Tuesday, March 25, 2014

(a little) trip (to): Ekowisata Mangrove Wonorejo







Catatan penting: Semua foto diatas telah diedit, jadi jangan kaget begitu sampe di tempat warna-warnanya kurang sesuai sama yang di foto ini. Tapi pemandangannya ya begitu itu kok, seperti yang di foto! Hihi

Tanggal 16 Maret 2014 kemaren saya berkesempatan mengunjungi Ekowisata Mangrove Wonorejo. Saya kesana dengan keluarga; lengkap dengan ponakan saya, Ammar, yang berusia hampir 6 bulan. Kami berangkat dari rumah kira-kira pukul 11 siang dan sampai disana sekitar setengah jam berikutnya. Sebelum keluar dari mobil, kami menyiapkan kacamata hitam dan payung agar Ammar nggak kepanasan. Oh ya, tak lupa juga saya menyiapkan tas yang berisi essentials untuk jalan-jalan kecil, yaitu handphone, dompet, tissue basah dan tissue kering, kantung yang berisi alat komestik simpel, sisir, kacamata minus dan kotaknya.

Setelah menyusuri jembatan kayu, kami disambut oleh sederet warung kecil yang menyediakan beragam makanan dan minuman. Setiap warung disitu dilengkapi dengan palang nomor dan kutipan kata-kata penghibur seperti "Anda Puas, Kami Senang" atau "Tiap Senyum Anda Kebanggaan Kami". Saya lupa ada berapa tepatnya warung-warung ini, tetapi mau berapapun adanya mereka, pasti bakal berarti banget dikala siang yang panas itu. Yep, apalagi kalo nggak icip-icip es sari tebu sambil nyemil-nyemil keripik.

Puas melihat-lihat warung (hanya melihat, belum mampir), saya dan keluarga menuju loket ekowisata. Disitu, kami memutuskan untuk berpisah; saya, adek, dan kakak ipar saya masuk ke lokasi, sedangkan kakak, mama, papa, dan ponakan saya tinggal di tempat. Baiklah, akhirnya saya menyiapkan uang Rp 100.000,00 untuk membayar 3 karcis masuk. Sebagai info aja, untuk masuk ke kawasan ekowisata mangrove, tiap orang dewasa dikenai biaya Rp 25.000,- per orang dan anak-anak Rp 15.000,- per orang.

Karcis pun sudah di tangan dan kami bertiga (saya, adek dan kakak ipar) masuk ke dermaga sederhana di samping loket. Sesampai disana, jujur aja saya agak bingung. Nggak ada petugas yang berjaga dan at least, memberikan informasi kapan kapalnya akan datang atau berangkat. Akhirnya, kami duduk saja di bangku yang telah disediakan sambil menikmati pemandangan di sekitar.

Kira-kira sepuluh menit kemudian, datanglah kapal yang membawa rombongan pengunjung. Saya pun berdiri, diikuti dengan adik dan kakak ipar saya. Satu persatu pengunjung melangkah keluar dari kapal; nah, waktu saya perhatikan sih kebanyakan penumpangnya adalah keluarga dengan dua anak kecil, sisanya mungkin segerombolan anak muda yang cari alternatif tempat rekreasi selain mall atau taman kota. Makanya mereka dateng dengan dandanan layaknya mau ke dua tempat tadi, yaitu dengan pake kaos, celana panjang jeans, sneaker atau sandal dan topi.

Di dalam kapal, saya memilih tempat duduk di pinggir agar bisa lebih leluasa memotret dan menikmati bunyi percikan air *halah*. Yang jelas, saya pengen menyaksikan dan merasakan lebih syahdu (weleh) pemandangan alam di sekitar. Sambil menunggu pengunjung lainnya yang akan menaiki kapal, saya, adik dan kakak ipar menyempatkan foto bersama dan akhirnya kapal kami berangkat.

