Pages

Thursday, January 26, 2012

Music trip: The People's Party, Jakarta (Januari 2012)

Klise, saya pilih duduk didekat jendela biar bisa liat pemandangan!

Foto 1 : Dimulai dari tekad nonton The People's Party 2012, pagi itu saya berhasil duduk di ruang tunggu sebelum boarding sambil menunggu sinyal wi-fi bandara yang tak kunjung 'lengket'. Saya sedikit was-was; bukan karena udah lama gak naik pesawat (dan slalu merinding saat posisi take-off), melainkan karena PENASARAN sama angka IPK yang konon udah keluar. Bolak-balik saya menyeringai ke Fajri dan bilang, "Aduh.. aku deg-deg an nih!!". Dia pun hanya membalas dengan senyum. Mungkin saya terlalu heboh ya. Hihi. Anyway, waktu kurang beberapa menit lagi, akhirnya saya mengontak Feby, salah satu teman dekat saya di kampus. Saya minta tolong dia untuk ngeliatin nilai. Satu menit berlalu nunggu jawaban...satu menit setengah...dan yes..! Berita baik datang. Feby bilang IPK saya mencapai...ah gak mau bilang deh. Pokoknya alhamdulillah naik dari semester lalu :)

Pukul 10.20 tiba. Waktunya boarding! Ahhh, thanks God, pesawatnya tepat waktu. Saya dan Fajri segera bergegas dan kami siap ke Jakarta dengan Citilink !

Fajri lagi iseng moto-moto, muka saya pun terlihat gak siap. 

Foto 2 : Pukul 12 siang lewat, kami pun sampai di ibukota! Rasanya berbunga-bunga, mengingat abis gini kami bakal ngelanjutin ke Bandung dengan Mario dan Rere. Saya dan Fajri pun berjalan cepat menuju KFC dan menemui pasangan tersebut. Kami makan siang lebih dahulu sebelum menghabiskan waktu diatas jalan tol. Selamat makan!

Foto-foto kami berempat saat makan siang di restoran Pasar Tong Tong (Cihampelas Walk). 
Enak lho masakannya!

Foto 3-5 : Kota Bandung yang sejuk selalu mendapatkan atensi masyarakat untuk beraktivitas diluar ruangan. Begitu juga dengan saya, Fajri, Mario, dan Rere. Di kota kembang itu, kami sempatkan mengunjungi Cihampelas Walk (untuk belanja oleh-oleh) dan Maja House (untuk makan malam dengan udara yang DINGIN --gak sejuk lagi--, namun dengan pemandangan lampu-lampu kota yang menawan). Menyenangkan!

[The People's Party : 13 Januari 2012, Fairground - Jakarta]
Yeah! Saya berhasil foto sama Jack Steadman, vokalis Bombay Bicycle Club :)
 *Fyi : Jack Steadman adalah sosok yang sangat humble! Ia dengan sabar meladeni fans-nya yang minta foto bareng. Bahkan saat foto sama saya, dia bersedia 'memendekkan' sedikit tinggi badannya biar gak keliatan 'njomplang' sama saya. Iyess, saya kan pendek! Haha thanks, Jack!

[The People's Party : 13 Januari 2012, Fairground - Jakarta]
There you go, The Naked and Famous !


[The People's Party : 13 Januari 2012, Fairground - Jakarta]  
Metronomy diatas panggung. 
Saya suka sekali penampilan mereka!

Foto 6-10 : Waktunya menyaksikan The People's Party di Jakarta! Wohoo! Entah apa yang bisa saya katakan malem itu. Pokoknya saya SENENG BANGET! Lupakan kekecewaan karena terlambat dateng (akibat macet!) dan ngelewatin penampilan Roman Foot Soldiers, disana saya dapet pengalaman personal dengan para guest stars! :

1) Permintaan saya dan Fajri dijawab sama Hayley Mary (vokalis The Jezabels)! -- begitu dateng ke venue, saya nggak percaya kalo The Jezabels bakal ngakhirin penampilannya. Aduh, saya udah deg-degan. Semoga saya nggak ngelewatin track paling favorit, Endless Summer! Saat jeda lagu, spontan saya langsung teriak "Endless Summer!!" sambil disusul Fajri yang juga ikut teriak. And.. you know what? Hayley Mary menjawab, "We did it. You missed it." OH GOSH! Sedih-seneng-kaget jadi satu. Gak papa deh kelewatan Endless Summer, yang penting dijawab sama Hayley! Hihi.

