Pages

Tuesday, March 29, 2016

Bromo (lagi!)


Liburan Paskah barusan jadi hari-hari berkesan di bulan Maret 2016. Bagaimana tidak, saya berkesempatan ke Gunung Bromo lagi setelah 7 tahun lewat! 

Kesan pertama: Bromo tidak berubah. Tetap indah dan menawan, walaupun saya rasa suhu sekitar makin memanas saat menjelang jam 9 pagi. Tapi itu tak jadi masalah, malahan bikin happy karena matahari lagi terang-terangnya and we got to catch the sunrise! Apparently, itu juga jadi pengalaman pertama saya liat matahari terbit di gunung. Rasa dingin 12 derajat yang cukup menggigit saat itu akhirnya terlupakan, karena melihat warna langit yang makin cantik seiring naiknya matahari.


Setelah meneguk minuman hangat dan mengunyah roti sobek di kantin sekitar, kami kembali ke Jeep dan meneruskan perjalanan ke Kawah Gunung Bromo. Duduk di bangku depan memang paling seru, pemandangan sekitar bisa terlihat lebih jelas dan mudah untuk diabadikan. Tinggal ulurkan tangan saat kaca mobil samping dibuka dan klik-klik-klik! Puluhan foto telah siap dipilih dan dibagikan ke teman-teman sosmed.

Sesampai di area parkir, kami disambut bapak-bapak yang menawarkan jasa naik kuda untuk menuju puncak kawah. Tawaran mereka kami setujui di tarif normal Rp 150.000,- dan sang kuda siap mengantar pergi dan pulang. Dengan didampingi si bapak, kuda yang saya tunggangi mulai berjalan melenggak-lenggok tegas, melewati lautan pasir. Tak jarang juga si kuda yang bernama Excel itu meringkik keras. Waktu saya tanya sebabnya, si bapak menjelaskan kalo Excel memang doyan berbunyi dan itu adalah cara dia menyapa teman-temannya. Saya tertawa mendengarnya, lucu juga binatang ini.


Sering berlatih sepeda di rumah dengan jarak 10-12 kilometer ternyata tidak membuat saya maksimal ketika menaiki 250 anak tangga ke puncak kawah. Tak jarang di tengah-tengah harus berhenti dan menarik napas, melihat pemandangan sekitar agar rasanya segar terus untuk setiap langkah baru. Kadang jadi terharu saat melihat bapak muda yang sedang menggandeng anaknya saat mendaki. Saya jadi ingat cerita tentang Papa yang panik menuruni kawah sambil menggendong tubuh kecil yang hampir mati kedinginan. Konon katanya bibir si anak sudah membiru dan warna mukanya memutih kepucatan, sehingga balsam dan jaket tebal menjadi dokter penyelamat di mobil. Fyi, anak itu adalah saya dan untungnya hingga sekarang, hawa dingin tidak pernah meruntuhkan imun tubuh sampai parah!



Kalau Bromo trip 7 tahun lalu bertema quality time bersama keluarga, tahun 2016 ini pastinya berbeda. Saya berangkat dengan rombongan Jakarta, yang dimana beberapa orang baru saya kenal di bandara Juanda. Namun itu tidak jadi penghalang seru-seruan berwisata kali ini, malahan jadi makin asik karena mengenal hal-hal baru tiap harinya. Ditambah lagi, kesempatan mengunjungi lokasi-lokasi terkenal di kawasan Taman Wisata Bromo Tengger Semeru seperti Padang Savannah atau Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik. Saya jadi makin senang karena terkagum-kagum oleh pemandangannya.


Akhirnya, terpuaskanlah dahaga akan angin sejuk, hamparan hijau dan dahan pepohonan yang bersandar di langit biru. Kalau dulu bisa secara mudah saya temukan dengan naik bus di Sydney, kini memang harus dituntaskan lewat perjalanan berjam-jam dan lelah di dalam bodi angkutan terlebih dahulu. Tapi, bukankah itu intinya perjalanan? Menghadapi, menikmati dan melalui proses - yang bagi saya sejujurnya masih sukar dilakukan.

