonton mereka dari jarak lebih deket, maksudnya didalem pagar pembatas antara stage dan audience. Pengalaman itu bisa dibilang mengesankan, karena emang performance Mew bener-bener wow, tanpa cacat :')) And beruntung sekali lagi, saya bisa hadir di konser mereka di kampus saya (lagi) setelah 4 taun berikutnya *yay*.


video
Closing act dari Mew malam itu

Menjadi solo concert-goer malem itu juga nggak meruntuhkan semangat saya buat nonton live show band favorit dari SMP, yang ternyata baru tampil pertama kali di Australia tahun itu. Saya sampe di venue agak malem, mendekati jam-jam Mew tampil. Emang awkward sih rasanya pergi nonton konser sendiri, tapi yaudah deh ketimbang nyesel 'coz it's Mew! Malem itu, saya berdiri di barisan kedua dan agak 'mojok' di kanan sampe ada mas-mas berbaik hati gave up his space for me, 'coz I think he noticed kalo saya pendek dan keberadaannya bisa mem-block pandangan saya. Baik sekali yah! Saya langsung ucapin makasih dan maju ke tempat yang udah dikasih doi. Rejeki anak pendek! :p Pokoknya Jonas Bjerre malem itu kayak malaikat deh, pembawaannya yang tenang dan suara tingginya bener-bener bikin 'after-taste' konsernya melekat sampe berminggu-minggu :) Wiih, mengesankan banget pokoknya karena mereka hampir mainin semua track favorit saya (dan orang-orang) seperti 156, Snow Brigade, Am I Wry? No, dan Special.

***

4 Desember 2015: Unknown Mortal Orchestra @ Metro Theatre
Thanks to Karina (lagi) karena udah ngajakin ke konser Unknown Mortal Orchestra yang sold-out ini. Sebenernya saya nggak seberapa dengerin band yang dapet Best Alternative Album di New Zealand Music Awards 2015 ini. Cuma pernah dengerin sekali lewat Spotify dan saya pikir mereka cukup keren. Alhasil saat itu ketika diajak Karina, saya langsung berkata 'iya'. Oh sebelumnya sempet mikir-mikir sih, karena dua hari sebelumnya nonton Mew. Masa nonton lagi sih, begitu pikir saya. Tapi ya udah deh, mumpung di Sydney, coba deh dipuasin dahaga nonton konsernya :')


Malem itu saya nonton berempat sama Karina, Dityo dan temen Dityo yang orang lokal Oz (lupa namanya siapa). Kami menempati posisi seperti kemaren saat nonton Alpine. Beruntung deh walaupun pendek dan rame banget, saya masih bisa keliatan performersnya nyayi. Keren sih waktu itu, para penonton bener-bener pada joget - padahal bisa dibilang lagunya nggak se'rancak' itu lho. Saya pikir sih ini karena mereka udah kayak punya 'pasar'nya sendiri, pendengar loyal dengan tipe-tipe musik seperti UMO. Lagipula lagu-lagu mereka yang So Good At Being In Trouble dan The World Is Crowded beneran bikin terngiang-ngiang pas pulang :))

***

4 Februari 2016: CHVRCHES @ Enmore Theatre
When CHVRCHES made announcement for their Sydney show, I was like.. "OMG! I have to go! I freaking have to go!". Haha maaf lebay, tapi begitulah. Sebenernya cukup lucu juga kalau diinget-inget awal ketertarikan saya dengan band ini. Dulu kalau nggak salah nemu CHVRCHES dari salah satu website, Pitchfork apa ya. Entahlah, lupa. Waktu itu saya penasaran sama judul lagunya yang hipster sekali, yaitu The Mother We Share. Saya dengerin deh dan cari albumnya, haha. Kesan pertama, masih saya inget, adalah they are just another electronic band, that's it. Terus saya berhenti dengerin mereka. Eh.. bulan-bulan berikutnya, rasa penasaran saya balik lagi ke band asal Skotlandia ini. Ternyata enak juga musiknya setelah didengerin beberapa kali. Sejak saat itu, saya doyan dengerin mereka dan ngikutin berita vokalisnya, Lauren Mayberry yang concern sama isu perempuan dan misogyny di industri musik (sampe saya bikin essaynya buat kuliah lho ^^").

