Friday, January 22, 2016

Ngobrolin 'Stuffocation'

Hari ini suhu Sydney mencapai 37 derajat dan saya kepanasan sendiri di kamar. Tanpa bergerak saja, pori-pori punggung udah ngeluarin keringat - ngebuat saya nggak nyaman, gelisah, pengen nyemplung di air dan berendam. Kipas angin di kamar sudah menyala 'buanter' kalo kata Suroboyoannya. Tapi tetep aja, it didn’t solve anything. Mau keluar rumah juga ‘mager’, males kena sengatan matahari. Bukannya takut item (disini saya malah sering cari panas), tapi lebih ke males keringetan dan capeknya. Menurut saya, suhu 30 derajat keatas di Sydney hanya menyenangkan dalam waktu sementara. Bisa berkegiatan diluar rumah, tapi lama-lama juga lemes sendiri karena kering, haus dan sakit menahan terik. Eh, ini apa karena saya emang lagi males kemana-mana ya akhir-akhir ini? Nggak juga kok. Pokoknya menurut saya panas Surabaya lebih mending daripada panas Sydney. Haha.

Anyway, life must continue with the heat! Jadinya saya browse aja deh informasi baru di Internet, terutama Twitter. Sewaktu scroll down, tiba-tiba saya teringat tentang kata ‘Stuffocation’ yang sempat saya temui kapan hari. Like a typical Kiza, begitu ada ide nongol di kepala, saya langsung pergi ke Holy Google dan mengetik kata ‘Stuffocation’. Sampai lah saya pada suatu artikel di The Guardian yang ngenalin saya ke konsep itu. Waktu pertama kali saya nemu artikel itu, saya belum sempet baca sampe abis karena nemu yang lebih menarik (digital age problem: short attention span). Karena penasaran apa sih sebenernya ‘stuffocation’ ini, saya baca cepet artikelnya. Ternyata itu adalah review buku “Stuffocation: Living More With Less” karya James Wallman.

Source: Goodreads

Steven Poole, penulis review, mendefinisikan ‘stuffocation’ sebagai “a feeling of being oppressed by one’s ungovernable heap of belongings”. Kalau pake istilah Suroboyoan, quick definitionnya “ngeroso sumpek perkoro kakean barang”. For me, this is interesting karena dua alasan.

Yang pertama lebih ke alasan 'umum', yaitu ketika saya harus memilah barang pribadi untuk persiapan pulang ke Indo. Bulan Februari 2016 besok, saya harus balik for good karena student visa yang habis masa berlakunya. Otomatis saya harus packing barang-barang di Sydney untuk dibawa ke Surabaya dan mikirin which ones should stay, which ones should go. Well, sebenernya kalo ngeliat kamar ex-housemates, barang-barang saya nggak ada apa-apanya. Emang nggak doyan nyimpen banyak barang sih, karena potentially bikin nggak rapi (haha). Eh tapi itu nggak berlaku buat baju, buku dan majalah ya; yang akhirnya kapan hari beberapa udah saya 'cemplungin' ke kotak donation. Saat itu nggak ada rasa nyesel ato gimana sih harus 'give up' barang-barang yang once saya seneng, tapi karena jarang dipake, ya udah saya let go aja daripada menuh-menuhin koper.

Lucunya juga, saya malah merasa lebih 'plong' ketika liat lemari baju yang isinya items yang emang saya suka dan (lebih dari) sering kepakenya. Saya realised kalo barang-barang yang saya donate itu emang rata-rata jarang kepake, terus saya beli karena laper mata aja dan bukan karena butuh. Jadi daripada cuma 1-2 kali dipake, so why still keeping those items 'kan? Kalo di Surabaya, biasanya saya turunin ke sodara-sodara ato pernah once saya jualin secara online ato offline lewat yard sale seperti di Locker Keeper dulu. Tapi kalo di Sydney, saya cari cara yang paling gampang aja: 'cemplungin' ke donation bin! Di kawasan Newtown, donation/charity bin mudah ditemukan; sampe-sampe komplek apartemen saya aja punya 1, kepunyaan The Smith Family. Jalan sekitar beberapa blok, udah nemu kepunyaan Vinnies. Terus agak jauh lagi setelah Newtown Station, ketemu punya Australian Red Cross. Ya udah, saya pilih aja yang di sekitar apartemen. Donasi nggak ada salahnya juga, malah rasanya lebih meaningful.