Overall, liburan Paskah 2016 ini tidak kalah menarik dibanding tahun lalu yang saya habiskan di Port Stephens dan Royal National Park, Australia. Masing-masing punya highlights yang wajib dikenang seumur hidup. Malah lucunya, kedua trip sama-sama dihadapkan dengan masalah ban bocor! :)

Sampai ketemu di cerita perjalanan berikutnya. Selamat hari Paskah!

***

Tuesday, March 15, 2016

X dan Y

X: Di saat-saat seperti ini, aku teringat akan cerita seorang tokoh dalam novel Haruki Murakami yang berjudul “The Elephant Vanishes”. Disitu diceritakan bagaimana seorang wanita kehilangan kemampuannya untuk tidur. Hal itu terjadi begitu saja setelah ia menjalani rutinitas sehari-hari dan di suatu malam ia tidak merasakan kantuk sama sekali, sehingga memutuskan untuk membaca buku kesukaannya. Potongan kisah yang aku baca di kereta tersebut masih tergambar jelas di otak, bagaimanapun Murakami selalu berhasil menimbulkan sensasi ‘after-taste’ tersendiri bagi para pembacanya. Entah itu merasa gloomy tiba-tiba karena turut merasakan pemikiran dan tubuh si tokoh dalam cerita, atau merasa terjebak di suatu dimensi cerita tersebut, membiarkan diri ‘disusupi’ oleh si tokoh. Sungguh aneh, aku tidak bisa menggambarkannya dalam kata-kata. Kamu harus merasakannya sendiri. 

Y: (mengangguk)

X: Orang mungkin bilang aku emo, dramatik, berlebihan atau semacamnya. Tapi kadang aku suka berada dalam kesendirian di malam hari seperti ini. Hanya ditemani oleh lagu-lagu favorit dan membiarkan diri dimakan oleh pemikiran-pemikiran sendiri. Aku sadar bahwa ini tidak akan menimbulkan manfaat bagi diri, yang ada biasanya malah masalah - dimana aku tidak mampu membuat keputusan cepat, terlalu berbelit-belit dan akhirnya pening sendiri. Aku jadi terpuruk.


Y: Sabarlah.

X: Tapi lucunya, ini adalah salah satu momen favoritku. Bercumbu dengan pemikiranku sendiri. Sibuk berpetualang dengan angan-angan yang belum tentu menjadi nyata, sibuk mendayung lautan kemungkinan yang tak berujung. Membiarkan diri bebas. Lepas tak berikat dan penasaran.

Y: Apakah kamu bahagia?

X: Kadang aku lelah menghadapi kondisi seperti ini. Aku bosan terlalu lama berputar di suatu titik, aku ingin punya tujuan.

Y: (mengelus punggung X)

X: Siapapun itu, tolong. Tarik aku dari ruangan bergradasi ini. Bubuhkanlah warnamu yang solid pada batas ruang nyata dan imajinasiku. Hapuskan segala lapisan yang mengendap dan mengerak kotor kekuningan di celah otakku. Bangunkan pagar besi yang tinggi dan kokoh sehingga prajurit utopia tidak dapat menembus teritori kenyataanku. Tasbihkan jimat agar hantu-hantu kecilku hangus terbakar, gagal berseteru dengan peri-peri pertahananku.

X: Tolong buat aku berhenti menari. Raihlah jemariku dan rengkuh aku ke dalam tubuhmu. Erat, sampai nafasku dan nafasmu bersinggungan. Biarkanlah kulit-kulitku melepuh, badan telanjangku meleleh dan membasahi pakaian perangmu. Meresap lewat pori-pori gempalan tanganmu yang keras dan larut dalam darahmu yang mengalir deras. Ikuti arus menuju jantungmu yang menggebu-gebu… hingga ku paham bagaimana seharusnya kudetakkan bagianku. Jadikanlah aku seirama dengan nada-nada asing diluar sana hingga lonceng keramat itu berdentang dan kau lompat naik ke kudamu, bertolak membawaku menemui sang Waktu.