Lauren Mayberry dan Martin Doherty. Iain Cook nya nggak keliatan!
video
Video: CHVRCHES - The Mother We Share

video
Lauren nunjukin keahliannya drumming :)

Saya diapit duo bersaudara Sukriti dan Smriti. Btw liat tuh, dibelakang saya ada bapak-bapak berumur dan pas saya perhatiin, mereka enjoy banget liat CHVRCHES lho!
Hari itu saya berangkat sendiri ke Enmore Theatre dengan berjalan kaki. Udah deh buat CHVRCHES saya bela-belain juga nonton, walaupun nantinya emang sendiri. Eh ternyata ditengah-tengah saya berhasil kontak Sukriti, salah satu temen di Sydney yang doyan juga, dan gabung sama doi di front row. Yes, front row! Saya pun jadi makin antusias dan sibuk bergoyang waktu track-track favorit dari kedua album, The Bones Of What You Believe dan Every Open Eye, dimainin macem Gun, We Sink, Leave A Trace, dan Clearest Blue. Wahh pokoknya DREAM CAME TRUE juga deh kali itu. Apalagi tiga hari berikutnya saya bakal nonton band ini lagi di Laneway Festival. Sekali lagi thank you to you yang udah bikin ini jadi possible! :D<3 p="">

***

7 Februari 2016: Laneway Festival 2016 @ Sydney College of Arts
Bisa dibilang ini adalah konser penutup saya selama tinggal di Sydney. Huhu, sedih juga sih kalo dipikir. Tapi gak apa-apa, walaupun penutup, Laneway Festival 2016 di Sydney ini sangat berkesan! 

Violent Soho rame banget!
High Tension, rawr!
Pas leyeh-leyeh sambil liat Japanese Wallpaper
Bareng Karina :)
video
Grimes yang seru!

Kesalahan kami saat itu adalah pergi ke festival terlalu awal, jadinya pas malem udah pada kecapekan dan malah nggak kuat berdiri buat liat main acts. Huhu maap yah buat kalian yang jadi gig mates saya waktu itu, abisnya penasaran banget sama High Tension sih yang emang main pas siang-siang. Gimana enggak, saya udah ngikutin vokalisnya, Karina Utomo, sejak dia masih di Young and Restless dan sekarang musiknya makin gahar aja bareng band barunya. Penampilannya pun juga atraktif dan sangat bersemangat!

Kalo nonton festival kayak gini emang harus sedia energi ekstra. Harus kuat jalan dan sering pindah stage buat ngejar penampilan band yang mau diliat. Untung-untung kalo yang diliat itu bagus, kalo jelek? Wah rasanya dibuat duduk-duduk aja deh sambil istirahat di pinggir kayak waktu liat Japanese Wallpaper, yang ternyata jauhh banget kualitas livenya dibanding audionya (padahal saya udah ngarep-ngarep bisa dengerin suara Pepa Knight live juga pas Waves dimainin).

Btw, yang paling seru dari line-up nya itu sih menurut saya Grimes. Walopun saya cuma bisa liat dari samping dan jauh sambil siap-siap mau nonton CHVRCHES, lagu-lagunya cukup bikin gerak-gerak sendiri ditempat. Penampilan Grimes dan penari latarnya bener-bener enerjik dan sukses bikin penonton riuh. Pas CHVRCHES main pun juga begitu, penonton sangat berdesakan demi ngeliat wajah Lauren Mayberry, Iain Cook dan Martin Doherty lebih deket. Sampe-sampe saya sempet ngerasa sesek, tapi yaudah lah karena mereka yang main saya nggak masalah :')