Kalo bingung donation bin itu kayak gimana, kira-kira seperti ini.
Source: Reddit

Kesimpulan buat alasan pertama, sebenarnya saya nggak punya problem dengan 'stuffocation' tapi saya tertarik dengan pengalaman setelah getting rid of things that I no longer need. Like when it gave me contentment in a weird way - mengapa demikian? Katanya nggak punya problem? Makanya itu, saya tertarik buat mengetahui konsep 'stuffocation' lebih jauh.

Alasan kedua, lebih ke alasan khusus yang sebenernya extension dari alasan pertama. Buset cara nulisnya kok udah kayak nulis paper. Haha yaudahlah ya. Jadi, alesan keduanya ialah 'stuffocation' reminds me of my current emotional state. Bulan November 2015 lalu, saya menulis tentang "Choosing choice" yang merupakan refleksi terhadap banyaknya pilihan akibat ketersediaan berlimpah. Walaupun sekarang udah hampir dua bulan lewat, isu ini masih relevan di keseharian saya. Entah pas lagi ngobrol sama temen ato sekedar pas bangun pagi, seperti mikir "Hari ini makan apa ya? Kalo mau makan sereal, bosen. Tapi kalo nggak makan sereal, nggak sarapan dong? Ntar kalo nggak sarapan, bisa lemes seharian blabla..". Yang paling apparent sih ketika saya merasa anxious atau reaching the dead-end street pas mikirin solusi. Saya sering tidak bisa bergerak atau 'paralysed' seperti yang Barry Schwartz ungkapkan - mau jalan kesini, takut salah. Mau jalan kesana, juga takut salah. Apakah karena saya cukup indecisive? Mungkin. Apakah karena saya nggak pedean? Bisa jadi. But I guess titik beratnya adalah ke 'choice' tadi. Pilihan makin banyak tersedia di era digital ini, dimana informasi sangat mudah didapatkan dan pengetahuan manusia makin bertambah.

Lalu, apa hubungannya the abundance of choice dan stuffocation? Ketika saya nonton talk-nya James Wallman, sang penulis yang alumni Oxford University and a former trend forecaster, saya merasa dua hal tersebut berkaitan. Terlebih saat Wallman menyatakan sesuatu seperti 'We are not living in the scarcity anymore, but the abundance'.


Saya pikir, 'stuffocation' timbul karena the abundance of choice tersebut. Balik lagi ke definisinya sang reviewer, 'stuffocation' adalah keadaan dimana kita ngerasa 'tertekan' karena barang-barang yang 'ungovernable' (ato mungkin nggak bisa diatur ya, gampangnya). Saat 'tertekan' inilah, kita seperti 'paralysed' like you really want to clean up the house, but you really don't know where to start. You really don't know what to do with those mountain of papers di meja kerja, cuttleries yang berserakan di sink, junks di sekitar living room (kalo ini sih tinggal buang aja), personal items yang nggak jelas di kamar, terus tiba-tiba ngeliat kayaknya space kamu makin sempit di rumah karena banyak box-yang-isinya-ga-tau-apa-aja (saya banget nih). Bukannya malah start bersih-bersih, kamu malah diem dan akhirnya males buat cleaning up. Rumahnya jadi gagal rapi deh.

Oke, mungkin contoh bersih-bersih kurang begitu pas. Coba kalau kasusnya adalah packing mau kemana gitu. Buat yang sering travelling mungkin itu nggak masalah, karena kayaknya mereka udah punya formula sendiri buat the kind of things they wanna bring. Sebenarnya kalau mau gampang-gampangan tinggal bilang "bawa essentials aja" ato kalo kata artikel-artikel fesyen, "pack the basics" termasuk kaos polos item, putih - pokoknya polos-polos. Tapi, gimana kalau ternyata you have plenty of the basics? Saya nggak mau meng-stereotip kan kalau cewek bakal sering encounter problem ini, cowok enggak karena mereka lebih praktis. Nope, 'coz I believe everyone is unique, jadinya saya pake contoh pengalaman sendiri aja. Saya orangnya emang jarang berpergian, tapi kalau di keluarga, saya termasuk yang paling santai perkara packing (besides Papa saya tentunya). Misal hari Jumat berangkat gitu ya, Kamis malemnya saya baru packing whereas Mama saya mungkin dari hari Selasa udah siap-siap. Walaupun santai, diem-diem saya juga suka bingung tentang apa aja yang harus saya bawa. Sekali lagi, baju saya sebenernya nggak sebanyak itu. But when it comes to packing, you have to choose kan. Choosing is a big matter for me, makanya nggak jarang juga saya unpack beberapa kali hanya karena berubah pikiran. Misalnya, "hm rasanya t-shirt ini lebih keren deh untuk dibawa". Hell yeah, begitulah masalah saya biasanya kalo lagi packing. 