2) Foto bareng sama Jack Steadman (vokalis Bombay Bicycle Club)! -- kelar penampilan OKE dari Bombay Bicycle Club, saya-Fajri-Mario-Rere menuju ke pinggir venue. Fajri dan Rere langsung ngibrit ke toilet, sementara saya dan Mario menunggu. Mario yang saat itu kebingungan pengen foto sama salah satu personel SORE, tiba-tiba dikejutin sama Rere. "Aku foto sama vokalisnya Bombay!!," kata Rere antusias. "Hah, dimana, Re? Mau-mau dong!" tanya saya, deg-degan. Rere menunjuk ke arah toilet dan saya langsung kesana. Oh my God, ternyata Jack udah dikerubungin cewek-cewek yang minta foto bareng! Merasa gak mau kalah, saya cari sosok Fajri yang ternyata juga ikut antri. Saya panggil doi dan Fajri langsung ngedorong saya buat mendekati Jack! Oh Tuhan, Jack Steadman yang dulu cuma bisa diliat di YouTube sekarang ada di sebelah saya! Menyadari saya yang speechless plus mati gaya, Fajri berseru sambil mengacungkan kameranya, "Jack, Jack! This is my grr-irl.." dan.. KLIK! Momen antara saya dan Jack berhasil ditangkap. Masih mati gaya, saya tatap cowok bule itu dan (cuma bisa) bilang, "Jack, thank you so much..."

3) Ikut menyapa Thom Powers (gitaris, vokalis, dan produser The Naked and Famous) yang lewat didepan saya! -- masih berada di tempat saya berfoto sama Jack Steadman, lagi-lagi terjadi hal yang gak terlupakan. Ya, tiba-tiba Thom lewat didepan saya dan Fajri! Langsung deh kami gak banyak bacot, segera kami sapa doi, "Hi, Thom!". Well, kayaknya si Thom gak denger suara saya, tapi doi langsung say hi balik ke Fajri! Lengkap dengan senyumnya yang charming itu (olalalaaa)! Hal itu membuat Fajri histeris dan saya pun ikut seneng melihatnya! :)

Selain pengalaman dengan para guest stars, saya juga nyempetin ketemu sama Shida Aruya, seorang teman dari Jakarta, saya ngeliat Nina Nikicio dan Anindita Sayruf (dua sosok yang saya kagumi!), dan terakhir.. saya nyicipin hotdog dari The Goods Diner. Happy-nya COMBO ya? ;)

 Fatburger!!!

Foto 11 : Hari ketiga di Jakarta. Saya dan Fajri langsung diboyong sama Rere-Mario buat sarapan di Bakmi Karet Foek. Wuah rasanya kangen, mengingat terakhir makan disana juga berlima (ketambahan Ardo) pas mau nonton The Radio Dept. Puas makan bakmi yang enaknya tiada tara, kami berempat kembali ke rumah masing-masing (saya ke rumah Rere, Fajri ke rumah Mario) dan mandi buat persiapan ke Plaza Indonesia. Lucunya, disana saya juga banyak dapet cerita :

1) Saya ngeliat wanita muda jalan-jalan dengan kostum leopard-print, from head to toe! -- saya cuma bisa nelen ludah. Gak selamanya yang dipake artis itu bisa fit di badan kita. Tapi, yaudahlah, mungkin mbak-mbak itu pengen keliatan beda yah.

2) Makan siang di Fatburger -- ini pertama kalinya saya makan burger sampe 'mangap' lebar. Tuh liat sendiri 'kan di foto, burgernya 'gemuk' banget! Walopun ekstra minyak, saya gak masalah. Laper euy!