Seperti layaknya warga perkotaan yang udah jenuh sama pemandangan kotak-kotak di jalan, melihat deretan tanaman mangrove di kanan kiri pun terasa sangat menyenangkan. Walopun seiring kapalnya berjalan, tanaman-tanaman itu ya tetep ijo, airnya tetep kecokelatan, langit keabu-abuan (karena mulai mendung), dan sesekali ada burung mampir, tetep aja rasanya langsung seger. Seperti baru lagi. *klasik lah, hehe*

video
Pemandangan di sekitar kapal. Yuhu!

Setelah puas diajak menikmati pemandangan sekitar, kapal kami pun dibawa ke dermaga kecil untuk melakukan perjalanan menuju gazebo dan menara pantau. Perjalanan ini merupakan favorit saya, karena pemandangan yang ditawarkan (menurut saya) lebih fantastis ketimbang diatas kapal tadi. Saya pun langsung ngebayangin tiba-tiba ada lagunya The Album Leaf mengalun dan peri-peri hutan menari-menari *halah-halahhh*. Haha, ya gitu deh pokoknya, yang jelas saya suka pemandangannya dan suka sensasi berjalan diatas jembatan bambu ini. Saya jadi suka mikir nggak-nggak seperti "gimana ya kalo saya jatuh terus terus dimakan buaya?" dan seterus-terusnya. Saya yakin deh beberapa pengunjung juga ngerasain hal demikian.

Tapi sayangnya, ditengah kemesraan dengan alam ini (opo maneh), saya sempet terganggu dengan sampah-sampah berserakan di salah satu spot. Hm, bisa jadi itu sampah pengunjung atau sampah yang emang kebawa air dari mana gitu *asumsi pendek*. Yang jelas saya sempet nge-videoin sih dan bisa kalian liat dibawah ini. Semoga bisa bikin kita aware satu sama lain untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pariwisata Surabaya :)

video
Atasnya sih oke, tapi bawahnya? :(

Jalan menuju gazebo ternyata cukup panjang (mungkin bagi yang nggak biasa jalan kaki ato olahraga, termasuk saya hehe) dan saya pun menyesal nggak bawa botol air selama perjalanan. Ya udah deh, yang penting nggak sampe mau pingsan kok. Alright, sesampenya di pos pantau, kami bertiga hanya foto-foto (lagi) dan memutuskan untuk tidak naik ke gazebo. Menurut kami, duduk duduk di gazebo ya begitu itu rasanya, lebih lagi kami nggak bawa makanan ato minuman. Mungkin kalo bawa bakal lain gitu ya ceritanya. Hehe. Well, setelah puas ambil gambar sini-situ, kami memutuskan untuk balik ke dermaga dan kembali ke loket tempat kami beli karcis (tentu aja kembalinya dengan naik kapal lagi!).

Waktu itu kami beruntung udara lagi sejuk-sejuknya dideket gazebo dan pos pantau

Arloji saya menunjukkan pukul 1.15 siang, berarti ekowisata tadi kira-kira memakan waktu satu jam lebih limabelas menit. Cukup untuk membuat kami 'fully recharged', namun juga kelaparan dan kehausan. Untungnya papa, mama, kakak dan ponakan sudah menunggu di warung soto dan kami pun menyantap soto ayam dan air es dengan lahapnya...

* * *

Nah, sekarang ada yang tertarik pengen ke Ekowisata Mangrove Wonorejo? Saya punya beberapa tips nih:

1) Wisata ini cocok buat kalian yang berkeluarga atopun single.
Kalo berkeluarga, memang beberapa lokasi kurang friendly buat anak-anak dan harus ada orang dewasa yang menjaganya (seperti ketika berjalan diatas jembatan menuju gazebo dan pos pantau), but at least anak-anak bisa belajar mengenal alam :p. Kalo yang single, bisa dah dateng kesini sendirian hanya untuk refreshing pikiran yang udah dijejalin tugas kampus, kerjaan ato hal-hal menohok lainnya. Yang penting jangan nyemplung ke sungai ya.

2) Bawa kacamata item.
Emang, kacamata item masih nggak biasa digunakan selain di jalanan (para pengendara mobil/motor dan tukang parkir), di airport (mbak/mas stylish dengan syal dan kopernya setelah keluar dari pintu kedatangan) ato di kafe-kafe ketika anak muda ingin ber #ootd di Instagram, kacamata item ini bakal sangat berguna di Ekowisata Mangrove Wonorejo untuk mengurangi kesilauan kamu akan sinar matahari. Maklum, alam terbuka. Apalagi siang-siang.