When it was time to see Beach House pun, kami udah kewalahan dan malah merasa tambah loyo dengan lagu-lagunya mereka yang mendayu-dayu. But di satu sisi, I secretly felt really really happy karena bisa liat/denger live-nya band asal Baltimore yang saya senengin dari 2010. Yang lucu lagi juga waktu Purity Ring main. Padahal pengen banget liat, tapi udah bener-bener merasa capek sampe kami harus duduk di pinggiran dengan puluhan orang lain (yang kecapekan juga)... sambil sayup-sayup mendengar lantunan dari Megan James dan Corin Roddick itu. Bisa diliat dari giant screen juga kalau penampilan mereka memukau, pokoknya tambah apik deh karena dibarengi sama visual effect keren dan sound yang jernih :p

Selain band-band yang saya sebutin tadi, saya juga sempet ngeliat performance-performance menarik dari Goldlink, Shamir dan The Internet. Tipe musiknya Karina banget yang semacem R'n'B/Hip-hop, tapi cukup bikin saya terhibur karena Goldlink saat itu sempet bawain hit-hit jaman dulu kayak Jump Around. Saya jadi ikut melonjak-lonjak karena inget taun 2003 dimana lagu itu jadi lagu wajib untuk dance. Haha. Overall, Laneway Festival 2016 ini capek tapi menyenangkan!

***

Sempet rajin nonton gig di Surabaya bikin saya come up sama poin-poin What I've Learned From Sydney's Gigs....

#1. Pembelian tiket di Sydney gampang banget dilakukan secara online. Tinggal buka website venuenya, klik Buy Ticket, nanti diforward ke situs-situs pembelian tiket macem Ticketek, Moshtix, Oztix, atau halaman khusus dari venuenya sendiri.

#2. Cari info gig di Sydney juga gampang banget! Tinggal ambil free magazine kayak The Music ato The Brag, buka halaman gig guide (ato buka websitenya), nah disitu ada sederet list gig yang bisa ditonton setiap harinya. Pas pertama tau, saya semacem amazed karena literally BANYAK banget acara musik yang bisa ditonton di Sydney! Oh ya, dua majalah tadi biasanya ada di toko elektronik JB Hi-Fi ato jalan aja sepanjang King Street, Newtown. Pas jam-jam tertentu majalah itu dateng se-'gepok' dan ditaruh didepan kafe, bar atau venue musik.

#3. Sydneysiders jogetnya lebih 'loss', nggak peduli genre musiknya apa (btw ini kalo saya compare sama gig-gig independent musik rock/pop/jazz/folk di Surabaya lho ya, nggak tau lagi kalo elektronik). Cowo cewe nggak malu buat goyang. Kadang saking bebasnya, goyangan mereka kurang nyambung sama musiknya. Kayak misalnya pas itu saya liat cewe goyang-goyang ala dugem waktu konser Mew. Ya nggak masalah sih, suka-suka dia mau joget kayak gimana. Mau kayang pun saya juga nggak peduli. Tapi lucu aja :p 

#4. Jangan kuatir kalo keabisan tiket konser. Buka aja halaman Facebook Event-nya atau Gumtree Australia, biasanya ada orang-orang yang jualan disitu. Tapi ati-ati ya, nggak semua orang bisa dipercaya. Saya pribadi sih belum pernah beli dari orang-orang macem gitu, tapi seorang teman pernah nyeritain pengalaman paitnya beli tiket di third-party (istilahnya). Pas sampe di venue, doi nggak diperbolehin masuk karena dibilang tiketnya udah nggak valid :O. Eh, kalo emang kepepet nggak apa-apa juga kok, cuma pastiin aja tiketnya valid dan jangan bayar sebelum tiketnya kalian terima dulu ya! 