3) Berkunjung ke Aksara -- pertama kalinya juga nih. Selama disana, saya bolak-balik bergumam, "Semoga Aksara buka di Surabaya, semoga Aksara buka di Surabaya...". Iya, karena saya suka banget tempat itu! Sebagai kenang-kenangan, saya beli novel "Never Let Me Go" karya Kazuo Ishiguro (yang baru aja saya tonton filmnya dan sedih!). Ah, lagi-lagi menyenangkan :)

4) Bersantai di Canteen -- entah mengapa Mario-Rere selalu 'pas' membawa kami ke tempat makan/minum yang oke. Kali ini dengan suasana cozy dan udara yang dingin! Saya jadi menyesal gak pake legging ato sekedar shawl yang bisa menutupi leher (maklum, saya jadi sering kedinginan sejak punya rambut cepak).

5) Window-shopping di The Goods Dept, Muji, Fred Perry, Kloom, dan lain-lain -- Jakarta 'keras', bung! Secara gak langsung kota ini mengajak kita untuk terus cari duit, kaya, lalu bisa belanja sepuasnya :p (fyi, ini pendapat Fajri yang saya setujui banget)

Kelar dari Plaza Indonesia, perjalanan kami lanjutkan ke Bier 'n' Flugel, sebuah beer house yang berada di daerah Kelapa Gading. Sayangnya, waktu itu badan saya udah capek dan mata udah ngantuk berat. Jadinya, saya banyak diem deh. Maaf ya buat temen-temen yang pas itu ada disana! :)

 Pemandangan saat pulang ke Surabaya.
Terima kasih Citilink, kau tepat waktu lagi! 

Foto 12 : Pagi itu saya udah siap dengan koper bawaan (yang kerasa lebih berat) dan Mario-Fajri pun datang menjemput. Saya dan Rere bergegas masuk dan kami menuju Bakmi Bintang Gading untuk sarapan. Horee, saatnya mencicipi bakmi kedua di Jakarta! Kalo bicara tentang nikmat, saya masih pilih Bakmi Karet Foek. Tapi, Bakmi Bintang Gading juga gak kalah enak kok! Coba aja deh kalo maen ke Jakarta ;) Oke, waktunya berangkat ke bandara dan pulang ke Surabaya! Selamat berjumpa kembali, Jakarta!

[Seluruh foto oleh Fajri Armansya, Editing oleh saya sendiri :p]

Monday, January 16, 2012

Spread it

♫ Telefon Tel Aviv - The Birds 

Nikicio NN:02 "The Songs I've Never Listened To" long sleeve tee, Ricki's shirt, unbranded legging, Cotton Ink Krey shawl

Have a great semester break, everyone!

Thursday, January 5, 2012

Orange day out

The Futureheads - Hounds of Love




[ Robe Noerm knit hoodie, Osella polo shirt, thrifted short pants ]

Trip: Yogyakarta - bag. 2 (Desember 2011)

Hari 3 (30 Desember 2011) : Terjun dalam banyak perbincangan

Sebenernya saya gak suka dipijet, tapi pagi itu saya melakukannya. Namanya mbak Ina, seorang ibu umur 40an (seharusnya saya panggil beliau Ibu kan, tapi saya terbiasa panggil ‘mbak’) yang dengan telaten memijat badan saya. Agar kerasa gak membosankan, sesekali saya ajak beliau ngobrol dan akhirnya perbincangan kami mengarah pada pengalaman beliau jadi tukang pijet. Kata mbak Ina, sehari beliau bisa memijat 3-4 orang dengan waktu yang fleksibel. Hasilnya, tak jarang pula mbak Ina harus pulang larut malam dengan bersepeda sendirian. Pernah suatu hari beliau diikuti oleh seorang pria pengendara motor. Modusnya klasik; si pria ini berjalan pelan-pelan di belakang, lalu mendekat, dan berhenti tiba-tiba didepan mbak Ina. Si pria itu lantas menyeletuk, “Arep neng ndi, Mbak? (Mau kemana, Mbak?)”. Mbak Ina spontan menjawab, “Yo arep mulih neng omahku, Mas! Arep neng ndi maneh! (Ya mau pulang ke rumahku mas! Mau kemana lagi!)”. Lalu dengan sangat ‘tidak bertanggung-jawab’, pria itu langsung ngacir dan meninggalkan mbak Ina yang kebingungan. Ah, jaman sekarang orang emang aneh-aneh, begitu kesimpulan saya ketika mbak Ina selesai bercerita.