Kita udah ngomongin perkara bingung saat cleaning up dan packing, but sebenernya inti dari 'stuffocation' yang dibahas Wallman bukanlah kebingungan itu. Disini saya cuma berusaha nge-relate topik postingan ini sama bahasan saya sebelumnya tentang the abundance of choice; yang nggak jarang bikin anxious, unhappy, not content, nggak enjoy, dan segalanya yang negatif.

Source: Meme Generator

Karena ada motivasi untuk life must be spent in meaningful way and you should feel happy about it, saya 'tergelitik' buat cari cara biar nggak anxious lagi sehari-hari. Biar nggak overwhelmed sama banyaknya pilihan, karena saya rasa itu masalah terbesar saya akhir-akhir ini. Therefore, ke'berlimpahan' ini saya pikir adalah akar dari timbulnya masalah seperti stuffocation yang bisa diakalin dengan hidup 'minimalis' (coba tengok website The Minimalists), 'paralysis' kayak yang diungkapkan Barry Schwartz, atau simply being unhappy sehari-hari.

Source: Imgflip

Seperti yang udah saya bilang diatas, sebenarnya inti dari 'stuffocation' bukanlah menghubungkannya dengan the abundance of choice - itu refleksi saya sendiri - melainkan dengan memindahkan 'fokus' dari 'materialism' ke 'experientialism'. Biar nggak terperangkap dalam stuffocation, yang saya tangkep dari talk Wallman ialah kita dianjurkan buat ngerombak pikiran - eh, ngerombak rasanya terlalu berlebihan, hm mungkin ngerubah aja deh - okey, ngerubah pikiran dari membeli sesuatu akan ke'barangan'nya ke experiencenya. Disini agak abu-abu sih sebenernya experience yang Wallman maksud itu kayak gimana. Tapi dari contoh-contoh yang dia kasih, pemahaman saya lebih ke 'why spending money on things that end up sitting like stones di garasi kamu' while you can afford to go for something that gives you wonderful experience like learning how to surf ato sebagainya. Kalo mau dipikir lagi, sebenarnya experience ini juga didapet pake duit kan, in which it is easy to point out konsep materialism tadi. So, I guess agak membingungkan juga sih argumennya Wallman.

But I do understand maksudnya dia untuk menitikberatkan sesuatu pada hal-hal yang tak terlihat (tapi sekarang bisa terlihat, thanks to social media) seperti experience. Mungkin contoh mudahnya gini, misalnya aja di hari itu kamu masuk ke sebuah toko baju. Buat beberapa orang yang doyan belanja, it is easy buat tergiur sama item-item disitu and then they end up buying things they don't really need. Sampe rumah, mungkin bisa diitung juga seberapa seringnya si pembeli ini pake bajunya ato worst, bajunya nggak kepake sama sekali karena pas di toko, bajunya nggak dicoba dulu dan ternyata fittingnya jelek. Bulan depannya, kejadian yang sama terulang. Baju bertambah, barang-barang didalam lemari bertambah. Ketersediaan finansial causes frequent shopping, dimana barang-barang valuenya makin menurun. Dari yang sebenarnya fungsional, jadi ter-reduce hanya buat #ootd-an aja di Instagram.

Source: Meme Generator
Saya masih bingung juga; katakanlah si orang ini abis beli barang prestigious seperti tas Herm├Ęs dan postingan #ootd nya ternyata dapet banyak like dan itu nimbulin perasaan seneng, bukankah itu experience tersendiri? Nggak usah lah waktu posting #ootd, waktu bisa beli tasnya aja mungkin bisa dibilang ngasih pengalaman yang nggak terlupakan. Apalagi kalau itu tas mahal pertamanya. Biasanya diinget sampe lama sih, kecuali kalo bosen ya.