3) Buanglah sampah di tong sampah!
Nggak peduli itu plastik sedotan air mineral 240 ml, nggak peduli itu tiket masuk yang udah nggak kepake, plastik pembungkus permen, sekecil apapun dah. Kalo bisa simpen dulu di saku celana. Kalo celananya nggak punya saku ya simpen di tas. Kalo nggak bawa tas dan nggak bersaku, ya dah simpen dibawah sepatu. Pokoknya simpen dimanapun sampe kalian nemu tong sampah :")

4) Pake baju dan alas kaki yang nyaman.
Waktu kesana, seperti di foto, saya pake kemeja tipis, celana panjang kain dan sepatu loafer berbahan kulit. Saya cukup nyesel karena nggak pake kaos kaki tipis ato pake sepatu sneaker sekalian yang enak dibuat jalan-jalan. Well, yang penting nggak sampe lecet deh.

5) Bawa kamera!
Kalo nggak mau kelewatan pemandangan-pemandangan menakjubkan yang tak terkira waktu kamu ada di jembatan menuju gazebo dan pos pantau. Ato pas mengarungi sungai yang dihiasi pemandangan hutan mangrove.

6) Kalo bisa beli makanan dan minuman di sekitar kawasan wisata.
Saya rasa yang ada di kawasan wisata udah cukup lengkap dan enak kok. Soto ayam yang saya makan aja rasanya enak. Cuma sayang, daging ayamnya kurang banyak, hehe. Yah, itung-itung juga membantu ningkatin penghasilan mereka 'kan? :)

7) Bawa uang secukupya.
Jangan lupa, kalo mau naik kapal untuk menyusuri hutan mangrove, kamu perlu mengeluarkan beberapa puluhan ribu untuk kamu sendiri ato keluargamu (Rp 25.000,- untuk orang dewasa, Rp 15.000,- untuk anak-anak. Rp 300.000,- untuk 6 orang yang mau sewa boat). Oya, dan buat makan siang disana juga.

8) Aware sama keadaan sekitar.
Siapa tau kamu nemuin spot foto bagus! Soalnya menurut saya disana emang bagus, nggak salah juga banyak orang foto pre-wed disana.

Hehe cukup simpel yah tipsnya, maklum saya emang nggak sempet eksplor tempat ini lama-lama karena terbatas waktu. Kalo dikasih kesempatan lagi, saya pengen ambil gambar atau video lebih banyak dan share di blog ini! :p

Friday, January 17, 2014

Menunggu.

Hai, selamat tahun baru 2014!
Semoga tahun ini bawa banyak berkah buat kita semua. Amin O:) (klasik sih..tapi pasti ini doa setiap orang kan hihi)

Alrite, saya mau umumin sesuatu nih:
Setelah pindah kuliah beberapa kali (pindah ospek juga diitung sih) dan settled selama 3,5 tahun di kampus sekarang, akhirnya saya lulus ujian skripsi S1! :"D



Saya nggak cerita panjang lebar dulu ya karena ini masih mau yudisium dan semoga bulan Februari saya bisa layak buat diwisuda :)

Sampe ketemu di cerita selanjutnya!


Cheers,

Kiza



Wednesday, November 20, 2013

Suatu pagi dengan mesin cuci.

Hai, rasanya udah lama nggak nulis di blog ini. Terakhir saya nulis di bulan Agustus lalu dan cerita tentang tulisan saya yang dimuat di website kampus.