(Music: múm - I Can't Feel My Hand Any More, It's Alright, Sleep Still)

Thursday, March 3, 2016

Pulang

Saya teringat sebuah slogan tentang peringatan berkendara di jalanan Surabaya. Disitu tertulis - saya lupa pastinya seperti apa- namun paling tidak terdengar seperti “hati-hati lah saat berkendara, keluarga menunggu di rumah”. Waktu melihatnya sih saya tidak berpikir macam-macam. Saya rasa kalimat itu cukup efektif untuk mengingatkan para pengguna jalan agar selalu berhati-hati: mematuhi peraturan lalu lintas, menghindari kecelakaan fatal, dan yang paling penting lagi, untuk pulang ke rumah dengan selamat.

Tapi, pernahkah kamu berpikir mengapa hubungan antara dua konsep, “hati-hati” dan “keluarga menunggu dirumah” terdengar menyentuh, sehingga sebabkan rasa takut untuk menjadi serampangan di jalan? Mengapa kata “keluarga” dan “rumah” dipilih untuk mengingatkan mereka yang sedang ‘commuting’ agar menjaga keselamatannya di jalan? Mengapa disitu seakan-akan ingin dikatakan bahwa kembali ke rumah dengan badan yang utuh adalah penting? Apakah karena ada orang-orang terkasih di jarak yang berbeda, yang mungkin gelisah atau tidak sabar menunggu kita pulang?

Ini sebenarnya bukan masalah mengkritisi cara pemerintah berkomunikasi dengan pengendara di jalan, tetapi lebih ke ide “kembali ke rumah dengan selamat/utuh”.

***


Sudah dua minggu lebih saya kembali ke Surabaya dan tinggalkan Sydney. Tugas disana telah selesai. Saya telah diwisuda untuk program S2 dan dianugerahkan transkrip studi yang (untungnya) memuaskan. Waktu untuk tinggal di kota yang awalnya asing tersebut juga telah habis, karena visa pelajar sudah tidak valid lagi sejak 21 Februari 2016. Saya tidak punya pilihan selain membeli tiket pesawat jurusan Sydney-Surabaya dan meringkasi barang-barang di apartemen, memeluk para teman dekat dan mengatakan selamat tinggal. Saya tidak punya pilihan selain membiarkan waktu bergulir sampai di hari saya berada di terminal internasional bandara Sydney, menarik koper-koper besar.

Intinya saya datang untuk kembali. Pulang ke tempat dimana semestinya saya menutup mata dan bersembunyi dibalik selimut tiap malam. Tertidur pulas, bermimpi tentang hal-hal random yang membuat kening berkerut, lalu terbangun pada dini hari. Tempat dimana saya berjalan sempoyongan ke kamar kecil sambil sayup-sayup mendengar adzan Subuh dari kejauhan. Tempat dimana pada pagi harinya mata ini terbuka pelan-pelan karena bisingnya kendaraan bermotor didepan rumah dan derap langkah si adik yang siap pergi ke sekolah.

Kembali pulang ke rumah semestinya terasa menyenangkan setelah perpisahan berbulan-bulan. Coba kukatakan padamu, melihat kembali wajah orangtua saat kamu siap memulai hari adalah hal yang tiada duanya. Raut muka apapun yang terlihat pada hari itu tidak menjadi masalah. Tak peduli saat itu sang Ayah terlihat senewen karena seseorang lupa mematikan power komputer atau sang Ibu yang tampaknya terhibur melihat lelucon konyol di layar handphonenya. Pemandangan itu seolah-olah menjadi tetesan air segar untuk dahagamu akan kebersamaan. Sungguh, yang paling penting adalah perasaan damai ketika tahu mereka hanya berjarak dua pintu dari kamu.