Oh! Mungkin pelan-pelan saya ngerti apa yang dimaksud dengan "pengalaman" versi Wallman ini. Rasanya lebih ke hal-hal yang ngasih kamu contentment, pleasure, amazement, happiness.... walopun si reviewer juga bingung 'happiness' yang dimaksud Wallman ini yang gimana. Terserah mau mikirnya apa, yang penting gives you maximum pleasure and feel like you are completely immersed into that thing. Misalnya ya travelling. Orang-orang biasanya ngomongin experience kalau ngebicarain kesan pas liburan, entah itu makan yang jijik-jijik pertama kali, ato berada dalam bus trip yang nggak nyaman kayak contohnya si Wallman. Experience ini lekat sama memories, dimana ngingetin Wallman sama note terakhir dari kakeknya on the day he passed away, yang isinya "Memories live longer than dreams". Saya setuju sih, memories tentang pengalaman snowboarding pertama kali di Perisher Valley emang lebih berkesan dibanding atasan H&M yang saya beli beberapa waktu lalu, and end up gak pernah saya pake karena transparan banget. Hehe kalo itu sih udah pasti ya bedanya.

Yeah, I guess dengan berpikir bahwa experience lebih penting, kita bisa memperbaiki gaya mengkonsumsi sesuatu. Dari yang mikirnya lebih kebarangan (ato kuantitas?) dan akhirnya berakhir cuma jadi pile of stuffs di storage room, jadi ke yang nggak keliatan tapi gives you maximum pleasure like experience - misalnya spend money buat naik gunung. Perpindahan fokus ini bisa ngurangin resiko 'stuffocation' yang bisa bikin kita anxious, unhappy, paralysed dan semacemnya. Ngurangin aja lho ya saya rasa, bukan completely menghapus karena munafik kalo mau bilang stop buying unnecessary things - 'coz you don't really know if the thing would be so significant in the future, but biasa aja buat sekarang. Who knows us anyway? Diri kita sendiri 'kan? Jadi ya I guess kita yang bisa mengontrol habit kita sendiri. Dengan kata lain, semua keputusan berada di tangan kita sendiri.

That being said, kebanyakan barang emang nggak enak. Suka bikin pusing karena bingung mulai darimana ngerapihinnya dan mana yang dipilih buat dibawa pindahan - contoh gampangnya. Kalo udah bingung gitu, jadinya nggak hepi, Manusia jaman sekarang sukanya yang instan-instan, jadinya sekalinya ngerasa nggak hepi, pengennya loncat ke hal yang bikin hepi. Misalnya, langsung lari ke Instagram, scrolling down postingan orang-orang yang maybe give them instant pleasure (but later mungkin malah bikin iri karena pengen bisa pergi ke Iceland juga misalnya. Eh, ini sih bahasannya lain lagi ya). Ato bisa aja googling tentang solusi masalahnya, entah tentang packing atau decluttering and then BAM! you'll find bunch of solutions from the experts to the mediocres. Hidup berminimalis juga tampaknya menarik untuk jadi jalan keluarnya, tapi emang butuh komitmen sih. Ntar aja di lain postingan saya ngobrolin itu :p

So are you going to spend more on 'experience'? Tapi, pengalaman macam apa yang ngasih kita minimum risk? Kenapa manusia jaman sekarang 'takut' untuk feeling unhappy - padahal kalo dipikir ini cuma karena kuantitas barang lho, bukan kehilangan orang yang signifikan misalnya. Barang, yang notabene nggak bernafas, barang mati yang nggak bisa ngomong tapi ternyata gives pressure to the owners. Lucu ya kadang-kadang :)) 

Thursday, January 21, 2016

Kenapa manusia ... (?)

Seberapa tinggi, banyak dan hebatkah kemampuan manusia yang diperlukan untuk bisa menjadi ‘utuh’?
Apa saja variabel yang dibutuhkan sehingga manusia dapat tentukan kualitasnya?
Adakah masa yang dialokasikan tersendiri untuk manusia agar ia bisa mengukur seberapa pantas dirinya disebut sebagai manusia?

Apa yang sebenarnya menjadikan manusia sebuah entitas ‘penuh’ dan ‘lengkap’?
Uang banyak? Rumah besar? Gelar bertumpuk? Level karir tertinggi?
Pasangan rupawan? Seks hebat? Tubuh langsing? Banyak pengagum?