Selesai pijet, saya bergegas mandi dan berangkat ke rumah Bude Linda dengan Papa. Saya ketemu dengan 2 sepupu, yaitu mas Angga dan mas Rio; lalu duduk di kursi tamu sambil lanjut baca novel. Mas Angga pun menghampiri dengan menyodorkan segelas minuman dingin. “Wah apa ini, Mas?” tanya saya. Doi ngejawab, “Itu lho minuman cokelat yang ada Oreo-nya.” Saya jadi semangat tiba-tiba. Langsung saya seruput minuman itu dan merasakan nikmat luar biasa (oke ini berlebihan!) di tenggorokan. Buatan rumah tapi gak kalah sama yang di kafe-kafe! Hihi. Akhirnya adzan Dhuhur pun terdengar dan Papa-mas Angga-mas Rio berangkat sholat Jumat. Selesai mereka sholat Jumat, saya pergi berempat dengan para sepupu (kali ini ketambahan mbak Reta) untuk sekedar hang-out. Tujuan pertama adalah Kalimilk (cabang Seturan) dan mencicipi susu dingin rasa pisang. Ah, benar-benar favorit! Saya jadi pengen kesana lagi. Menjelang sore, kami melanjutkan acara ke Plaza Ambarrukmo. Disana kami ke Carrefour, beli Bakpia Pia untuk oleh-oleh, dan makan siang di Tamansari food court. Asiknya, di meja makan tersebut kami terlibat perbincangan tentang gay, rokok, dan pacaran beda agama. Topik yang serasa ‘dewasa’, jauh ketika kami masih bicara tentang ‘hari ini mau main sembunyi-sembuyian gak?’….(ya iyalah)

 Inilah satu gelas susu Kalimilk Hazelnut ukuran medium.
(pstt.. ada yang ukuran Gajah loh!)

Merasa kekenyangan dan kelelahan, akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing. Saya diantarkan ke rumah Eyang dan berdiam sejenak di kamar. Mengistirahatkan kaki dan membaca novel (lagi). Waktu pun bergulir, tak terasa sudah sampai pukul 9 malam. Papa pun mengajak saya untuk menjemput Mama yang lagi reuni SMA di daerah Kaliurang. Saya langsung mengiyakan; kangen rasanya lewat Kaliurang. Namun sayang sekali, malam itu Jogja sangat dingin dan mengharuskan saya untuk bersembunyi dibalik shawl ‘fesyenebel’ yang dibilang Papa seperti sarung.

Hari 4 (31 Desember 2011) : Pulang ke Surabaya!

Menyadari kemampuan masak yang masih ‘jongkok’, pagi itu saya berinisiatif untuk membantu Tante Nora di dapur. Sudah pasti pekerjaan yang ‘diturunkan’ pada saya bukanlah yang berkenaan dengan kompor dan api, melainkan dengan piring dimana saya harus ‘menyetak’ bentuk sebuah lumpia. Dengan tangan yang awalnya kaku, saya jadi terbiasa menggulung kulit lumpia yang tipis itu dengan smooth. Hahaha, saya jadi pengen ketawa sendiri. Gitu aja bangga, siapa aja juga bisa kali!. Saya jadi ngebatin, “Saya mau gak bisa masak sampe kapan sih. Malu banget ni nanti kalo udah nikah gak bisa jadi istri yang baik.” #ngoook

Kelar bikin lumpia, saya lalu mengambil sapu dan bersih-bersih lantai rumah Eyang (bagian depan aja sih, abis keliatan ‘keset’ banget). Saya pun ngebatin (lagi. oke hari ini ilmu kebatinan saya terasah), “Pintar masak dan giat bersih-bersih rumah itu memang nilai plus seorang wanita! Saya harus bisa itu!”. Hihihi sekali lagi saya rada naïf, tapi begitulah di pikiran saya. Seorang wanita berusia 21 tahun yang masih nggak bisa masak, belom rajin bersih-bersih rumah, jarang mencuci baju sendiri apalagi menyetrika, dan hidup dalam budaya Timur di era modern.