Makanan sederhana yang terletak di meja makan pun seakan-akan menjadi santapan spesial. Saya teringat betapa dahulu harus menahan lapar beberapa malam hanya karena kebosanan dan kemampuan memasak yang minim. Mie goreng hangat dengan telur ceplok memang sebuah mahakarya dapur bagi para mahasiswa perantau, namun saya sadar bahwa konsumsi berlebih dapat menimbulkan anomali pada tubuh. Pada akhirnya, saya pilih untuk membuat sesuatu apa adanya. Berbekal pengalaman melihat teman serumah yang terbiasa berhadapan dengan panci, saya mencoba meniru hal-hal yang mereka lakukan pada makanan.

Sayangnya, kebiasaan itu tidak berlangsung lama. Saat itu saya berpikir bahwa memasak adalah hal yang ribet dan memakan waktu, sehingga saya pilih cara praktis namun tetap sehat. Walaupun begitu, aku ingat masa-masa dimana masakan sendiri adalah pencapaian yang luar biasa; mengingat ketersediaan makanan yang selalu diusahakan ‘mbak’ di rumah Surabaya dulu. Saya juga teringat bagaimana makanan menjadi salah satu ungkapan bersyukur pada Kekuatan yang lebih besar disana. Untuk itu, saya selalu pastikan bahwa piring di siang hari itu bersih tak bersisa, tak peduli seberapa besar porsinya melebihi yang biasanya dikonsumsi. Akibatnya, bobot tubuh ini tak terkontrol karena saya juga malas berolahraga teratur.

Jalanan yang semerawut di kota asal pun tampak ‘menghibur’. Telah lama saya tidak melihat pengendara motor yang tiba-tiba menyelonong dari sebelah kiri dan melakukan belokan tajam didepan. Telah lama juga saya tidak mengerem mendadak karena ada seseorang yang muncul dari sisi jalan dan hendak menyeberang, padahal situasinya sedang mengerikan dengan laju kendaraan-kendaraan yang cepat. Telah lama saya tidak menahan nafas kesal karena hampir tidak ada satupun kendaraan yang mengalah dan memberi jalan, tidak peduli berapa lama lampu sein kendaraanmu berkedip. Semua itu saya anggap adalah peristiwa-peristiwa ironis namun khas dan menjadi sesuatu yang dimaklumi di Surabaya. Namun setelah saya dimanjakan dengan sistem transportasi Sydney yang lebih rapi, kejadian-kejadian tersebut seakan-akan membuka mata dan menantang saya untuk berbaur ke rutinitas jalanan tiap harinya.

Kembali ke rumah dengan selamat tentunya adalah harapan orang-orang terdekat kita di kota asal. Semua mengharapkan kita kembali ‘utuh’ setelah lama berpergian. Badan kita masih lengkap, jari jemari tangan masih bisa digunakan untuk mengetik kalimat “Pa, Ma, aku sudah sampai” saat pesawat landai, serta betis dan telapak kaki yang kuat untuk melangkah mantap menuju pintu keluar bandara. Setiap doa yang dilontarkan pun biasanya berhubungan dengan keadaan fisik, seperti mengharapkan pesawat terbang dengan aman dan lancar agar para penumpang sampai dengan selamat dan utuh. Namun, seringkah ada perhatian kepada sesuatu yang tak terlihat pada diri? Misalnya saja yang paling sederhana: perasaan?

Mereka bisa saja melihat kamu sebagai sesuatu yang utuh, tetapi mungkin mereka tidak melihat ada yang ‘hilang’ dari diri tersebut. Untuk hal ini, jelas saja orang lain tidak bisa menilai langsung pada saat ia tersenyum menyapa dan memelukmu erat. Mereka akan baru bisa menarik kesimpulan setelah interaksi yang cukup frequent dengan kamu.