Nah, buat postingan kali ini, saya pengen bikin suatu tulisan refleksi. Refleksi tentang suatu kejadian yang saya alami pagi ini. Oke, kalo dibanding dengan cerita liburan dan update tentang pencapaian, jelas kejadian kali ini nggak ada apa-apanya. Kejadian ini malah lebih sederhana, karena menyangkut cerita sebuah mesin cuci yang bermasalah :)

Jadi ceritanya pagi ini saya bangun pukul 6 dan ngelakuin rutinitas setelah-bangun-tidur seperti biasa, seperti minum air putih anget, baca koran dan sarapan. Setelah merasa ada 'panggilan' dari kamar mandi (you know what I mean), saya bergegas mengambil baju dan menuju kesana. Di depan pintu kamar mandi, saya melihat tumpukan baju kotor saya di keranjang. Saya dekati dan sedikit mencium aromanya. Aduh sepertinya udah apek, begitu batin saya. Saya pun segera memilah baju kotor itu dan memasukkan beberapa ke mesin cuci di dalam kamar mandi. Setelah mengatur mode pencucian, saya pun melanjutkan untuk mandi.

Saat mandi, saya nggak punya perasaan apa-apa ketika si mesin cuci menyuci baju saya. Hanya saja kali ini suara si mesin terdengar lebih smooth dan tidak begitu 'gelodakan' ketika dalam proses pembilasan dan pengeringan. Saya pun berpikir praktis saja; mungkin karena baju-baju yang saya masukkan sedikit sehingga si mesin nggak perlu terlalu ribut. Hehehe.

Akhirnya setelah mandi, saya membuka penutup mesin cuci dan mengambil baju saya satu per satu. Begitu kagetnya saya ketika menemukan baju-baju saya ditempeli oleh lumuran kotoran bewarna cokelat. Saya pun merasa begitu kecewa karena berarti saya harus spend more time untuk nyuci ulang baju dan membersihkan kotoran-kotoran tersebut. Sambil membuka pintu, saya memanggil mama saya dan mengeluh tentang kotoran nakal itu. Mama saya bilang "Oh, itu mungkin karena saringannya belom dibersihkan. Nanti Mama bersihkan deh.". Saya balas, "Lho ma, ini kotorannya banyak banget. Apa mesin cucinya rusak ya?". "Oh, iya toh?" begitu kata Mama saya. Akhirnya selang beberapa menit, Mama saya mengecek mesin cuci tersebut dan saya pergi ke teras belakang untuk menjemur pakaian saya.

Lalu Mama saya menghampiri dan memperlihatkan kantung saringan yang belepotan dengan kotoran. Saya pun bergidik jijik dan melanjutkan menata pakaian yang sedang dijemur. Setelah selesai menjemur, saya balik ke kamar mandi dan Mama saya sedang membersihkan mesin cuci itu dengan tissue. Karena merasa kesal harus mencuci ulang beberapa pakaian, saya sempet-sempetnya menegur Mama yang membuang tissue ke dalam lubang WC. Mama pun membalas, "Lho itu 'kan tissue toilet, jadi nggak masalah". Saya bilang, "Ya tapi jangan dimasukin ke toilet, Ma. Bahaya". Disitu maksud saya, tissue-tissuenya nanti akan menyumbat saluran toilet yang akhirnya bikin buntu. Akhirnya saya hanya menghela nafas dan masuk ke kamar untuk mengerjakan skripsi di laptop.

Selama mengetik, pikiran saya lari kemana-mana. Bukan hanya mikirin tentang teori warna yang lagi saya bahas untuk skripsi, melainkan ke mesin cuci bermasalah itu. Sejenak saya merasa bersalah sama Mama. Saya bersalah karena sempet merasa 'mangkel' dengan cara beliau membuang tisu kedalam lubang WC. Saya pun jadi  nggak tenang dan ingin meminta maaf karena udah dongkol ke Mama saya. Namun, karena keasikan mengetik (juga), rasa itu saya tepis dan saya pun terbuai dengan bahasan skripsi saya *halah*.

Satu jam kemudian, rasa itu kembali lagi dan saya langsung ke kamar Mama. Disitu Mama sedang menggosok pakaian yang menumpuk dan mendadak saya jadi melankolis. "Aduh, Mama kasian 'nggosok' segitu banyaknya", batin saya. Tapi tiba-tiba saya inget kalo Mama emang nggak pengen bajunya digosok sama orang lain (NB: asisten rumah tangga), karena nganggep hasil gosokan si mbak nggak rapi-rapi banget. Ya udah deh, begitu kata batin saya lagi. Akhirnya saya iseng nyeletuk, "Gimana, Ma, mesin cucinya?". Sambil menggosok, Mama saya bilang "Udah Mama telepon kok orangnya (yang untuk service), siang ini dateng. Oya nanti siang 'kan Mama jemput Diva (adik saya), nanti Kiza yang bantu ngeliatin bapaknya ya". Saya mengangguk dan berkata "Oke" sambil menuju ke meja televisi dan mengambil satu bungkus permen cokelat.