Menjelang pukul 1 siang, akhirnya saya dan Papa harus pamit untuk pulang ke Surabaya. Saya peluk Eyang Mami dengan erat (badan beliau memang selalu enak dipeluk!), saya cium beliau beberapa kali, dan saya lambaikan tangan ketika akan naik mobil. Seketika sampai stasiun dan jarum jam menunjuk pukul 2 siang tepat, kereta saya datang dan kami meninggalkan Jogjakarta.

Sampai jumpa lagi kota favorit!

P.S #1 : Too bad, saya males bawa kamera kemana-mana. Jadinya minim gambar deh. Semoga tidak bosan ya!

P.S #2 : Mungkin saya gagal tanya-tanya Eyang tentang kisah leluhur. But, look what I've got..

Potret Bertha Suzanne Wolf.
Buyut saya.

Tuesday, January 3, 2012

Loose end

Jirapah - Muto






[VRY basic loose shirt, thrifted short pants]

Trip: Yogyakarta bag. 1 (Desember 2011)

Hello! Selamat Tahun Baru 2012!

Di tahun Naga Air (maaf saya salah sebelumnya! :p) ini, saya akan mulai dengan “laporan” perjalanan ke Jogjakarta. Seperti kata tokoh Dexter dalam buku One Day karangan David Nicholls, “travel broadens the mind” untuk mewakili perjalanan kali ini; and indeed, it has broadened my mind.

Hari 1 (28 Desember 2011) : Perjalanan di kereta

Entah kenapa, dari kecil saya dibiasakan travelling pake jalur darat, yaitu naek mobil ato kereta. Tentunya ada pengecualian disini; tidak semua tujuan saya ‘habisin’ pake roda empat ataupun 'sang penyambar rel', terkadang saya juga pake burung mesin (oke, cukup dengan istilah2 ini). Kalo menurut pemahaman saya, pesawat hanyalah untuk tujuan yang lebih ke kiri dari Jawa Tengah ataupun ke kanan dari Jawa Timur, dan pertimbangan waktu. Diluar itu, serahkan pada kemampuan pengemudi jalur darat.

Pada sore itu pukul 17.15, saya sudah duduk manis di kursi 12C KA Bima tujuan Jogjakarta. Agak surprised juga, karena kali ini saya berada di barisan paling depan dalam gerbong Eksekutif 2. Hanya satu kursi (yang biasanya 2 dalam satu baris) di baris sebelah kanan, dekat dengan jendela, dan di depan pintu gerbong otomatis. Bisa membayangkan? Setiap orang yang masuk kedalam kereta, mereka akan ‘tercengang’ lebih dahulu dengan kehadiran saya (berlebihan, maaf-maaf haha). Seperti itulah gambaran saya ketika berangkat ke Jogja. Melihat puluhan orang mondar-mandir didepan saya, sesekali mencoba “tebak karakter”, sesekali hanya acuh. Saya baru menengadahkan kepala jika ada bunyi pintu yang agak berbeda; oh ternyata ada orang yang hampir terjepit! Kasian dia, pasti kelamaan berdiri didepan pintu karena kebingungan bawa barang. Kalo udah gini, saya jadi nganggep pintu itu kayak lift. Masuk maupun keluar pake hitungan waktu. PLUS pake merinding begitu melintas. Hihi.

Dalam perjalanan tersebut, saya jadi sering ‘latihan’ leher juga. Ketika merasa bosan dengan pemandangan orang keluar-masuk gerbong, saya menoleh ke kiri. Mengecek keberadaan keluarga; Papa lagi asik ngobrol dengan laki-laki seumuran beliau disebelahnya, Mama lagi asik main BB, adek lagi asik main PSP. Oh ternyata mereka baik-baik saja, saya lalu kembali membaca novel. Menikmati cerita yang begitu well-developed, seru (in some ways), romantis, dan deskriptif. Saya pun asik sendiri, larut dalam bacaan setebal 437 halaman itu (oh ya lupa bilang, saya ngelanjutin baca One Day ;p).