Lalu, sebenarnya apa yang ‘hilang’ dari diri ini saat kembali ke rumah dari bepergian yang cukup lama? Saya sendiri belum terlalu yakin akan jawabannya. Namun pastinya, saya bukanlah diri saya yang dulu. Tulisan Haruki Murakami dalam “Sputnik Sweetheart” mungkin dapat mengilustrasikan keadaan tersebut. Bunyinya seperti ini, “I have this strange feeling that I'm not myself anymore. It's hard to put into words, but I guess it's like I was fast asleep, and someone came, disassembled me, and hurriedly put me back together again. That sort of feeling.”

Ya, sepertinya “disassembled” adalah kata yang tepat. Hidup di luar negeri ternyata memaksa saya untuk perlahan-lahan keluar dari zona nyaman, beradaptasi dengan kebudayaan baru dan meninggalkan beberapa paham yang kurasa menghambat kesejahteraan hidup. Setiap harinya seakan-akan harus dilewati dengan melakukan negosiasi pada diri saat itu. Contohnya, memasukkan perspektif baru kedalam kotak pemikiran dan membuang yang lama, atau menolaknya mentah-mentah namun ternyata proses adaptasi dengan lingkungan baru tidak dapat berjalan lancar.

Pemandangan dari jendela kamar di Sydney, Agustus 2015

Proses bongkar pasang pemikiran tersebut mengantarkan saya pada ide sebelumnya, yaitu pada perasaan ‘kehilangan’ saat kembali pulang ke kota asal. Kehilangan disini maksudnya adalah perasaan yang menganggap sebuah diri tidak ‘utuh’ karena sebagian diri tersebut ternyata masih mengendap di tempat yang awalnya baru bagimu, namun pelan-pelan menjadi ‘rumah kedua’. Karena disebut rumah kedua, maka kamu merasa bahagia berada disitu. Kamu merasa bisa menjadi diri kamu yang sesungguhnya, kamu merasa sangat nyaman. Akan tetapi sayangnya, tidak selamanya kamu bisa terus tinggal disana karena sebetulnya itu hanyalah rumah sekundermu. Badan dan perasaan kamu tidak dapat berbohong akan kententraman yang penuh dengan memori pada rumah pertama kamu, kota asal kamu. Seterlenanya apapun kamu, ada perasaan longing untuk kembali walaupun pada kenyataannya kamu berakhir dengan perasaan ‘tidak utuh’. Hati dan pikiranmu telah terbagi untuk dua tempat, yaitu kota asalmu dan kota baru yang telah kamu tinggali cukup lama di hari kemarin.

Hal itu bahkan ditangguhkan dengan adanya pertimbangan-pertimbangan yang muncul ketika kamu hendak memutuskan sesuatu. Kamu sadar bahwa perspektif baru yang didapatkan di kota baru tersebut telah menghasilkan diri yang baru juga, baik pada pemikiran dan sikap. Namun nyatanya, tidak seterusnya perspektif baru itu sesuai untuk diterapkan di kedua tempat, baik di kota asal ataupun di kota baru. Maka dari itu, kamu butuh untuk terus bernegosiasi dengan sekeliling dan menentukan sikap yang sesuai dengan batas-batas yang berlaku di tempat tersebut, walaupun itu dilakukan setelah melakukan bongkar pasang beberapa kali demi ‘bertahan hidup’.

Jadi, apa yang sebenarnya "hilang" hingga tidak merasa seutuh itu ketika kembali? Entahlah. Mungkin kebebasan berekspresi yang sebelumnya tidak ditemukan di rumah asal. Mungkin juga rasa berdaulat atas diri sendiri, kemampuan untuk menentukan sesuatu dan merencanakan kelangsungan hidup untuk satu hari dan seterusnya, atau bahkan hanya rasa overwhelmed akibat perbedaan budaya di masing-masing tempat. Mungkin.

***