Ketika mengambil permen cokelat tersebut, saya jadi inget kulkas di dapur yang lagi bermasalah juga. "Ma, kok bisa ya barang-barang kita di rumah pada rusak semua?" tanya saya iseng. Mama pun dengan tenang menjawab, "Ini ujian Tuhan, Kiza". Beliau lalu melanjutkan, "Ini ujian buat Papa, Mama.." dan saya pun nyeletuk lagi, "Oh iya ya Ma, mungkin juga ujian buat Kiza yang lagi ngerjain skripsi". Mendengar itu Mama saya mengangguk dan mengutarakan bagaimana Tuhan sering menguji manusia ketika akan melakukan perjalanan ibadah (Oh iya, insya Allah, akhir tahun ini orang tua saya akan pergi umrah. Mohon doa restunya yah!^^).

Bukan Mama memang kalo nggak sabar dan sangat reflektif menilai kehidupan. Saya pun menyetujui beliau sambil membuka permen cokelat dan menguyahnya sedikit demi sedikit. Mama saya berlanjut, "Disini kita harus sabar, Kiza. 'Nikmat itu ujian' Tuhan". Saya pun segera mengoreksi karena menganggap tatanan kalimat Mama salah, "'Ujian itu nikmat' tah, Ma?". "Bukan, NIKMAT itu ujian," tegas Mama. Akhirnya saya diem sejenak buat berpikir. Oh ya, Mama bener juga. Saya mengangguk-angguk dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Mama. "Oh iya ya, Ma. Kita emang harus sabar nih. Ya mungkin ini cobaan buat Kiza juga yang lagi ngerjain skripsi ya, hehe." saya tertawa sedikit. Mama saya tersenyum sambil melipat sisi pakaian, "Iya. Kita harus ikhlas, Kiza. Bersyukur kalo cobaannya yang kayak gini. Ambil hikmahnya aja."

"Iya Ma, mungkin kita harus ikhlas ya," kata saya sambil menarik gagang pintu. Saya buka pintu kamar Mama dan balik mengerjakan skripsi. Setelah pembicaraan itu, entah kenapa tiba-tiba perasaan saya jadi lebih tenang. Entah karena sugesti atau omongan Mama yang emang 'mengayomi'. Entahlah, yang jelas saat itu saya ngerasa ikhlas dan lebih tenang. Saya nggak lagi senewen sama si mesin cuci, saya nggak lagi mikirin baju-baju saya yang kudu dicuci ulang. Saya pun berpikir, yep, Mama bener dengan apa yang dikatain beliau. Mungkin hikmahnya disini kami harus jadi lebih perhatian sama barang-barang di rumah. Jangan mentang-mentang udah enak pake teknologi modern, terus ngelupain cara merawat mesin-mesin itu. Jelas, mesin bukan manusia yang punya akal buat bersih-bersih sendiri. Mesin hanyalah mesin yang baru mau kerja setelah diperintah manusia. General fact banget sih, tapi biasanya ketika manusia udah ngerasa 'keenakan', ia jadi suka lupa sama kewajibannya 'kan?