Lima jam lebih berlalu, saya kurang ingat pukul berapa sampai di kota pelajar. Dengan kaki yang agak kaku karena kedinginan, saya memompa semangat untuk keluar dari gerbong dan berjalan mengikuti bapak porter. ‘Selamat datang di Jogjakarta!’, begitu saya berkata pada diri sendiri. Papa, Mama, dan adik pun tak kalah berekspresi. Terdengar tarik nafas lega, terlihat ayunan tangan dan gerakan panggul untuk sesi singkat ‘pelemasan’ setelah lama duduk di kereta. Saya pun tersenyum sambil melihat deretan kata “Stasiun Tugu”, lalu seorang bapak berkumis datang menghampiri dan mempersilahkan kami naik kedalam taksinya.

Hari 2 (29 Desember 2011) : Empat tempat, satu tujuan : "pertemuan"

Kegiatan pertama di Jogja diawali dengan kunjungan ke makam Eyang. Berada di Dusun Tajem, saya dan keluarga masuk ke komplek pemakaman yang bertajuk : “Griyaku Jiwakunarpadan” tersebut (ada artinya, tapi saya belom siap ngebagiin karena belom clear banget. Hehe). Disana, makam Eyang Papi tampak dikelilingi pohon kecil sehingga kami bisa berdoa sambil berteduh. Saya pun melangkah, mendekati makam eyang. Sambil meletakkan bunga lavender kesukaan almarhum; saya berharap beliau akan tersenyum lebar diatas sana. Papa dan Mama lalu mengikuti setelah membersihkan tanaman-tanaman kecil di sekitar makam, dan kami pun duduk berjongkok untuk berdoa.

Seusai kunjungan tersebut, kami menuju ke kantor Bude Linda untuk sekedar melepas kangen. Saat itu memang hujan rintik-rintik dan kami menikmati berada di sebuah dealer mobil; hanya sekedar melihat deretan kendaraan yang terpajang cantik. Mendengar ‘tangisan’ hujan yang datang tiba-tiba, saya dan keluarga pun mohon pamit. Wah, ternyata hujan deras diluar sana! Kami pun segera menuju rumah Eyang Mami di daerah Gedongkuning. Mengejar waktu makan siang untuk semangkok soto ayam hangat.

Setelah dirasa cukup, saya mohon pamit untuk pergi ke Galeria Mall. Papa sempat menawarkan untuk mengantar, tapi saya menolak. Saya prefer naik bus Trans Jogja; dimana menjadi kesukaan saya untuk berhenti di setiap shelter, mengamati para penumpang, sampai akhirnya sampai di tujuan. Here I come, Galeria Mall! Saya langsung menuju Goodmood YK, sebuah butik milik pasangan suami-istri sekaligus teman-teman baik saya, yaitu Rahayu Budhi Handayani (biasa dipanggil Ayu) dan Mario Andriyono. Ah senang sekali rasanya bisa bertemu teman di luar kota; saya pun terlibat perbincangan cukup panjang dengan Ayu. Tentang rencana kedepan, bisnis, sampai ‘sepak terjang’nya mendirikan Goodmood YK. Lalu saya bertemu teman baru bernama Chandra Herdita, seorang mahasiswi fakultas hukum UGM yang tertarik dengan segala sesuatu berbau seni, terlebih fashion. Kami bertiga akhirnya membangun ‘forum’ sendiri, saling sharing tentang kehidupan masing-masing.

Menjelang Maghrib, Papa-Mama dan Bude Nona menyusul saya ke Galeria. Saya pamit pada Ayu, mas Mario, dan Chandra; lalu bergabung dengan keluarga saya yang menanti di depan Matahari Dept. Store. Saya menghela napas, sambil mengelus perut. Saya siap untuk makan malam keluarga di Restoran Bale Ayu! Hore!

[bersambung]