Followers ribuan? ‘Likes’ ratusan? Adidas Superstar? Nike Roshe?
Bergaya 90an? Bergaya minimalis? Musik indie? Bergabung dengan band?

Memakai cadar? Ke gereja tiap Minggu? Bersujud lima waktu? Meditasi tiap pagi?
Ke gym tiap hari? Yoga di akhir minggu? Menjadi vegan? Mengurangi manis-manis?

Apa sebenarnya yang menjadikan manusia seorang ‘manusia’ tanpa harus berhubungan dengan kebarangan, kenikmatan, keterlebihan, keimanan, dan kekuatan?

Apakah variabel-variabel itu adalah ‘harus’ bagi kita untuk memberi nilai kualitas terhadap seorang manusia (dengan kadang seenaknya sambil menutup mata; tanpa mengulik dan memahami realitas tersembunyinya)?

Apakah ini sebenarnya privilege yang diberikan masyarakat kepada manusia, yang sebenarnya adalah entitas kosong namun murni seperti saat ia keluar dari rahim?

Seberapa pantaskah seorang manusia untuk memberikan perspektif (apalagi stereotip) terhadap manusia lain?

Mengapa ada ketidakadilan bagi manusia?

Mengapa seorang manusia terkadang merasa ‘kurang ‘ dibanding manusia lainnya?
Mengapa timbul rendah diri? Mengapa timbul rasa ingin berkompetisi? Mengapa ingin menang? Mengapa ingin lebih? Mengapa ingin sukses?

Apa sebenarnya yang ingin dicapai seorang manusia?
Apakah kuantitas material tertinggi yang tak berkesudahan?
Ataukah kepuasan mutlak yang dijemput dengan usaha maksimal?

Bagaimana manusia bisa disebut ‘manusia’?
Perlukah embel-embel kata sifat dibelakangnya?
Jika iya, seberapa kuatkah manusia bisa bergantung dengan kerelatifan?
Dalam keadaan tidak pasti dan tidak statis…
Bisa diolor-olor, mudah berubah!
Sangat kontekstual, perlu pemahaman bijak
Kadang menggamangkan dan merisaukan…
Kadang mengundang ego: “aku lebih dari kamu”

Tidak bisakah manusia hidup berdampingan, merayakan perbedaannya masing-masing?
Segala warna itu apabila dikumpulkan dan diorganisir sedemikian rupa, maka akan jadi pelangi ‘kan?
Bukankah itu indah? Bukankah itu menakjubkan?

Mengapa ada ambisi untuk sama?
Mengapa ada determinasi untuk konformitas
Mengapa ada mimpi untuk keserasian?

Apa sebenarnya tujuan manusia hidup dengan manusia lain?
Apa gunanya bermasyarakat kalau hanya timbulkan tekanan dan ketidaknyamanan?
Apa gunanya bermasyarakat kalau kebaikan dilakukan semata-mata untuk menyenangkan seorang manusia, sementara manusia lain masih mengemis untuk kebahagiaan?
Apa gunanya bermasyarakat kalau individualisme dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif?

Apa gunanya kita ada berdampingan dan terkoneksi?
Apa untuk berlomba-lomba meraih “paling”?
Atau semata-mata hanya bertukar cerita,
Atau malah membandingkan nasib, sehingga mengundang kepentingan “Aku” dan sibuk mengukur nilai masing-masing pada akhirnya?

Untuk siapakah sebenarnya nilai itu?
Untuk manusia lain?
Atau untuk Tuhan? (Akan tetapi Tuhannya siapa?)
Atau untuk The Higher Self atau apalah itu yang disebut ketika diri mencapai tingkat consciousness tertinggi?

Oh, atau jangan-jangan untuk diri sendiri?
Tapi untuk apa kalau akhirnya inner peace berlaku hanya sementara?
Karena ia harus menandingi ombak dan badai pikiran keruh yang berada diluar kontrol manusia?

Mengapa manusia sangat terobsesi dengan nilai yang (mungkin) bisa dikatakan ilusi hanya karena kerelatifannya… ketidakpastiannya?
Sekali lagi, apa yang menjadikan manusia ‘penuh’, ‘utuh’, dan disebut ‘manusia’?
Haruskah manusia selalu mengudang manusia lain untuk mengukur kualitasnya?

Lalu apa arti kesendirian bagi manusia?


Sydney, 21 Januari 2016 pukul 1:32 dini hari
Selamat datang 2016!