Satu lagi, mungkin kejadian mesin cuci bermasalah ini emang bener cobaan dari Tuhan. Di satu sisi, keluarga saya lagi bersyukur banget karena kedatangan anggota baru, yaitu keponakan saya Ammar yang lucu banget. Di satu sisi, ada beberapa hal yang harus di-upgrade seiring kedatengan Ammar. Misalnya, secara fisik adalah upgrade ruang kamar kakak saya (nambah kamar mandi ) dan selain itu, secara psikis adalah upgrade sikap awareness buat saling menjaga satu sama lain dalam keluarga. Nah, tentang upgrade sikap awareness nih, kalo masing-masing masih cuek satu sama lain, ga peduli dia mau kayak gimana kek, situ mau kayak gimana, ya susah juga sih buat suatu keluarga. Se-mandirinya apapun orang itu, masing-masing harus bisa saling ngejaga. Ngejaga dalam arti nggak cuma diri masing-masing aja, tapi juga hal-hal yang ada di sekitar diri kita, ya kayak perabotan rumah tangga ini. Mesin cuci yang bermasalah ini. Kalo misal mesin cuci rusak, keluarga jadi repot juga 'kan karena nggak bisa cuci baju. Kakak saya juga jadi repot karena nggak bisa 'terbantu' nyuciin bajunya Ammar. Kasian juga 'kan beliau, udah repot ngurus anak, masih juga kudu repot nyuci baju secara manual. Ini juga berlaku buat semua sih. Akibatnya 'kan masing-masing harus spending time lebih lama buat nyuci baju manually dan akhirnya berdampak ke agenda kegiatan masing-masing. Misalnya, hari itu Mama saya pengennya abis jemput Diva bisa tidur siang. Tapi karena cucian masih numpuk, beliau akhirnya harus cuci baju dan mengorbankan waktu tidur siangnya.

Sedangkan di satu sisi, mesin cuci bermasalah ini emang jadi latihan kami buat bersabar dan ikhlas nerima sesuatu apa adanya. Saya ambil contoh diri saya sendiri deh. Sejak bulan Agustus kemaren, saya lagi nulis skripsi buat kelulusan saya (masih inget 'kan gimana saya berjuang pengen cepet lulus kuliah dan sekolah lagi?). Karena otak ini dipenuhi sama berbagai macam mimpi dan target, saya jadi suka 'sepaneng' ato senewen ketika sesuatu nggak berjalan sesuai yang saya pengen. Misalnya, saya pengennya suasana batin dan fisik saya tenang selama ngerjain skripsi ini . Tapi, siapa yang ngira kalo sebulanan kemaren saya sempet punya masalah sama orang terdekat saya. Nggak dipungkirin, waktu itu saya sempet sedih banget dan akibatnya saya nggak bisa nulis; saya ngalamin writer's block *sedikit curhat sih*. Batin saya waktu itu bener-bener nggak karuan, ditambah dengan suasana di sekitar perumahan yang literally lagi ribut-ributnya. Ya, di sebelah rumah kami memang sedang ada pembangunan, jadi suara mesin sudah seperti bulan-bulanan kamar saya (kamar saya berada tepat disebelah pembangunan itu). Selain itu, penambahan ruang kamar mandi di rumah saya juga kadang bikin saya senewen karena gaduhnya suara alat-alat pertukangan. Namun untunglah, saya selalu langsung ngerasa bersalah ketika inget aktivitas itu buat kepentingan bersama, kepentingan keluarga kakak saya tercinta :"). Selanjutnya, masalah kegaduhan di rumah pun belom cukup ketika si mesin cuci ini yang mulai 'berkicau'. Berarti saya harus mengorbankan waktu menulis skripsi untuk menyuci baju 'kan? Terdengar simpel memang, tapi begitu kita sedang dikejar waktu, segala sesuatunya terlihat jadi penting 'kan? Hehehe. Yeah, rasanya disini kesabaran dan keyakinan saya emang lagi diuji banget deh. Tahan ato enggak nih nerima berbagai macam cobaan, tetep 'yakin bisa' atau nggak nih nyelesein skripsi dan menuhin target lulus tahun ini :"D Pasti bisa deh! *nyemangatin diri sendiri*

Jadi intinya, dari sebuah mesin cuci yang rusak ini, saya nemuin satu pelajaran hidup yang klise tapi berharga: "sabar dan ikhlaskan". Mungkin sekilas terdengar sangat spiritual, tapi saya rasa ini lebih ke arah self-help. Sebuah self-help tentang gimana hal sesederhana mesin cuci bisa bikin kita jadi lebih baik. Jadi lebih 'nerimo' dan keukeuh ngejalanin hidup :)


Sampe ketemu lagi ya!


Salam hangat,

Kiza.