Sunday, July 26, 2015

Full stop.

"Some music is meant to be listened when you are on your own, either because it's so uncool that it's liable to provoke unwanted comment, or because it makes you think about things you don't want to talk about, things that scare you." - Pitchfork

Friday, June 26, 2015

22.00 - 3.00

Kamis, 25 Juni 2015, pukul 22.00, kamar apartemen.

Kedua mataku semakin memberat. Mungkin efek 2 tablet flu yang kuminum setelah makan malem. Maklum, aku paling terganggu sama hidung yang berair. Inginnya cepat-cepat bugar dan bisa beraktivitas dengan lancar.

Pelan-pelan kupejamkan mata. Mencoba merilekskan pikiran dan badan. Cukup susah, mengingat pukul 6 pagi aku harus meninggalkan rumah. Kalau tidak, bisa ketinggalan bis ke Canberra. Ya, weekend ini aku akan menghabiskan waktu di ibukota Australia tersebut. Menemui pakde dan bude sebelum mereka mudik ke Indonesia. Sekaligus jalan-jalan dan 'istirahat' dari kota Sydney yang buzzing.

Drrrrtt....drrrtt..... Suara fan dari heater menemani detik-detik sebelum aku terlelap. Badanku menghangat. Aku gelisah. Masa harus mandi lagi sih, tanyaku pada diri sendiri. Kuturunkan selimut dari leher ke pinggang, sehingga bahu dan dada bisa merasakan angin dingin. Tok, tok, tok...! "Kiza!". Tok, tok, tok...! "Kiza!". Tiba-tiba seseorang mengetok pintu kamar dan memanggil namaku dari luar. Suaranya cukup familiar. Kedengarannya seperti Audrey.

Kuputuskan untuk membuka mata. Aneh, aku belum juga se-ngantuk itu. Aku pun beranjak dari tempat tidur, menarik jaket dari kursi meja belajar, lalu kupakai cepat-cepat. Jeglek! Kubuka pintu kamarku. Ternyata Laura, housemateku dari negara China, sudah berdiri didepan dengan sebuah mangkuk kecil. "Oh, sorry, you're already sleeping!" katanya sambil terkejut ketika melihat lampu kamarku yang remang-remang. "No, no, it's okay. Yeah, I just took a medicine." jawabku sambil nyengir. "Here, I made a dessert for you. You can eat it when it's cooler," dia menyerahkan mangkuk yang berisi manisan bewarna kuning dan rumput laut itu. "Oh, wow. Thank you so much, Laura!" kuterima mangkuk itu dan Laura berbalik menuju kamarnya.

Jeglek! Kututup pintu kamar. Soswit sekali sih housemate-housemateku ini. Sukanya share makanan. Bisa dibilang enak lagi. Ah, beruntungnya aku tinggal di rumah ini, batinku. Kuletakkan mangkuk hangat itu di pinggir meja belajar dan bersiap untuk tidur lagi. Sayup-sayup terdengar suara Nehan, teman kami yang tinggal di sebelah apartemen, dan riuh suara piring dan sendok dari bawah. Mungkin mereka lagi late dinner dan bersiap akan nonton film malem ini. Kuambil hapeku, kubuka group chat Facebook dan minta maaf kalo nggak bisa gabung. Kubilang aku harus tidur lebih awal, berangkat pagi keesokan harinya, dan film pilihan mereka, "Let's Be Cops", itu hilarious.

Kuletakkan hapeku lagi di sebelah bantal. Aku harap suara alarm bisa terdengar lebih nyaring. Sebelum benar-benar memejamkan mata, kusugesti terus diri ini supaya besok bisa bangun pagi. Kalau tidak, mungkin aku akan "bablas" sampe jam 8 pagi. Kutarik lagi selimutku sampai ke pinggang. Tubuh ini masih hangat. Ah, ya sudahlah. Yang penting sekarang harus tidur. Tidur dan tidur....

Jumat, 26 Juni 2015, pukul 03.00, kamar apartemen.

Mendadak kubuka mata. Ah, masih jam 3 pagi, batinku ketika melihat jam di meja belajar. Kuambil hape dan memastikan alarm masih terpasang. Masih ada 2 jam lagi sebelum kuputuskan benar-benar bangun. Tidur lagi aja deh. Aku taruh hape itu disamping bantal dan membenarkan posisi tidurku. Kupejamkan mata, mencoba terlelap lagi. Semakin susah. Aku semakin gelisah. Takut tidak bisa bangun pagi.


Kubuka lagi mataku dan kuputuskan untuk bangun. Mungkin sebaiknya sahur aja, kataku sambil melihat kotak kecil yang berisi kue Babka kemarin. Aku berdiri, kupakai jaketku dan meraih kotak tersebut. Dengan lampu yang masih remang-remang, kunikmati dini hari ini dengan manisnya kue Babka yang kubeli dari Shenkin Cafe. Enak sekali. Rasanya pengen setiap hari makan ini.

Nyam, nyam, nyam. Kutelan rempahan kue terakhir itu. Ah, rasanya masih kurang. Aku butuh banyak tenaga besok. Kalau tidak, rencanaku jalan kaki mengitari kota Canberra bisa gagal. Kuputuskan turun untuk mengambil potongan donat dan buah lemon dibawah. Aku harus mulai rajin minum honey lemon lagi. Tanpa diundang, tiba-tiba niat itu datang ketika aku akan membuka pintu. Yuk, mari kita sahur....