Sunday, August 16, 2015

'Sekarang'


Please don't flow so fast
You little mountain hum
I'll take a bottle down to you

Please don't flow this fast
You hold a little hum
I'll bottle sounds of me for you

Please don't flow so fast
You little mountain din
I'll bottle piano sounds from you

Please don't flow so fast
You little mountain noise
I'll close my eyes and bite your tongue

(múm - We Have A Map Of The Piano)

-----------------------------------------------------------------------

Di masa sekarang ketika informasi mengalir deras, kami manusia semakin terpacu untuk bergerak cepat. Cepat dalam berpikir, bertindak, dan berkegiatan. Harus berlari kalau tidak mau ketinggalan. Harus selalu awas dengan keadaan sekitar. Harus bersikap sigap dan tepat.

Namun karena ritme yang cepat itu, kami manusia kadang lupa untuk menikmati 'Sekarang'. Sebuah konsep masa yang dibatasi 'lalu' dan 'esok'. Sebuah konsep masa yang berdiri sendiri, walaupun pada akhirnya akan melangkahi batas-batas 'lalu' dan 'esok'. Semua berhubungan. Semua terikat dan dipayungi oleh sang Waktu.

'Sekarang' ialah sekarang. Bukan lalu atau esok. Akankah kami manusia bisa tak berjalan terlalu cepat? Sederhananya, biar kami bisa terlena dalam masa 'Sekarang'. 'Sekarang' yang nikmat. Yang murni. Penuh hal baru dan menggelitik.

Andai jari telunjuk kami mampu memilih suatu bagian waktu yang kerap berputar. Perlambat dan berhentikan arusnya. Memilih masa 'Sekarang' dan lupakan yang 'Lalu' ataupun 'Esok'. Tenggelam, terbuai dan terlempar-lempar dalam godaannya. Pikiran, jiwa, tubuh... semua milik 'Sekarang'.

Karena 'Sekarang', kami manusia bisa pahami 'Lalu' atau 'Esok'. Karena 'Sekarang', kami bisa menyayangi Waktu. Karena 'Sekarang', kami bisa temukan arah dan tujuan.

'Sekarang', ya 'Sekarang'. Abadikanlah untuk sementara. Janganlah cepat jadi 'Lalu' atau 'Esok', karena kami manusia sebenarnya bukan apa-apa. Kami ini sesungguhnya kecil. Diantara kemungkinan-kemungkinan di dunia yang melimpah ruah. Yang sebenarnya bergerak bebas; namun pada kenyataannya, kami manusia lah yang menciptakan batas-batas itu sendiri.

Jadi, apa yang harus kami lakukan pada 'Sekarang'? Agar ia kekal dan tak tergilas oleh Waktu?

Mungkin jawaban praktisnya ialah dengan bersyukur. Nikmati apa yang ada sekarang dan rengkuh kenyataan-kenyataan yang terjadi. Rayakan dan bersemangat. Sikapi dengan positif takdir yang dipilih. Mungkin itu bisa buahkan mimpi baru. Mungkin.

Walaupun kerap tidak semudah itu untuk benar-benar 'hidup' di dimensi 'Sekarang'. Akan banyak selentingan-selentingan keruh yang sangat 'memancing', merangsang dan menggetarkan determinasi. Sehingga lagi-lagi kami manusia dipengaruhi 'Lalu' atau 'Esok'. Tidak santai dan akibatnya berjalan terlalu cepat kembali.

Paling tidak dengan berpikir saat ini, kami sudah mempertimbangkan 'Sekarang'. Kami sadar ia 'ada' dan kami sadar ia tidak terus 'ada'.

Paling tidak kami juga paham bahwa 'Sekarang' adalah nikmat. Yang semestinya akan lebih indah jika dibekukan dan diawetkan. Mengikuti sikap dasar kami yang rakus dan penuh nafsu. Mengikuti pikiran-pikiran liar kami, mimpi-mimpi tak berujung kami...

Sunday, July 26, 2015

Full stop.

"Some music is meant to be listened when you are on your own, either because it's so uncool that it's liable to provoke unwanted comment, or because it makes you think about things you don't want to talk about, things that scare you." - Pitchfork