#5. Jangan lupa bawa ID kalo acaranya 18+. ID bisa berupa paspor ato driver's license asli, jangan fotokopian. Saya sih biasanya pake SIM Indonesia, karena males bawa paspor kemana-mana dan SIM sendiri udah ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Emang sih biasanya yang ngecek selalu mengernyitkan kening pas liat SIM saya, mereka kayak wondering saya kelahiran tahun berapa. Tapi dari semua itu saya lolos pengecekan kok dengan hanya bawa SIM. Oh ya, event dibuat dengan kategori 18+ disana karena ada penjualan minuman beralkohol.

#6. Penggunaan hape nggak terlalu intens pas konser. Yang saya amati, audience Sydney prefer nikmatin musik lewat telinga dan mata, bukan lewat layar hape :p. Sepanjang acara, jarang gitu saya liat orang-orang yang ngarahin hapenya dan nge-video ato motret si performer. Oh kecuali mereka-mereka yang ada di front row ya. Nggak tau juga kenapa begitu. Kalopun ada yang motret dan ngevideo biasanya bentar-bentar dan itu dikit. Setelah selesai sama hapenya, biasanya mereka balik nikmatin musik sambil nyeruput minuman (plus goyang-goyang sama temen/sendiri!).

#7. Harga merchandise cukup pricey. Kaos band biasanya berkisar AUD 30-40, CD sekitar AUD 12-22an. Vinyl kurang tau, karena nggak koleksi. Tapi harga-harga bisa dicek di website JB Hi-Fi, toko-toko records macem Red Eye Records, Repressed Records, atau Resist Records (khusus band hardcore dan punk), ato website bandnya itu sendiri. Kalo pas konser, mereka juga selalu sediain booth merchandise kok yang bisa kalian samperin. Asiknya lagi, mereka juga terima pembelian barang dengan memakai EFTPOS/electronic funds transfer at point of sale. Jadi nggak perlu bawa cash banyak-banyak deh. Oiya, ini juga berlaku kalau mau beli minuman juga ya.

#8. Ada photo booth yang wajib dicoba di Metro Theatre. Suka banget kalo ada gig di Metro Theatre, bisa nyobain mesin yang ngeluarin foto instan ini. Kalo udah gitu, saya keinget scene di tv series New Girl pas Jess foto bareng Nick di acara nikahan. Haha. Anyway, saya lupa nih berapa harganya sekali foto. Kalo nggak salah AUD 10 deh dan bayarnya cash yah!

#9. Experience the 'miracle' kalo kamu pendek. Saya suka terharu kecil-kecil kalo di Sydney. Abis disini orang-orangnya walopun keliatan cuek diluar, tapi considerate didalem! Contohnya pas liat Mew, tiba-tiba ada cowok yang gave up space-nya karena kayaknya doi nyadar saya kecil, terus kesusahan liat performer dengan jelas. Dan itu si cowok nggak bermaksud flirting lho, dia emang literally berbaik hati! Selain itu, pas konser CHVRCHES, cewe-cewe yang badannya lebih gede dari saya juga bersedia ngasih tempat dan tanpa ngedumel. Hal macem gitu bikin saya mikir juga semisal berdiri di front row. Saya selalu mastiin belakang saya bisa ngeliat performernya juga, walopun tau udah pasti mereka bisa ngeliat dibelakang orang yang tingginya dibawah 155 cm ini. Haha.

#10. Info set times? Cek Facebook!. Kadang kalo sebuah konser ada opening acts-nya gitu 'kan agak males ya, pengennya liat main act-nya langsung. Tapi JANGAN SALAH! Biasanya opening act ini juga dipilih yang bagus-bagus. Jadi dateng aja sesuai jam yang tertera di tiket. Siapa tau bisa sekalian 'jip' tempat :p Kalo males, yaudah tinggal buka Facebook event konsernya dan pantengin komen-komen dari postingan-postingan yang ada disitu. Kadang ada stranger yang posting jadwal manggung band-band tersebut. Buat nentuin validitas info tadi, bisa coba tanya bandnya langsung di Twitter :)

Oke, segitu dulu ya. Sampe ketemu di cerita-cerita 'naik haji' lainnya!